
"Sayang, Sayang!" panggil Dania sambil menggoyang-goyangkan tubuh Daniel yang batu saja terlelap di sampingnya.
Daniel yang baru saja masuk ke alam mimpinya, tiba-tiba dikejutkan oleh Dania dan mendadak kepalanya pun menjadi sakit. Ingin marah, tetapi ia teringat akan pesan tante Riska soal stok kesabaran ekstra dalam menghadapi istri cantiknya itu.
Daniel menghembuskan napas berat. "Ada apa lagi, Sayang? Kenapa kamu masih belum tidur? Coba lihat, sudah pukul berapa sekarang," sahut Daniel sembari menunjuk ke arah jam dinding yang menggantung di dinding ruangan.
Daniel bangkit dengan mata yang masih terlihat sangat berat. Ia duduk di samping Dania kemudian bersandar di sandaran tempat tidur. Dania mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi kepada Daniel. Ia mulai menyandarkan kepala di dada lelaki itu kemudian memeluknya dengan erat.
"Aku tidak bisa tidur. Tolong temani aku, Mas. Aku takut sendirian di kamar ini," ucap Dania.
"Loh, kenapa takut. Bukannya aku masih ada di sini?" Daniel mencoba meyakinkan.
"Iya, memang benar. Tapi, Mas itu tidur dan aku sendirian. Tidak ada teman yang bisa di ajak bicara!" sahut Dania yang mulai kesal.
"Ok, ok, baiklah kalau begitu." Daniel kembali menguap. Saat itu ia benar-benar sangat mengantuk. Bagaimana tidak, waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi, tetapi Dania malah memintanya untuk terus berjaga.
Mata Daniel merem-melek hingga akhirnya mata lelaki itu kembali terpejam. Sementara Dania masih bersandar di dadanya dan ia tidak menyadari bahwa Daniel kembali terlelap.
"Sayang, mana yang lebih banyak, jumlah tamu undangan di saat kita menikah atau tamu undangan untuk pesta syukuran besok?" tanya Dania kepada Daniel yang kembali larut ke alam mimpinya.
Namun, tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Daniel. Yang terdengar malah suara napasnya yang teratur. Dania sontak mendongak kemudian memperhatikan wajah suaminya itu. Ia kembali menekuk wajahnya setelah tahu bahwa Daniel kembali tertidur.
"Mas Daniel! Tuh 'kan Mas tidur lagi," kesal Dania. Dania refleks memukul tubuh kekar itu hingga membangunkannya dari tidur.
"Ah, maafkan aku, Sayang! Aku ketiduran lagi. Baik, kali ini aku berjanji tidak akan tidur lagi," sahut Daniel.
"Sebentar." Daniel melerai pelukannya bersama Dania kemudian menghampiri nakas. Ia meraih sebuah selotip kemudian memotongnya sekitar 1,5 inchi sebanyak dua buah.
__ADS_1
Dania memperhatikan apa yang dilakukan oleh Daniel dengan seksama. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu dengan menggunakan dua buah selotip tersebut.
"Untuk apa selotip itu, Mas?" tanya Dania.
"Untuk ini." Daniel tersenyum seraya merekatkan selotip tersebut ke kelopak matanya. "Lihat! Dengan begini mataku tidak akan terpejam lagi."
Dania terkekeh pelan sambil bertepuk tangan. "Ide yang sangat brilian! Tapi apa Mas yakin dengan menggunakan itu, Mas tidak akan tertidur lagi?" tanya Dania.
"Ya, aku sangat yakin!" jawab Daniel mantap.
Beberapa menit kemudian.
Grookkk ... grroookkk ....
Terdengar suara Daniel yang mendengkur di samping telinga Dania. Dania semakin kesal saja. Ia menggigit lengan kekar lelaki itu sambil menitikkan air matanya.
"Katanya tidak akan tidur!" ucap Dania dengan deraian air mata.
"Ya, Tuhan! Sabarrrr," ucap Daniel sambil mengelus dadanya.
Ia mencoba tersenyum dan meraih tubuh Dania ke dalam pelukannya. "Sekarang bagaimana jika kita coba membujuk matamu untuk tidur, bagaimana?"
"Bagaimana caranya?"
"Berbaringlah bersamaku kemudian coba bayangkan ada ribuan domba yang sedang berlarian di dalam kepalamu ini," ucap Daniel sembari mengajak Dania berbaring kemudian mengacak puncak kepala istrinya itu dengan lembut. Saat itu mereka berbaring dengan posisi saling berpelukan.
"Domba? Kenapa mesti domba, Mas? Aku tidak mau. Mereka 'kan bau," sahut Dania sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Terus kamu maunya apa?" sahut Daniel sambil menahan rasa kantuknya yang amat sangat.
"Aku maunya anak kucing yang gemuk-gemuk."
"Baiklah kalau begitu. Sekarang bayangkan ada ribuan anak kucing yang gemuk-gemuk sedang berlarian di sini." Daniel menunjuk ke kening Dania.
"Lalu?"
"Lalu hitunglah anak kucing itu secara berurutan. Satu-persatu hingga semuanya habis. Mengerti?" Daniel tersenyum dan ia berharap cara itu bisa membuat Dania tertidur.
"Baiklah, akan ku coba."
"Ya, semoga berhasil." Daniel memejamkan matanya kembali dan mencoba larut ke alam mimpinya lagi.
Dania memejamkan matanya dan mencoba membayangkan ada ribuan anak kucing yang gemuk-gemuk sedang berlarian di dalam pikirannya.
"Satu ekor anak kucing gemuk ... dua ekor anak kucing gemuk ... tiga ekor anak kucing gemuk ...." Dania terus menghitung hingga tak terasa ia menghitung hingga seribu ekor anak kucing gemuk.
Bukannya tertidur, mata Dania malah semakin terang benderang. Karena cara itu tidak juga berhasil, maka Dania pun kembali membangunkan Daniel yang tertidur.
"Mas, bangun!"
"Ya, Tuhan!" Daniel memijit kepalanya yang sakit. Ternyata Dania masih belum tertidur juga saat itu.
"Anak kucing itu sudah habis, Mas. Aku sampai ileran menghitung mereka dan merekapun tampak pusing saat aku hitung. Tapi, aku masih tetap terjaga!" kesal Dania.
"Astaga," keluh Daniel.
__ADS_1
...***...