
"Ayah, tolong bantu Ibu. Adelia butuh bantuan dan Ibu yakin dia sedang dalam masalah besar," ucap Bu Ida dengan mata sembab menatap Pak Adi yang sedang duduk di hadapannya.
"Memangnya Adelia kenapa, Bu?" tanya Pak Adi sembari mengelus punggung Bu Ida agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
"Dia tidak sempat bilang, Ayah. Ibu yakin saat ini dia dalam bahaya. Adelia bilang kepada Ibu bahwa dia butuh bantuan Tuan Daniel. Kita harus menemui Tuan Daniel, Ayah. Tolonglah bantu Ibu," jawab Bu Ida yang sekarang tampak semakin cemas.
"Baiklah, baiklah! Sebaiknya kita temui Tuan Daniel sekarang," ucap Pak Adi.
Pak Adi membantu Bu Ida bangkit dari posisi duduknya kemudian menuntun istrinya itu ke halaman depan. Di mana mobil barunya terparkir rapi.
"Ayo, cepat masuk, Bu."
Pak Adi membuka pintu mobil tersebut kemudian menggiring wanita itu untuk duduk di jok depan bersamanya.
"Cepat, Ayah! Ibu tidak ingin terjadi sesuatu kepada Adelia," ucap Bu Ida dengan cemas.
"Iya, iya! Baiklah."
Pak Adi pun bergegas memacu mobilnya menuju kediaman Tuan Daniel. Di sepanjang perjalanan, Bu Ida terus saja bergumam dan sesekali wanita itu berdecak sebal karena menurutnya Pak Adi begitu lamban dalam memacu laju mobil baru tersebut.
__ADS_1
"Bisa lebih laju lagi tidak, Yah? Ayah ini lamban sekali!"
Pak Adi menggelengkan kepalanya. "Ck! Ini juga sudah cepat, Bu. Apa Ibu tidak lihat kecepatan Ayah saat ini? Ini sudah jauh-jauh lebih cepat dari pada biasanya!" balas Pak Adi.
"Hhhh, alasan saja!" Bu Ida memutarkan bola matanya.
"Heh, apa Ibu tidak berpikir! Bagaimana jika seandainya terjadi apa-apa kepada kita? Kemudian kita kecelakaan dan mati di sini? Lalu siapa yang akan menyelamatkan Adelia di sana?" kesal Pak Adi yang tidak mau kalah.
"Masih ada Tuan Daniel. Ibu yakin Tuan Daniel pasti bersedia menyelamatkan Adelia. Sebab Tuan Daniel 'kan sangat mencintai Adelia," jawab Bu Ida dengan sangat yakin.
Pak Adi tidak dapat bicara apapun lagi. Ia hanya bisa menggelengkan kepala sambil terus fokus pada kemudinya. Setelah beberapa saat kemudian, mobil yang Pak Adi kemudikan tiba di depan gerbang megah milik Tuan Daniel.
Kedatangan lelaki itu di sambut oleh beberapa penjaga keamanan yang berjaga di tempat itu. Setelah mengetahui bahwa tamu mereka saat ini adalah keluarga dari istri kesayangan Tuan Daniel, para penjaga keamanan tersebut segera membuka gerbang dan mempersilakan Pak Adi untuk masuk.
"Terima kasih."
Pak Adi memarkirkan mobilnya di salah satu sudut halaman nan luas tersebut. Sementara satu dari penjaga yang bertugas di depan pagar, segera menemui Tuan Daniel untuk menyampaikan soal kedatangan Pak Adi dan Bu Ida.
"Ada apa?" tanya Daniel yang sedang berada di ruang kerjanya bersama Roy.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan Daniel. Di luar ada Pak Adi dan Bu Ida yang ingin bertemu dengan Anda," jawab Penjaga Keamanan tersebut.
Daniel sempat melirik Roy yang tengah berdiri di sampingnya sambil tersenyum tipis. "Ternyata mereka tidak punya urat malu, Roy," ucapnya.
"Baiklah, suruh dia masuk," titah Daniel kepada penjaga keamanan tersebut.
"Baik, Tuan."
Penjaga keamanan itu pun segera keluar dan kembali menemui Pak Adi dan Bu Ida yang sedang menunggu di ruang depan. Pak Adi dan Bu Ida sempat berpapasan dengan Max, pengawal Dania yang berwajah sangar.
Max terus menatap Bu Ida dengan sorot mata tajam. Dan dari tatapannya tersebut terlihat jelas bahwa Max masih sangat kesal dengan wanita paruh baya itu. Max bahkan sempat menunjuk Bu Ida dengan dua jarinya sambil bergumam. "Aku akan terus mengawasimu!"
"Ayah!" Bu Ida memeluk erat tangan Pak Adi dengan tubuh gemeter karena saat itu ia sangat takut saat bersitatap mata dengan Max.
"Tenanglah, Bu," sahut Pak Adi yang mencoba menenangkan Bu Ida.
"Mari, Pak Adi. Ikuti saya," titah Penjaga Keamanan yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
"Baik."
__ADS_1
Bu Ida dan Pak Adi pun bergegas mengikuti Penjaga Keamanan tersebut menuju ruang kerja Daniel.
...***...