Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 80


__ADS_3

Malam pun tiba, di mana Yayasan Cahaya Asa tampak ramai dengan keberadaan anak-anak dsn tim pengajar yang sedang melakukan perkemahan di halaman yang cukup luas tersebut.


Di antara deretan tenda-tenda kecil yang berdiri di halaman tersebut, tampak sebuah tenda yang berukuran sangat besar, tenda yang paling mencolok dibandingkan tenda-tenda lainnya.


"Bagaimana, Dania sayang? Kamu menyukainya, kan?" Daniel memperlihatkan hasil kerja anak buahnya kepada Dania.


Namun, ekspresi yang ditampakkan oleh Dania berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh Daniel. Daniel pikir Dania akan senang dan berterima kasih atas apa yang ia lakukan. Namun, ternyata kenyataannya berbeda.


Dania menepuk jidatnya pelan dan ia tampak syok melihat isi tenda mewah milik Daniel. "Sudah kuduga!" gumam Dania.


"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" Daniel begitu terkejut melihat ekspresi Dania.


"Bukan tidak suka, Mas Daniel sayang. Hanya saja ini terlalu berlebihan," jawab Dania.


Bagaimana tidak terlalu berlebihan, di dalam tenda milik Daniel dilengkapi dengan kipas angin, kasur empuk lengkap dengan kelambu tile yang cantik, bak kelambu sultan. Pokoknya isi tenda milik Dania benar-benar tidak biasa. Tidak cocok disebut tenda untuk orang camping, melainkan tenda para sultan.


Anak-anak penasaran dan ingin melihat isi tenda milik Sultan tersebut. Mereka berbondong-bondong dan datang mendekat kemudian berdiri tak jauh dari tenda. Namun, Max dan pengawal lainnya melarang mereka untuk mendekat apalagi mengintip ke dalam tenda tenda tersebut.


Sementara itu di kejauhan. Di sebuah tenda biasa, tampak sosok Erick sedang duduk di dalamnya.


Erick menatap tenda milik Dania dan Daniel sambil mencebikkan bibirnya. Tepat di saat itu Selly datang dengan membawa dua gelas teh hangat untuknya dan untuk gadis itu sendiri.

__ADS_1


"Teh hangat untukmu, Kak Erick. Sebagai permintaan maafku karena sudah membuatmu kecewa di perlombaan itu," ucap Selly.


Erick melirik ke arah gadis itu sambil menyunggingkan senyuman tipis. Kemudian meraih teh hangat tersebut dari tangan Selly. "Kenapa kamu malah ke sini? Apa kamu tidak ingin bergabung bersama pasangan itu?" sahut Daniel sembari memonyongkan bibirnya menunjuk ke arah tenda milik Dania dan Daniel.


"Ngapain? Paling-paling aku bakal jadi obat nyamuk di antara mereka. Apa Kak Erick tahu, mereka kalau sudah bersama, hmm ...." Selly menghentikan perkataannya sambil membuang muka.


Erick kembali melirik wajah Selly yang kini ikut duduk di sampingnya. "Kenapa memang?"


"Dunia serasa milik mereka berdua, Kak. Dan kita-kita ini cuman ngontrak. Coba saja kalau Kak Erick tidak percaya, temui saat mereka sedang berdua. Jangankan kehadiran Mas Erick, hujan, badai, angin ribut pun tidak bakal digubris oleh mereka. Semuanya dilibas!" sahut Selly.


Erick terkekeh pelan mendengar penuturan gadis itu. "Kalau benar begitu, lalu kenapa kamu masih saja suka membututi kemana mereka pergi. Apa kamu tidak kapok menjadi seseorang yang tak dianggap di sisi mereka?"


Selly tertawa pelan. "Biar bagaimana pun Kak Daniel adalah Kakakku, Kak. Aku sayang dia walaupun dia sangat menyebalkan."


"Aku adik yang baik, 'kan?" ucap Selly sembari menyeruput teh hangat miliknya.


"Bukan itu. Maksudku benar bahwa Kakakmu itu sangat menyebalkan," sahut Erick yang juga ikut menyeruput teh hangatnya.


"Ppffttt!" Jawaban Erick barusan membuat teh hangat yang sudah masuk ke mulut Selly akhirnya menyembur keluar.


"Ah, Kak Erick! Tidak lucu." Selly pun menekuk wajahnya.

__ADS_1


"Ya, sudah. Sekarang sudah saatnya menghidupkan api unggun." Erick melirik jam tangannya. "Aku harus segera mengumpulkan anak-anak." Erick melenggang pergi setelah menyerahkan gelas kosongnya kepada Selly.


Selly tidak ingin ketinggalan, ia pun segera menyusul dan mengikuti langkah Erick dari belakang. Setibanya di tengah-tengah lapangan, Erick pun segera memanggil anak-anak didiknya.


"Anak-anak! Sekarang sudah saatnya kita nyalakan api unggunnya!"


Anak-anak pun segera berlarian. Mereka terlihat begitu antusias ingin melihat api unggun buatan mereka untuk pertama kalinya. Bukan hanya anak-anak, tim pengajar pun tidak mau kalah. Mereka bergegas menuju halaman dan bergabung di sana.


Sementara itu di dalam tenda Sultan.


"Kemarilah, Nyonya Dirgantara!" goda Daniel kepada Dania yang masih berdiri di depan kasur dengan wajah heran.


Sementara lelaki itu malah asik berselonjor di atas kasur tersebut layaknya orang sedang menikmati suasana di pantai. Daniel dengan jahilnya, menenteng selembar baju dinas milik Dania yang memang sengaja ia bawa. Dress tipis dan menerawang itu di kibas-kibaskannya sambil tersenyum nakal.


"Mas Daniel, masa kita masih berdinas juga di tempat seperti ini? Bagaimana jika anak-anak melihatnya?" protes Dania.


"Kamu tenang saja. Para pengawal sudah siap siaga di depan tenda dan mereka tidak akan membiarkan siapapun mendekat," jawab Daniel yakin.


"Dinasnya nanti saja ya, Mas. Setelah semuanya tidur. Sekarang saatnya kita buat api unggun dan aku tidak ingin ketinggalan keseruannya, Mas."


Setelah mengatakan hal itu, Dania segera berlari keluar tenda. Sementara Daniel hanya bisa membuang napas berat sambil menatap Dania yang kini sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2