Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 81


__ADS_3

Sementara itu di Villa milik Samuel.


Setelah pergulatan panasnya bersama Adelia selesai, Samuel pun tertidur dengan lelapnya di samping wanita itu. Sejak tadi Adelia hanya berpura-pura tidur dan dengan sekuat tenaga ia mencoba menahan rasa kantuknya.


Saat ia sadar bahwa Samuel sudah benar-benar terlelap, Adelia pun perlahan bangkit dari posisinya. Ini saatnya Adelia kembali mengatur strategi untuk menyelamatkan dirinya dari cengkeraman lelaki itu.


Adelia mencari-cari ponsel miliknya yang sengaja di sembunyikan oleh Samuel beberapa hari yang lalu agar Adelia tidak bisa menghubungi siapapun. Namun, sayang ia tidak berhasil menemukannya.


"Ah! Di mana Sam menyembunyikan ponselku!" gumam Adelia dengan kesal. Ia terus menggeledah pakaian milik Samuel yang berserak di lantai kamar untuk mencari keberadaan ponselnya.


Bukannya menemukan ponsel miliknya, Adelia malah menemukan ponsel milik Samuel di salah satu saku jaket milik lelaki itu. Adelia tidak punya pilihan dan akhirnya mengambil ponsel tersebut.


"Apa ponsel milik Daniel masih aktif, ya? Jika nomor ponsel Daniel sudah tidak aktif, itu artinya satu-satunya harapanku hanyalah Ibu dan semoga saja Ibu tidak mengganti nomor ponselnya," gumam Adelia.


Adelia membawa ponsel milik Samuel masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam. Ia duduk di atas toilet sambil mencoba membuka kode layar di ponsel milik Samuel. Namun, Adelia tampak kesusahan karena kodenya sudah diubah oleh lelaki itu.


"Ah, sialan! Kenapa diubah, sih! Merepotkan saja," gerutu Adelia sambil menekuk wajahnya.


Sudah bermacam-macam kombinasi angka yang ia tekan di sana, tetapi layar ponsel milik Samuel tetap tidak bisa dibuka.


"Konsentrasi, Adelia! Coba ingat-ingat angka-angka penting yang ada di dalam hidup lelaki itu. Akh! Tapi apa?!"


Tiba-tiba saja terlintas di kepala Adelia tanggal lahir lelaki itu. "Apa mungkin kodenya tanggal lahir lelaki itu? Ah, lebay sekali jadi cowok!" gumamnya.

__ADS_1


"Tapi tidak ada salahnya dicoba. Siapa tahu benar," lanjutnya sembari menekan kombinasi angka yang menurut Adelia cocok dengan hari kelahiran Samuel.


Setelan menekan kombinasi angka tersebut, tiba-tiba tersungging sebuah senyuman lebar di wajah cantik wanita itu.


"Yess! Berhasil," seru Adelia dengan wajah semringah. Hampir saja wanita itu melompat kegirangan jika seandainya ia tidak ingat bahwa saat ini lelaki kejam itu tengah tertidur nyenyak.


"Baiklah! Sekarang kita coba menghubungi nomor ponsel milik Daniel dan semoga nomornya masih aktif!"


Adelia menekan nomor ponsel milik Daniel kemudian meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya. Alih-alih terhubung ke nomor ponsel milik Daniel, panggilan Adelia malah terhubung ke operator yang mengatakan bahwa nomor tersebut sudah tidak aktif lagi.


Adelia kesal bukan main. Ia kecewa dan marah karena Daniel sudah mengganti nomor ponselnya. "Ah, Daniel! Kenapa nomornya pake diganti segala, sih?!"


Sekarang harapan Adelia satu-satunya hanya terletak pada Ibunya. Ia berharap wanita yang sudah melahirkannya itu masih menggunakan nomornya yang terdahulu. Jika ternyata Bu Ida mengganti nomor ponselnya, itu artinya habis sudah riwayat Adelia.


Tut ... tut ... tut ....


"Ah, syukurlah!" Adelia merasa sedikit lega karena nomor Bu Ida masih aktif. "Cepat, Bu! Angkat!" kesal Adelia yang sudah tidak sabaran ingin bicara dengan wanita itu.


Di kediaman baru Pak Adi dan Bu Ida.


"Kita beruntung ya, Bu. Ternyata Dania tidak mengadu pada Tuan Daniel soal perlakuan Ibu kepadanya. Jika seandainya Dania mengadu, mungkin kita sudah diusir dari rumah ini," ucap Pak Adi sambil menyeruput kopi hitam di ruang utama.


Bu Ida tersenyum sinis. "Tentu saja dia tidak berani. Dia pasti takut jika suatu saat nanti Adelia kembali, maka ia pun akan segera tersingkir dari kehidupan Tuan Daniel. Jika sudah begitu, dia pasti akan kembali kepada kita, 'kan?" sahut Bu Ida dengan keyakinan penuh.

__ADS_1


Tepat di saat itu ponsel milik Bu Ida berdering. Wanita itu bergegas meraih benda pipih tersebut dan mengecek siapa yang mencoba menghubungi saat itu.


"Nomor siapa ini?" gumam Bu Ida. Ia menautkan kedua alisnya ketika menatap layar ponsel tersebut.


"Siapa, Bu?" tanya Pak Adi.


"Entahlah. Nomornya asing," jawab Bu Ida.


Karena penasaran yang amat sangat, Bu Ida memutuskan untuk menerima panggilan dari nomor tersebut.


"Hallo, dengan siapa ini?" tanya Bu Ida dengan sangat hati-hati.


"Bu! Ibu, ini aku, Adelia!"


Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita muda yang selama ini sangat Bu Ida rindukan. Mata Bu Ida mendadak berkaca-kaca setelah mengetahui siapa yang sedang menghubunginya.


"A-Adelia! Sayang, kamu di mana, Nak? Ibu sangat merindukanmu," sahut Bu Ida sambil menitikkan air matanya.


Bukan hanya Bu Ida. Pak Adi pun kaget setelah mendengar istrinya itu menyebutkan nama anak perempuannya. Pak Adi yang tadinya asik menyeruput kopi hitam kesukaannya, tersentak kaget. Kopi yang sudah masuk ke dalam mulutnya akhirnya menyembur keluar dan lelaki paruh baya tersebut tampak terbatuk-batuk.


"A-Adelia?! Itu Adelia?" tanya Pak Adi penasaran.


Bu Ida mengangguk dengan cepat sambil mengusap air matanya. "Ya, Pak! Ini Adelia, putri kesayangan kita!" jawabnya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2