
"Aku bilang lepaskan aku, Samuel! Aku tidak mau ikut denganmu! Aku ingin pulang!" tolak Adelia.
Lelaki itu tersenyum sinis. "Pulang dan kembali kepada Daniel?" sahut Samuel sembari mendorong tubuh Adelia dengan paksa masuk ke dalam mobilnya.
Setelah Adelia masuk, ia pun segera menyusul kemudian mengunci semua pintu hingga Adelia tidak bisa keluar dari mobilnya. Adelia mendengus kesal dan dengan penuh percaya diri, ia pun menjawab pertanyaan Samuel.
"Tentu saja, kenapa tidak! Aku yakin Daniel pasti akan menerima kehadiranku lagi sama seperti dulu. Lagi pula, apa yang bisa aku harapkan darimu? Aku pikir kamu jauh lebih baik dari Daniel, tapi ternyata aku salah! Kamu bahkan jauh lebih menjijikkan dari seekor binatang pengerat!" kesal Adelia sambil memukul-mukul lengan Samuel yang duduk di depan kemudi.
"Kurang ajar!" Samuel yang tidak dapat menahan rasa kesalnya karena disamakan dengan binatang pengerat, akhirnya memukul pipi Adelia dengan cukup keras hingga sudut bibir wanita itu terluka dan mengeluarkan darah segar.
Plakkk!
"Akh!" Adelia meringis dan mengusap pipinya yang sakit dengan lembut. Ia membalas tatapan Samuel dengan penuh kebencian. "Aku benci kamu!"
__ADS_1
Samuel tertawa pelan sembari melajukan mobilnya meninggalkan halaman parkir. "Bencilah aku sepuasmu, Adelia! Hal itu tidak akan pernah mengubah semua yang sudah terjadi. Oh ya, kamu bilang apa tadi? Daniel pasti akan menerimamu kembali? Apa aku tidak salah dengar, ha?"
Samuel tergelak sambil sesekali memperhatikan ekspresi Adelia yang benar-benar marah kepadanya. "Asal kamu tahu ya, Adelia sayang. Daniel sudah tahu semuanya. Lelaki itu sudah tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya. Dan satu lagi, aku sudah mengirimkan video panas kita kepada lelaki itu. Jadi, masih yakinkah kamu bahwa dirinya masih mau menerima dirimu lagi?"
"Akhh! Kurang ajar! Dasar lelaki bajing*n!" Adelia semakin kesal dan marah. Ia kembali menyerang Samuel dengan pukulan yang bertubi-tubi.
Samuel hampir saja tidak dapat mengendalikan kecepatan mobilnya akibat pukulan Adelia. Lelaki itu menepikan mobilnya di pinggir jalan kemudian menghentikan aksi Adelia yang terus memukulinya.
"Hentikan, wanita bodoh! Apa kamu ingin kita mati, ha!" kesal Samuel sembari menepis tangan Adelia dengan kasar.
"Apa maksudku? Tidak ada, aku hanya ingin kamu menjadi milikku, Adelia! Hanya milikku dan aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu, apa lagi menyentuhmu, termasuk Daniel!" sahut Samuel sambil menyeringai licik.
"Kamu benar-benar egois! Aku yakin, sebenarnya kamu tidak pernah mencintaiku, Sam. Kamu hanya terobsesi ingin memiliki diriku. Benar, 'kan!"
__ADS_1
"Ya, itu benar! Seratus untuk jawabanmu! Aku memang ingin memilikimu, tetapi jangan pernah bermimpi bahwa aku akan mengikatmu dalam suatu ikatan pernikahan," Samuel menggelengkan kepalanya sambil tertawa sinis.
"Aku akan menjadikanmu sebagai pemuas hasratku dan akan seperti itu hingga aku puas! Dan jika aku sudah bosan, maka aku akan membuangmu, sama seperti wanita-wanita bodoh lainnya!" lanjut Samuel sembari mencengkram wajah Adelia dengan kasar kemudian mendorongnya hingga wanita itu tersandar di joknya.
"Kamu kejam, Sam!" Adelia pun kembali terisak. Sementara Samuel kembali melajukan mobilnya menuju Villa pribadi miliknya.
Sesampainya di Villa, Samuel kembali menyeret Adelia hingga ke masuk ke dalam kamarnya yang terletak di lantai atas. Adelia mencoba melawan dan berusaha kabur, tetapi Samuel tidak membiarkannya. Ia meraih kedua tangan Adelia kemudian mengikatnya dengan erat ke tepian ranjang. Adelia menjerit dan terus berteriak meminta pertolongan kepada siapapun yang dapat mendengarkan suaranya.
"Tolong! Kumohon siapa saja, tolong aku!" teriak Adelia ketika kedua tangannya sudah selesai di ikat dengan erat oleh Samuel.
Samuel tersenyum puas kemudian meraih sebuah sapu tangan berwarna putih yang tersimpan di dalam lemari pakaiannya. Lelaki itu membawa sapu tangan yang sudah ia lipat sedemikian rupa itu ke hadapan Adelia.
"Berteriaklah sekuat tenagamu, Adelia! Karena tidak akan ada yang mendengarnya, bahkan hingga kerongkonganmu terputus!" ucap Samuel yang kemudian menutupi mulut Adelia dengan sapu tangan yang tadi ia ambil dari lemari pakaian.
__ADS_1
Adelia semakin kesal, ia terus menjerit. Namun, usahanya sia-sia saja. Sapu tangan itu sudah menutupi mulutnya hingga ia pun tidak bisa lagi berteriak untuk meminta pertolongan.
...***...