Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 105


__ADS_3

Di kediaman Pak Adi dan Bu Ida.


Pagi itu, keluarga Pak Adi sedang menikmati sarapan pagi mereka. Berbagai hidangan tersaji di atas meja. Ada nasi goreng, telur dadar, ayam goreng dan sebagainya.


"Kalian sudah dengar, belum? Katanya Tuan Daniel akan mengadakan acara syukuran besar-besaran di kediamannya untuk menyambut kehamilan Dania," ucap Pak Adi sambil menyuap sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Bu Ida yang saat itu ingin mengisi piringnya yang kosong dengan nasi serta lauk pauknya, mendadak terhenti. Wanita itu menautkan kedua alisnya dengan wajah heran.


"Dania hamil? Bagaimana bisa?!" pekik Bu Ida terheran-heran.


Bukan hanya Bu Ida, Adelia yang juga sedang asik menguyah makanannya pun tiba-tiba tersedak setelah mendengar ucapan Ayah tirinya itu.


Uhuk-uhuk!


Adelia terbatuk-batuk dan beberapa kali menepuk dadanya agar tersedak nya cepat reda. Bu Ida segera menghampiri Adelia kemudian menyerahkan segelas minuman sembari menepuk pelan punggung anak perempuannya itu.


"Ish, Adelia! Makannya pelan-pelan, donk!"

__ADS_1


Dengan cepat Adelia menyambar minuman itu kemudian menyeruputnya. Hingga akhirnya ia pun berhenti terbatuk-batuk. Bu Ida lega dan kembali ke tempat duduknya.


"Aku kaget, Bu, ketika mendengar Dania hamil. Memang benar ya, Dania sedang hamil?" tanya Adelia dengan alis yang berkerut menatap Pak Adi.


Pak Adi mengangguk pelan. "Ya, menurut yang kudengar dari salah satu anak buah Tuan Roy sih begitu. Tapi Ayah belum percaya sebelum mendapatkan kabar itu langsung dari pihak Daniel dan Dania," jawab Pak Adi.


"Ah, tidak mungkin! Mana mungkin Dania berhasil mengandung anaknya Daniel," celetuk Bu Ida sambil mencebikkan bibirnya.


"Loh, kenapa tidak bisa? Mereka 'kan suami istri. Lagi pula Dania tidak mandul," jawab Pak Adi dengan wajah sedikit kesal menatap Bu Ida.


"Bukan itu maksudku, Yah! Dania tidak mungkin hamil karena Daniel 'kan tidak mencintai Dania. Dania hanya pengganti Adelia dan Daniel sangat mencintai Adelia," tutur Bu Ida sambil mengelus lembut pundak Adelia yang duduk tak jauh darinya.


Di tengah perbincangan Pak Adi dan Bu Ida yang terdengar mengesalkan di telinga Adelia, tiba-tiba Adelia merasakan mual yang amat sangat di perutnya. Ia bangkit dari posisinya kemudian berlari menuju kamar mandi.


Sontak Pak Adi dan Bu Ida menghentikan pembicaraan mereka. Untuk sejenak, pasangan itu saling tatap dengan wajah heran. Bu Ida yang begitu mengkhawatirkan kondisi Adelia, segera menyusulnya ke kamar mandi.


Bu Ida tersentak kaget saat melihat Adelia terbongkok di depan westafel sambil memuntahkan semua makanan yang baru saja ia masukkan ke dalam perutnya.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Adelia? Kamu baik-baik saja, 'kan?" Bu Ida menghampiri Adelia dan mengelus punggungnya dengan lembut.


Adelia tidak bisa menjawab karena rasa mualnya masih bergejolak. Wanita itu masih saja memuntahkan isi perutnya hingga wajahnya yang memang sudah memucat itu, terlihat semakin pucat saja.


Bu Ida tidak tega melihatnya. Ia bergegas menghampiri kotak P3K yang ada di ruangan itu kemudian meraih sebotol minyak kayu putih berukuran sedang. Bu Ida membawa minyak kayu putih tersebut kembali ke westafel, di mana Adelia masih berperang dengan perutnya di sana.


"Sini, biar Ibu bantu oles dengan minyak kayu putih, ya!" ucap Bu Ida lagi.


Adelia pun mengangguk pelan. Sebenarnya ia paling anti dengan yang namanya minyak kayu putih dan sebagainya. Namun, karena saat ini kondisinya sudah tidak memungkinkan, Adelia pun pasrah dan membiarkan Bu Ida memijit punggungnya dengan minyak kayu putih tersebut.


"Sebenarnya kamu kenapa, Nak? Kamu enek setelah mendengar pembicaraan kami soal Dania dan Tuan Daniel tadi, ya?" tanya Bu Ida sambil memperhatikan wajah Adelia yang memucat.


Adelia menggelengkan kepalanya pelan. "Bukan, Bu. Bukan itu. Aku rasa ada masalah pada lambungku. Mungkin maagku sudah terlanjur akut atau apalah. Yang pasti akhir-akhir ini perutku benar-benar tidak nyaman. Bahkan kemarin aku sempat jatuh pingsan saat Samuel Si Brengs*k itu membawaku kabur dari Villa," celetuk Adelia.


Wajah Bu Ida tampak panik. Terlihat jelas di wajahnya bahwa saat itu ia sangat mengkhawatirkan kondisi Adelia. "Kalau begitu sebaiknya kita ke Dokter saja, Nak. Ibu takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepadamu. Bagaimana, kamu mau?"


Adelia pun menganggukkan kepalanya. Ia jugw sudah merasa tidak nyaman jika terus-menerus seperti itu. "Baik, Bu," sahut Adelia.

__ADS_1


...***...


__ADS_2