Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Ekstra Part


__ADS_3

"Beritahu saya di mana Adelia, Bu. Saya mohon! Biarkan saya bertemu dengannya dan meminta maaf."


Samuel terus memohon dan mengiba kepada Bu Ida. Awalnya Bu Ida kekeh tidak akan memberitahukan keberadaan Adelia saat ini. Namun, karena terus di desak oleh Samuel, akhirnya wanita paruh baya itu pun bersedia memberitahunya.


Ia memberitahu bahwa Adelia saat ini masih bekerja di luar kota. Mengadu nasib menjadi salah satu pemain pembantu di berbagai sinetron maupun miniseries. Walaupun gajinya tidak seberapa, tapi setidaknya ia masih bisa mengirimkan sedikit gajinya untuk Bu Ida.


"Baiklah, Bu. Saya akan segera menemuinya. Terima kasih banyak karena Ibu masih bersedia memberitahu saya di mana Adelia berada," ucap Samuel dengan mata berkaca-kaca menatap Bu Ida.


"Tapi ingat ya, Samuel! Jika kamu berani menyakiti anakku lagi, maka aku bersumpah bahwa kamu akan berhadapan denganku!" ancam Bu Ida.


"Saya berjanji, Bu. Saya berjanji tidak akan pernah menyakitinya lagi."


Setelah berpamitan kepada Bu Ida, Samuel pun segera pamit dan menuju ke alamat yang diberikan oleh Bu Ida.


***


"Adelia! Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap salah satu rekan kerjanya.


"Siapa?" Adelia heran.


"Namanya ... ehm, aku lupa. Sebaiknya kamu temui saja, gih. Dia cowok dan katanya ada yang ingin dia bicarakan sama kamu, penting."


Adelia terdiam untuk beberapa saat sambil memikirkan siapa yang ingin menemui saat ini. "Baiklah, aku akan segera ke sana."


Adelia pun keluar dari lokasi syutingnya kemudian mencari seseorang yang katanya ingin bertemu dengannya. Adelia menoleh ke kanan dan ke kiri, tetapi tak ada sesiapapun di sana. Hanya beberapa orang kru dan lainnya.


"Mana? Ah, dia menyebalkan! Dia mengerjai aku lagi," gumam Adelia.

__ADS_1


"Adelia ...."


Tiba-tiba Adelia mendengar suara berat dari belakang punggungnya. Suara yang sudah lama tidak pernah ia dengar lagi. Suara seseorang yang pernah mengisi hatinya.


Perlahan Adelia berbalik dan menatap lelaki yang kini sedang tersenyum hangat kepadanya. Setelah mengetahui siapa lelaki itu, Adelia pun segera menjaga jarak. Ia mundur beberapa langkah ke belakang dan mencoba mencari jarak aman dari Samuel.


"Ka-kamu? Ma-mau apa kamu ke sini?!" tanya Adelia sembari menelan salivanya dengan susah payah. Jantungnya berdetak kencang dan tubuhnya pun ikut bergetar. Kenangan buruk bersama lelaki itu, membuat Adelia trauma dan ketakutan.


"Tenang, Adelia! Jangan takut. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Aku ke sini hanya ingin meminta maaf padamu, itu saja!" Samuel mencoba meyakinkan Adelia yang tampak memucat karena ketakutan.


"Minta maaf? Heh, aku tidak percaya!" Adelia terus memundurkan tubuhnya dan menghindar dari lelaki itu.


"Demi Tuhan! Demi kedua orang tuaku yang sudah tiada, aku tidak bohong. Aku ke sini hanya ingin meminta maaf atas semua kesalahanku padamu." Samuel menjatuhkan dirinya di hadapan Adelia kemudian berlutut dengan mata berkaca-kaca menatap Adelia.


"Maafkan aku, Adelia. Hidupku tidak akan pernah tenang selama kamu tidak memaafkan kesalahanku. Dan aku akan melakukan apa saja asalkan kamu mau memaafkan kesalahanku."


"Ya, aku tahu, Adelia. Sebab itu lah aku ingin memperbaiki kesalahanku. Aku tidak ingin buruk di matamu. Kumohon, Adelia. Maafkan aku," lirih Samuel yang masih bertekuk lutut di hadapan Adelia.


"Hhh, mati saja kamu!" kesal Adelia seraya melangkahkan kakinya, menjauh dari Samuel.


"Jika matiku membuatmu bisa memaafkan seluruh kesalahanku, maka aku akan melakukannya," ucap Samuel sembari bangkit dari posisinya.


"Terserah, aku tidak peduli." Adelia menyilangkan tangan ke dada.


Samuel mengangguk pelan dan tatapannya terus tertuju pada Adelia. "Baiklah kalau begitu. Beberapa saat setelah ini, aku pastikan bahwa kamu akan mendengar berita bahwa aku sudah pergi." Samuel tersenyum kecut. "Maafkan aku, Adelia."


Lelaki itu pun segera berbalik dan berjalan meninggalkan Adelia di tempat itu. Setelah kepergian Samuel, Adelia pun kembali ke lokasi syuting dan mulai melakukan tugasnya.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


"Ada seorang laki-laki yang ingin bunuh diri katanya," ucap salah seorang kru dengan wajah cemas.


"Benarkah, di mana?"


"Di rooftop hotel XX," jawabnya.


"Ya, Tuhan! Berarti hotel depan lokasi syuting kita ini, dong? Lalu bagaimana kondisinya, apa dia sudah meninggal?"


"Belum, katanya masih berdiri di pinggiran rooftop itu. Para Polisi dan lainnya sudah mencoba menyelamatkan laki-laki itu. Tetapi, tidak bisa," jawabnya.


Adelia yang sejak tadi mendengarkan percakapan kedua kru tersebut, tiba-tiba kepikiran kata-kata Samuel beberapa jam yang lalu.


"Apa mungkin itu Samuel? Ah, tidak mungkin. Yang benar saja," gumam Adelia sambil tertawa pelan.


Walaupun Adelia tampak mengelak. Namun, hati dan pikirannya tidak bisa dibohongi. Ia tetap kepikiran soal kata-kata Samuel dan entah kenapa ia yakin bahwa laki-laki itu adalah Samuel.


"Ah, persetan!" gerutu Adelia sembari bangkit dari posisinya yang sedang asik duduk si sebuah kursi.


Ia melangkahkan kakinya keluar dari lokasi syuting. Ternyata benar yang dikatakan oleh kru tersebut. Tepat di depan hotel XX yang berada di seberang lokasi syuting, ramai sekali orang-orang yang berkumpul di sana sambil menengadahkan kepala mereka ke atas.


Adelia menghampiri tempat itu dan ikut mendongakkan kepalanya. Tiba-tiba matanya membulat sempurna dan mulutnya pun ikut menganga.


"Ya Tuhan, Samuel!" pekik Adelia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2