
"Apa yang terjadi pada gadis itu, Dania? Apa dia ingin menjadi Dania yang kedua?" celetuk Erick sambil tersenyum tipis menatap Selly yang tengah berjalan di samping Dania. Sementara Max, Sang Pengawal pribadi Dania, menyusul di belakang kedua gadis itu dengan wajah sangarnya.
Dania menoleh ke arah Selly yang kini tampak malu-malu. Wajah gadis itu terlihat merona ketika berpapasan bersama Erick ketika memasuki gerbang yayasan tersebut.
"Tapi dia terlihat jauh lebih manis 'kan, Mas Erick?" sahut Dania sambil tersenyum.
Erick masih memperhatikan gadis itu dan perlahan menganggukkan kepalanya. "Ya, aku rasa ini jauh lebih baik dari pada saat kami pertama bertemu," jawab Erick.
Selly terdiam sejenak setelah mendengar kata-kata Erick barusan. Ia mulai berpikir apakah ia harus menjadi sosok Dania kedua demi lelaki itu. Ya, Erick memang tipe lelaki sederhana yang menyukai gadis sederhana pula, sama seperti Dania. Berbeda dengan dirinya yang selama ini hidup penuh dengan kemewahan.
"Oh ya, Dania! Aku ingin kamu kumpulkan seluruh muridmu dan ajak ke halaman depan. Ada yang ingin aku beritahukan kepada mereka semua," ucap Erick lagi sembari melirik Max yang masih memantau kebersamaan mereka dengan wajahnya yang terlihat mengerikan itu.
"Baik, Mas," sahut Dania.
Setelah mengucapkan hal itu, Erick pun segera pergi dan kembali ke ruangannya. Sementara Selly masih saja larut dalam pikirannya sendiri.
"Eh, Selly? Kamu kenapa? Masih memikirkan ucapan Mas Erick?" tanya Dania.
Lamunan Selly buyar dan gadis itu pun tersenyum kecut menatap Dania. "Apa aku harus menjadi sepertimu demi mendapatkan perhatiannya, Dania?"
__ADS_1
"Kalau menurutku jangan, Selly. Lebih baik menjadi dirimu sendiri dari pada kamu harus menjadi orang lain demi mendapatkan perhatiannya. Buktikan padanya bahwa kamu juga memiliki keistimewaan yang berbeda dari gadis manapun," tutur Dania.
"Begitu, ya?" ucap Selly yang tetap merasa tidak yakin bahwa dirinya mampu meluluhkan hati seorang Erick.
"Ya. Yakinlah pada dirimu sendiri." Dania membelai lembut pipi Selly kemudian tersenyum. "Ehm, sebaiknya aku masuk. Aku harus segera mengumpulkan anak-anak ke halaman depan seperti yang diperintahkan oleh Mas Erick," lanjut Dania yang kemudian segera masuk ke dalam ruangan kelasnya.
Sementara Selly memilih menunggu di luar ruangan dan duduk di salah satu kursi yang menganggur di sana. Max yang sejak tadi mengikuti Dania, juga ingin menyusul Dania hingga ke dalam kelas, tetapi Selly melarangnya.
"Hei, Bung! Jangan masuk! Duduklah di sini bersamaku. Kalau kamu masuk ke dalam sana, bukannya belajar dengan tenang, mereka malah akan ketakutan dan tidak bisa berkonsentrasi karena melihat wajahmu itu," ucap Selly.
Max yang irit bicara itu menekuk wajahnya sambil menatap Selly. Walaupun begitu, akhirnya lelaki itu pun menurut dan duduk di samping Selly dengan bibir yang masih terkunci rapat.
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Dania sembari melenggang menuju mejanya.
"Oh, ya. Kak Erick minta kalian semua untuk berkumpul di halaman depan. Ada sesuatu yang penting, yang ingin Kak Erick kasih tahu."
"Baik, Kak!"
Para murid Dania yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari tersebut, bergegas keluar dan berlari menuju halaman. Di mana teman-temannya yang lain juga berkumpul di sana. Setelah meletakkan tasnya ke atas meja, Dania pun menyusul ke halaman bersama Selly dan juga Max yang tidak ingin berada jauh-jauh dari Dania.
__ADS_1
Erick tersenyum sembari menaiki sebuah podium kecil yang memang biasa ia gunakan ketika ada pengumuman sama seperti hari ini.
"Memangnya ada apa sih, Dania? Sepertinya penting sekali," ucap Selly sambil terus menatap Erick yang kini berdiri di atas podium sambil tersenyum manis menatap seluruh anak didiknya.
"Entahlah, kita dengarkan saja apa yang ingin Mas Erick sampaikan," sahut Dania.
"Selamat pagi anak-anak!" sapa Erick dengan penuh semangat.
"Pagi, Kak Erick!"
"Kakak sengaja mengumpulkan kalian di sini untuk memberitahukan bahwa besok adalah hari jadinya Yayasan Cahaya Asa. Dan untuk merayakannya, Kakak ingin mengadakan berbagai lomba sederhana yang bisa diikuti oleh para pengajar maupun peserta didik. Selain itu, Kakak juga berencana mengadakan malam berkemah di sini! Siapa setuju angkat tangan!" tutur Erick dengan penuh semangat.
Sontak saja semua orang yang ada di tempat itu mengangkat tangannya sambil bersuka cita, tak terkecuali Selly. Gadis itu begitu bersemangat padahal dia bukanlah bagian dari yayasan tersebut. Sementara Dania hanya diam dengan wajah yang terlihat bingung.
"Kamu kenapa, Dania? Kamu tidak setuju ya dengan acara yang diusulkan oleh Kak Erick?" tanya Selly yang ternyata menyadari bagaimana ekspresi wajah Dania saat itu.
Dania menghela napas berat. "Ini bukan tentang aku, Selly. Tapi tentang Kakak sepupumu itu! Apa kamu yakin dia akan mengijinkan aku ikut berkemah di sini bersama yang lainnya?"
Selly terkekeh pelan. "Paling-paling dia bakal ikut berkemah juga. Aku yakin itu," jawab Selly yakin.
__ADS_1
"Itulah yang saat ini sedang aku pikirkan," lanjut Dania.
***