Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Rumah Baru Pak Adi 2


__ADS_3

"Aku harap ini benar-benar penting karena jika yang kamu bicarakan tidaklah penting maka lebih baik aku akan kembali ke dapur karena pekerjaanku masih banyak," sahut Bu Ida dengan wajah malas menatap Dania.


"Aku rasa ini sangat penting dan aku berjanji tidak akan menyita waktu kalian," balas Dania.


Pak Adi mengelus punggung Bu Ida dan mencoba membujuk istrinya itu. "Sudahlah, turuti saja apa yang Dania inginkan. Siapa tahu setelah ini Tuan Daniel memberikan kita hadiah yang jauh lebih besar lagi? Sekarang 'kan Dania sudah menjadi kesayangannya Tuan Daniel," bisik Pak Adi di samping telinga Bu Ida.


Wajah Bu Ida semakin menekuk. Apa lagi saat ia mendengar ucapan Pak Adi yang sepertinya sangat bangga karena sekarang Dania sudah menjadi kesayangan lelaki kaya raya tersebut.


"Hush! Apa Ayah sudah lupa?! Dania itu hanya seorang pengganti! Dan yang seharusnya mendapatkan semua kemewahan itu adalah Adelia! Bukannya Dania," geram Bu Ida.


"Iya-iya, baiklah, Ayah salah. Tapi, untuk kali ini dengarkan Dania dulu, ya?" bujuk lelaki itu lagi.


Bu Ida pun akhirnya menuruti permintaan Pak Adi. Walaupun terlihat jelas di raut wajah wanita paruh baya itu, bahwa ia benar-benar terpaksa melakukannya.


"Baiklah, sekarang katakan. Apa yang sebenarnya ingin kamu bicarakan kepadaku?" ucap Bu Ida kepada Dania.


Dania menarik napas dalam kemudian kembali menghembuskannya dengan perlahan.

__ADS_1


"Aku ingin bertanya soal Ibuku, Bu Riska."


Dania mulai membuka suara dan kini tatapannya tertuju pada pasangan yang sedang duduk di hadapannya. Tampak jelas dari raut wajah Bu Ida, bahwa wanita paruh baya itu tidak tertarik dengan pembicaraan mereka kali ini. Sementara reaksi Pak Adi masih tampak datar.


"Itu lagi, itu lagi! Bukankah semuanya sudah jelas bahwa selama ini wanita itu tidak pernah mempedulikan dirimu? Buktinya, dia tidak pernah sekalipun memikirkanmu. Jangankan memikirkanmu, ia bahkan tidak pernah sekalipun bertanya tentangmu," tutur Bu Ida dengan wajah malas menatap Dania.


"Anda bohong, Bu Ida! Bukankah selama ini Ibuku sering mengirimkan berbagai hadiah ulang tahun kepadaku? Lalu kenapa kalian mengembalikannya? Bukankah itu milikku?" kesal Dania.


Pak Adi dan Bu Ida saling tatap. Mereka bingung dari mana Dania tahu soal hadiah-hadiah yang selama ini terus mereka tolak dan mereka kembalikan kepada Sang Pengirim.


"Kata siapa? Itu sama sekali tidak benar!" elak Bu Ida sambil membuang muka. Ia tidak ingin membalas tatapan Dania. Ia takut ketahuan bahwa ia tengah berbohong kepada gadis itu.


Pak Adi kesal karena Dania sudah mulai berani berontak kepada istrinya. "Dania, jaga ucapanmu! Apa kamu lupa bahwa selama ini kamu dibesarkan olehnya."


Bu Ida merasa senang karena ternyata Pak Adi masih berada di pihaknya. Wanita itu bangkit dari posisi duduknya dan mulai mendekati Dania.


"Sekarang kamu sudah mulai belagu ya, Dania! Mentang-mentang sekarang kamu sudah menjadi istri sahnya Tuan Daniel. Apa kamu sudah lupa, kamu itu hanya seorang pengganti! Jika nanti Adelia kembali, kamu pasti akan tersingkir dari sisi lelaki itu!" sambung Bu Ida sambil tersenyum sinis.

__ADS_1


"Kamu itu bak kacang lupa kulitnya. Seandainya dulu aku tidak mengizinkanmu tinggal bersama kami, kamu itu pasti sudah menjadi gelandangan" tegas Bu Ida lagi.


Dania pun ikut tersenyum sinis. "Bercerminlah dulu sebelum berkata seperti itu, Bu Ida. Apa Anda sudah lupa siapa Anda yang sebenarnya? Atau perlu aku ingatkan lagi bahwa Anda adalah seorang pelakor yang sudah menghancurkan rumah tangga Ibuku!" kesal Dania dengan mata berkaca-kaca.


Karena sudah tidak dapat menahan rasa kesalnya, Bu Ida melayangkan tangannya ke udara. Namun, ketika tangan wanita paruh baya itu ingin meluncur menuju pipi mulus Dania, tiba-tiba seseorang menahannya.


Sontak saja Bu Ida dan Pak Adi menoleh ke arah seseorang itu. Dan ternyata orang itu adalah orang suruhan Daniel yang kini ditugaskan untuk menjadi pengawal pribadinya Dania.


"Jaga tangan Anda, Bu. Jangan sampai tangan ini terlepas dari tubuh Anda karena sudah berani menyentuh Nona kami," tegas lelaki sangar dengan tubuh besar tersebut.


Tatapan lelaki yang bernama Max tersebut terlihat begitu menakutkan dan ternyata ancaman Max barusan mampu membuat Bu Ida ketakutan setengah mati. Tubuh wanita itu tampak bergetar hebat dan setelah Max melepaskan pegangan tangannya, Bu Ida pun segera bersembunyi di balik punggung Pak Adi.


"Maafkan istri saya, Tuan. Saya berjanji bahwa dia tidak akan pernah melakukan hal itu lagi," ucap Pak Adi sambil tersenyum kecut.


"Sebaiknya Anda kembali, Nona. Tuan Daniel pasti sedang mencemaskan Anda," ajak Max yang masih menatap kesal ke arah pasangan itu.


Dania pun mengangguk. "Baiklah."

__ADS_1


...***...


__ADS_2