Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Ekstra Part


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


Samuel baru saja menghirup udara segar setelah beberapa tahun mendekam di penjara. Orang pertama yang ingin ia temui saat ini adalah Adelia. Sejak ia dinyatakan bersalah, ia terus terbayang akan sosok wanita itu.


"Aku harus menemuinya. Harus!" gumam Samuel.


Samuel memanggil taksi yang tidak sengaja lewat di hadapannya kemudian meminta sopir taksi tersebut untuk mengantarnya ke suatu tempat.


Selang beberapa menit kemudian, mobil taksi tersebut tiba di depan sebuah rumah. Setelah membayar kepada Pak Sopir tersebut, Samuel segera keluar dari dalam mobil tersebut.


Ia berdiri dengan tegap sambil memperhatikan sebuah bangunan bertingkat dengan ukuran yang cukup besar, yang berdiri di hadapannya. Untuk beberapa saat Samuel masih terdiam di sana sambil memperhatikan sekeliling tempat itu. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk masuk dan menemui sang pemilik rumah.


Tok ... tok ... tok!


Samuel yang sudah berdiri tepat di depan pintu rumah tersebut segera mengetuk dan dari dalam, terdengar suara teriakan dari seorang wanita paruh baya.


"Ya, sebentar!"


Terdengar drap kaki yang melangkah dengan cepat menghampiri pintu. Sepersekian detik berikutnya, terbukalah pintu tersebut. Tampak seorang wanita paruh baya yang menatap samuel dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Nyari siapa, ya?"


"Saya teman Adelia, Bu. Ehm, bisa kita bicara sebentar?" tanya Samuel kepada Bu Ida yang masih terlihat kebingungan.


Bu Ida mengangguk cepat. "Ah, iya, baiklah. Silakan masuk," jawab Bu Ida sembari mengelap tangannya yang basah dengan celemek yang sedang ia kenakan.


"Terima kasih, Bu."


Samuel mengikuti langkah Bu Ida yang kini menuntunnya hingga ke sofa ruang depan. Setibanya di sana, Bu Ida pun segera mempersilakan Samuel untuk duduk di sana.


"Duduklah, Nak. Ehm, sebenarnya ada apa, ya? Apa ada pesan dari Adelia?" tanya Bu Ida dengan wajah penasaran menatap Samuel.


Samuel yang sudah duduk di sofa tersebut, menggelengkan kepalanya perlahan. "Sebenarnya bukan, Bu. Malah sebaliknya, saya ingin bertanya kepada Ibu soal Adelia. Saya ingin tahu, di mana Adelia sekarang? Saya ingin sekali bertemu dengannya dan meminta maaf atas semua perbuatanku selama ini," lirih Samuel dengan wajah sendu menatap Bu Ida.


Samuel menghembuskan napas berat. "Saya Samuel, Bu. Lelaki yang sudah memperlakukan Adelia dengan sangat tidak pantas."


"Samuel!?" pekik Bu Ida.


Bu Ida sangat marah. Wajahnya langsung memerah setelah tahu siapa yang sedang duduk di hadapannya itu. Kemarahannya saat itu bahkan sudah tidak bisa ia kontrol. Hingga ....

__ADS_1


Plakkk!


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Samuel. Pipi lelaki itu memerah. Tampak jelas jejak telapak tangan Bu Ida di pipi Samuel. Namun, Samuel tidak marah, apa lagi melawan. Malah sebaliknya, ia segera berjongkok di hadapan Bu Ida kemudian meminta maaf.


"Maafkan saya, Bu. Saya menyesal. Sangat -sangat menyesal!" lirih Samuel dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tidak bisa memaafkan laki-laki bajing*n sepertimu, Samuel! Kamu sudah menghancurkan masa depan anakku dan sekarang dia benar-benar hancur! Ia bahkan memutuskan untuk tidak berumah tangga sama seperti wanita lainnya! Dan itu semua karena kamu! Karena kamu!" teriak Bu Ida sambil terisak.


"Ya, Bu. Saya salah! Sebab itu lah saya ingin meminta maaf dan kalau diberi kesempatan, saya ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah saya lakukan kepadanya," jawab Samuel dengan wajah serius menatap Bu Ida.


Bu Ida tersenyum sinis. "Memperbaiki kesalahanmu? Bagaimana caranya?"


"Saya ingin mempertanggung jawabkan semua perbuatan saya. Saya bersedia menikahinya, jika ia mengijinkannya," jawab Samuel.


"Menikahi Adelia?" Bu Ida tertawa sinis. "Ada satu hal yang harus kamu ketahui. Setelah ia berhasil mengeluarkan bayi haram hasil perbuatanmu, kini Adelia sudah tidak bisa mengandung lagi," jelas Bu Ida dengan wajah kesal menatap Samuel.


"Apa maksud Ibu? Adelia pernah hamil dan itu anakku?" Samuel mengernyitkan alisnya.


"Ya, siapa lagi? Tuan Daniel?! Tuan Daniel tidak sebejat kamu! Ia bahkan selalu menjaga kehormatan Adelia. Sedangkan kamu?"

__ADS_1


"Ya, Tuhan!" pekik Samuel.


...***...


__ADS_2