
Beberapa menit kemudian.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanya Daniel dengan sangat antusias.
Dania menyenggol tangan Daniel yang sedang duduk di sampingnya. "Hasilnya apa? Memangnya aku hamil," celetuk Dania.
"Sudah, kamu diam saja dan dengarkan apa jawaban Dokter," sahut Daniel.
Dokter yang sejak tadi terus memperhatikan test pack milik Dania tersebut, akhirnya tersenyum lebar. Senyuman Dokter itu seolah memberikan kabar yang baik untuk Daniel.
"Selamat ya, Tuan Daniel. Nona Dania positif hamil dan usia kehamilannya saat ini baru memasuki minggu ke-empat."
"Aaakh! Benar 'kan firasatku!" Daniel senang bukan main setelah mendengar berita baik itu. Ia segera memeluk Dania dan menciumi wajahnya berkali-kali.
Begitu pula Selly, gadis itu melompat-lompat kegirangan sambil berteriak-teriak di ruangan tersebut. "Hore, aku bakal punya keponakan! Horeee!"
Sementara Dania hanya diam dengan mulut menganga dan mata melotot. Ia benar-benar syok setelah mengetahui bahwa dirinya sedang hamil. Seorang generasi penerus Dirgantara ada di dalam rahimnya.
"Ha-hamil?" pekik Dania yang masih tidak percaya dengan kenyataan itu.
"Ya, Sayang! Kamu hamil dan tidak lama lagi kita akan menjadi Mommy dan Daddy!" lanjut Daniel dengan mata berkaca-kaca menatap Dania.
__ADS_1
"Ja-jadi benar kakiku yang sakit itu ada hubungannya dengan kehamilanku ini?"
"Ya. Kan sudah ku bilang sebelumnya," jawab Daniel dengan mantap. "Dan jangan lupa, mood burukmu juga salah satunya," lanjut Daniel.
Dania tertawa pelan. "Wah, pantas saja aku suka kesal tanpa alasan. Ternyata junior si Tuan Pemarah ini sedang tumbuh di dalam rahimku," celetuk Dania.
"Kamu bisa aja, Dania. Tapi itu benar dan Ibu pun sudah mewanti-wanti Kak Daniel untuk lebih bersabar lagi menghadapi sikap si Nona Pemarah ini. Dan mungkin sikap pemarah serta menyebalkannya akan melebihi sikap si Tuan Pemarah," sahut Selly sambil terkekeh.
"Aku akan melakukan apapun untuk Anak dan Istriku. Kalau hanya menahan amarah saja, itu bukanlah apa-apa," jawab Daniel sambil tersenyum hangat menatap Dania saat itu.
"Cieee, manis sekali!" goda Selly.
"Ibu-ibu, karena hari ini adalah hari yang begitu spesial buat saya dan sebagai ucapan terima kasih saya kepada kalian yang sudah sabar menunggu kami selesai melakukan pemeriksaan, maka untuk hari ini biaya pemeriksaan kalian, saya yang tanggung."
"Yu huuu!" teriak seluruh Ibu-ibu hamil yang ada di tempat praktik itu. Mereka benar-benar senang mendengarnya. Ini pertama kalinya bagi mereka mendapatkan pemeriksaan kehamilan gratis di tempat praktek itu.
"Terima kasih, Tuan Daniel."
"Tapi, jangan lupa untuk mendoakan istri serta calon bayi kami agar selalu sehat hingga hari melahirkan nanti," ucap Daniel lagi sambil mengelus perut Dania yang masih rata.
"Amin," jawab mereka semua.
__ADS_1
Daniel pun kembali menuntun Dania menuju mobil mereka. Sementara Selly mengikuti dari belakang sambil terus tersenyum.
"Kalian yang bakal punya anak, kenapa aku yang begitu senang, ya!" ucap Selly.
"Bagaimana reaksi Ibu jika tahu bahwa saat ini aku sedang hamil, ya?" Dania mengelus perutnya dengan lembut. Ia masih belum percaya bahwa ternyata ada sosok bayi mungil yang sedang tumbuh di sana.
"Tentu saja Ibu sangat senang, Dania. Tadi saja Ibu sangat bahagia mendengarnya, padahal saat itu kami hanya menebak-nebak saja," sahut Selly.
Selang beberapa menit kemudian.
Mobil yang ditumpangi oleh Daniel, Dania dan Selly pun tiba di kediaman mewah mereka. Ternyata Bu Riska sudah berada di sana dan menunggu kedatangan mereka dengan tidak sabar.
Baru saja Dania dan Daniel keluar dari mobil mereka, Bu Riska sudah menyambut Dania kemudian memeluknya.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Bu Riska dengan harap-harap cemas.
"Positif, Bu," jawab Dania.
"Akkhh!" Bu Riska menjerit kegirangan. "Aku akan punya cucu!"
...***...
__ADS_1