Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Tangis Haru


__ADS_3

Sepeninggal Dania dan pengawal sangarnya, Bu Ida dan Pak Adi pun menjadi sedikit lebih lega dan tenang, setelah sebelumnya mereka begitu ketakutan.


"Bagaimana ini, Bu? Seharusnya Ibu jangan melakukan hal itu. Bagaimana jika Dania mengadukan hal ini kepada Daniel? Apa Ibu tidak takut kehilangan mobil serta rumah baru kita?" tutur Pak Adi yang terlihat cemas.


Bu Ida menekuk wajahnya. "Ibu 'kan kesal, Yah. Dania sudah berani mengatakan Ibu 'Pelakor'. Seandainya tidak ada lelaki itu, sudah habis itu mulutnya aku ubek-ubek sama ulekan sambel!"


Pak Adi memutarkan bola matanya. "Hati-hati kalau ngomong, Bu. Takutnya nanti ada yang dengar dan sampe ke telinga Tuan Daniel, bisa-bisa berabe kita,"


Bu Ida melenggang pergi meninggalkan Pak Adi di ruangan itu sambil mendengus kesal. "Kita buktikan saja nanti jika Adelia kembali. Apakah lelaki kaya raya itu masih memilih bertahan bersama si Dania kesayanganmu itu, atau malah kembali ke sisi Adelia?! Jika itu terjadi, aku pastikan Dania akan sangat menyesali perbuatannya padaku!" gerutu Bu Ida.


Sementara itu di dalam mobil.


"Pak, sejak kapan lelaki sangar itu mengikutiku? Bukan kah ketika sejak tadi kita hanya berdua?" tanya Dania kepada Pak Sopir yang mengantarkannya. Sesekali ia melirik mobil yang kini melaju tepat di belakangnya.


"Tidak lama setelah kita tiba di kediaman Pak Adi, lelaki itu pun juga tiba di tempat itu. Katanya, dia adalah orang khusus yang diperintah oleh Tuan Daniel untuk menjadi pengawal pribadi Anda dan mulai sekarang lelaki itu akan terus mengikuti kemana pun Nona pergi," sahut Pak Sopir.


"Apa?!" pekik Dania dengan mata membulat. Gadis itu tidak terima jika kegiatannya terus diikuti oleh lelaki menyeramkan itu. "Ja-jadi, dia akan terus mengikuti kegiatanku termasuk mengajar, begitu?!"


Pak Sopir mengangguk pelan. "Sepertinya, ya, Nona."

__ADS_1


"Ya Tuhan, ini keterlaluan! Anak-anak didikku pasti ketakutan melihatnya. Secara dia itu ... ah, sudahlah! Sebaiknya aku bicara pada Mas Daniel saja," lanjut Dania sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil tersebut sambil menyilangkan tangannya ke dada.


Tidak berselang lama, mereka pun kembali ke Rumah Sakit. Dan benar saja, lelaki sangar itu kembali mengikutinya dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun. Wajahnya yang sangar itu membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan ketakutan, termasuk Dania sendiri.


Gadis itu melangkahkan kakinya sambil sesekali melirik Max yang kini berjalan di belakangnya. Tubuh Max yang berukuran tiga kali lipat dari ukuran tubuhnya, membuat nyali Dania sedikit menciut. Padahal ketika di dalam mobil, gadis itu sudah merangkai berbagai macam kata untuk Max agar jangan mengikutinya seperti ekor.


Setibanya di ruangan Daniel, ternyata Bu Riska dan Selly masih berada di dalam sana. Wajah Bu Riska masih terlihat murung dan sedih. Sementara Selly tidak hentinya memeluk dan mencoba menenangkan Ibu sambungnya tersebut.


"Dania sayang, akhirnya kamu kembali juga. Bagaimana Max? Dia anak yang baik, 'kan?" goda Daniel sambil terkekeh pelan.


Dania memasang wajah malas, membalas tatapan Daniel kala itu. "Kita bahas itu nanti. Saat ini aku ingin bicara sama Ibu," tutur Dania.


Daniel pun mengangguk pelan dengan senyuman yang masih menempel sempurna di wajah tampannya. "Baiklah, tapi ingat bicarakan semuanya dengan kepala dingin."


"Maafkan Dania, Bu. Dania sudah sempat berpikiran buruk tentang Ibu," lirih Dania dengan mata berkaca-kaca.


"Oh, Dania sayang! Seharusnya Ibu lah yang meminta maaf kepadamu. Maafkan Ibu," sahut Bu Riska yang sudah tidak sabar ingin memeluk anak perempuannya itu.


Ibu dan anak yang sudah lama tidak bertemu itu pun segera berpelukan satu sama lain. Mereka terisak dengan bibir yang terus mengucap kata maaf. Baik itu dari Dania, maupun Bu Riska.

__ADS_1


Sementara Selly hanya bisa menatap kebersamaan Bu Riska dan Dania dari kejauhan. Tubuh gadis itu bergetar hebat. Ia ikut terisak melihat adegan penuh haru yang terjadi di hadapannya tersebut.


"Psstt!" panggil Daniel kepada Selly.


Selly pun menoleh dan menghampiri Daniel yang memanggilnya sambil menyeka air mata. "Ada apa, Kak?"


"Kemarilah, menangis lah bersamaku," ucap Daniel sambil terkekeh. Ia mengulurkan tangannya kepada Selly dan Selly pun segera menghambur ke pelukan Kakak sepupunya itu.


"Huuaaa .... Aku sangat terharu, Kak. Semoga setelah ini hubungan kami semua, semakin baik dan semakin dekat," ucap Selly di sela isak tangisnya.


"Amin!" sahut Daniel sambil mengelus puncak kepala gadis itu dengan lembut.


Setelah puas melepaskan rindunya bersama Bu Riska, Dania pun memanggil Selly yang kini masih berada di pelukan suaminya.


"Selly, kemarilah!" panggil Dania sambil tersenyum hangat.


Dengan secepat kilat, Selly pun datang mendekat ke arah Dania dan Bu Riska. "Ada apa, Dania?" tanyanya dengan sangat antusias.


Sebelum menjawab pertanyaan Selly, Dania memeluk tubuh gadis itu dengan erat. "Apakah sekarang kamu bersedia menjadi saudara perempuanku, Selly? Tapi kamu tidak usah khawatir, aku tidak akan mengambil Bu Riska darimu karena dia akan tetap menjadi Ibumu, sama seperti sebelumnya."

__ADS_1


Selly menekuk wajahnya dan bibir Selly terlihat bergetar. "Bukan hanya Ibuku, Dania. Tapi Ibu kita berdua. Dan, ya! Tentu saja aku mau! Aku sangat senang bisa memiliki saudara perempuan sama sepertimu," jawab Selly yang kini kembali menangis histeris di dalam pelukan Dania.


...***...


__ADS_2