
"Ada satu hal yang kamu tidak ketahui, Dania. Selama ini Ayahmu selalu melarang Ibu menemuimu. Bahkan Ibu tidak pernah lupa akan hari ulang tahunmu. Setiap tahun Ibu selalu mengirimkan berbagai macam hadiah tapi hadiah itu selalu kembali dan kembali lagi," tutur Tante Riska.
Mendengar penuturan Ibu sambungnya saat itu, Selly pun refleks mengangguk dan membenarkan apa yang diucapkan olehnya. "Itu benar, Dania. Hadiah-hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Ibu kepadamu, bahkan masih tersimpan rapi dalam sebuah ruangan khusus di rumah kami, eh salah! Rumah kita, Dania!" sela Selly.
"Selly!" Daniel melototkan matanya menatap adik sepupunya itu. Ia tidak suka Selly ikut campur dengan urusan Dania dan Tante Riska.
Selly menekuk wajahnya ketika Daniel menegurnya. "Tapi, Kak. Itu memang benar. Setiap kali Dania ulang tahun, Ibu selalu memberikan sebuah hadiah untuknya. Namun, sayangnya hadiah itu selalu kembali dalam keadaan utuh dan tak tersentuh. Hadiah-hadiah itu akhirnya dikumpulkan menjadi satu di sebuah ruangan khusus dan sampai sekarang hadiah-hadiah itu masih ada dan sangat di rawat oleh Ibu. Kalau tidak percaya, Kakak dan Dania bisa lihat sendiri," ucap Selly.
Dania terdiam dan sekarang ia bingung siapa yang harus ia percayai. Jika Ayah dan Ibunya sering mengatakan bahwa Bu Riska sama sekali tidak peduli padanya, tetapi sekarang ia mendengarkan cerita lain dari versi Bu Riska sendiri.
"Percayalah pada Ibu, Nak. Ibu tidak pernah sekalipun melupakanmu. Namamu selalu ada di hati Ibu," lirih Tante Riska.
"Aku butuh waktu untuk mencerna ini semua. Maafkan aku," sahut Dania.
Dania berlari kecil dan meninggalkan ruangan itu. Selly ingin menyusul gadis itu, tetapi Daniel menahannya. "Biarkan dia sendiri, Selly."
"Tapi, Kak!" protes Selly.
__ADS_1
"Ya, Nak. Apa yang dikatakan oleh Daniel benar. Biarkan Dania sendiri dan memikirkan semuanya," sela Tante Riska dengan mata berkaca-kaca menatap pintu ruangan itu. Yang kini tertutup rapat dan di mana Dania sudah menghilang dari pandangannya.
Selly menghampiri wanita itu kemudian memeluknya. "Yang sabar ya, Bu. Semoga saja Dania bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah," ucap Selly.
"Ya, Nak. Semoga saja," sahut Tante Riska dengan bibir bergetar.
"Ibu tenang saja. Aku akan terus berdiri di samping Ibu. Aku akan turut berjuang sampai Dania benar-benar membuka hatinya untuk Ibu." Selly tersenyum manis sembari melerai pelukannya kemudian menyeka air mata Ibu sambungnya tersebut.
Tante Riska begitu terharu mendengar penuturan Selly saat itu. Ia mencium kening Selly kemudian berterima kasih kepadanya. "Terima kasih banyak, Selly. Kamu memang gadis yang sangat baik."
"Tapi ...." Selly menundukkan kepalanya menghadap lantai sambil menggulung-gulung ujung bajunya.
"Aku ... akan selalu menjadi Putri Ibu, 'kan? Tidak masalah jika aku hanya menjadi yang ke-dua, tetapi aku harap Ibu tidak akan melupakan aku," lirih Selly dengan mata berkaca-kaca menatap Tante Riska.
"Ya, Tuhan, Selly sayang! Biar bagaimanapun, kamu tetap anak gadis Ibu. Tidak ada yang pertama ataupun yang ke-dua di antara kalian. Baik kamu maupun Dania, sama-sama penting bagi Ibu. Apa kamu tahu? Hadiah yang selalu Ibu berikan untuk Dania, sama seperti hadiah yang Ibu berikan kepadamu," tutur Tante Riska.
Selly begitu senang mendengarnya. Ia kembali memeluk tubuh Tante Riska dengan erat sambil terisak. "Terima kasih, Bu. Aku sayang Ibu," ucapnya.
__ADS_1
"Ya, Ibu juga sayang kamu."
Sementara itu.
Om Tommy yang sedang asik berbincang bersama Pengawal yang berjaga di depan ruangan Daniel, sempat memanggil nama gadis itu. Namun, Dania tidak menghiraukannya. Ia terus saja berlari kecil menuju tempat parkir.
"Dania? Kamu mau ke mana, Nak?" panggil Om Tommy.
Lelaki itu sempat berpikir ingin menyusulnya. Namun, setelah beberapa langkah kemudian, Om Tommy pun mengurungkan niatnya. "Mungkin saat ini kamu memang butuh waktu untuk sendiri, Dania," gumam Om Tommy kemudian.
Kini Dania tiba di tempat parkir. Ia menemui Sopir Pribadi Daniel yang tadi mengantarkannya. Dan sekarang ia ingin lelaki paruh baya tersebut kembali mengantarkannya ke suatu tempat.
"Pak, bisa antar aku ke rumah orang tuaku?" ucap Dania.
"Oh, tentu saja, Nona. Silakan masuk," ucap Pak Sopir.
"Terima kasih." Dania pun segera masuk kemudian duduk di jok bagian belakang dengan ekspresi wajah yang masih kusut. Setelah Dania masuk, Pak Sopir pun segera melaju ke tempat tinggal Pak Adi dan Bu Ida.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan, Dania tampak serba salah. Duduknya pun tampak tidak tenang karena pikirannya sedang berperang saat itu. Ia ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini dan membuktikan siapa yang salah dan siapa yang benar di antara Bu Riska dan Pak Adi.
...***...