Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Minta Izin


__ADS_3

Setelah pemberitahuan selesai, anak-anak didik yayasan tersebut pun bergegas kembali ke ruangan mereka masing-masing dan melaksanan kegiatan belajar-mengajar sama seperti biasanya. Begitu pula Dania dan anak didiknya. Mereka kembali ke kelas dan kembali melanjutkan kegiatan mereka.


"Kak Erick, tunggu!" panggil Selly sembari berlari kecil menghampiri lelaki itu.


"Ada yang bisa kubantu?" Erick melirik jam tangannya. "Maaf, tapi aku tidak bisa lama-lama karena aku harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut acara besok hari," lanjut lelaki itu.


"Tidak, aku berjanji tidak akan lama, kok!" sahut Selly.


"Baiklah, sebaiknya kita ke ruanganku saja. Sekalian kamu bantu aku membungkus hadiah kecil untuk lomba besok," ucap Erick.


"Oh, baiklah kalau begitu." Dengan begitu semangat Selly mengikuti jejak Erick menuju ruangan pribadi lelaki itu. Hingga akhirnya mereka pun tiba di tempat tersebut.


"Masuklah," ucap Erick.


Selly memperhatikan sekeliling ruangan berukuran 4x5 meter tersebut sambil melangkah masuk. Sebuah ruangan sederhana yang tidak memiliki pendingin udara. Hanya sebuah kipas gantung yang berputar dengan lincahnya di atas kepala mereka.


"Ini hadiah-hadiah buat pemenang lomba besok, ya?" tanya Selly sambil menunjuk ke arah tumpukan peralatan tulis dan juga tas ransel yang akan dibungkus dan menjadi hadiah untuk lomba besok hari.


"Ya, bantu aku membungkusnya. Kamu bisa 'kan? Ya, dari pada kamu nganggur dan mengganggu yang lain," ucap Erick.


"Ya, baiklah."


Selly mulai meraih satu pak buku dan peralatan tulis kemudian membungkusnya dengan kertas kado yang sudah di siapkan oleh Erick sebelumnya. Sembari membungkus hadiah-hadiah tersebut, Selly tak hentinya melirik ke arah lelaki tampan itu.


"Kak Erick, boleh aku bertanya sesuatu?" Selly mulai membuka percakapan di antara mereka.


"Ya, tentu saja."


"Apa Kak Erick masih mencintai Dania? Secara Dania sudah mulai membuka hatinya untuk Kak Daniel. Mereka bahkan sudah memikirkan tentang Honeymoon mereka, loh. Hmm ... dan mungkin tidak lama lagi mereka akan di kasih bayi mungil yang lucu-lucu," ucap Selly yang sengaja memancing reaksi Erick saat itu.

__ADS_1


Erick yang tadinya fokus pada pekerjaannya, kini malah terpaku dan menghentikan aktivitasnya. "Benarkah?"


"Ya," sahut Selly dengan tegas.


Erick menghela napas berat. Terlihat jelas kekecewaan di wajahnya kala itu.


"Sebaiknya cobalah untuk move on dari Dania, Kak. Masih ada gadis lain yang benar-benar tulus memberikan kasih sayang untukmu," lanjut Selly.


Erick kembali melirik Selly sambil tersenyum tipis. "Jangan katakan bahwa gadis itu adalah kamu," sahutnya.


"Memangnya kenapa kalau gadis itu aku? Cobalah untuk membuka mata dan hatimu, Kak Erick. Buat apa mengharapkan sosok Dania yang sudah jelas menjadi milik orang lain, kalau di sini masih ada Dania KW yang dengan setia menunggu jawaban 'Ya' darimu," sahut Selly.


"Tunggulah hingga beberapa abad lagi," jawab Erick sambil terkekeh.


"Baiklah! Aku sanggup menunggu jawaban darimu walaupun aku harus berkali-kali bereinkarnasi," jawabnya yakin.


Erick kembali tersenyum tipis kemudian melanjutkan pekerjaannya.


"Pekerjaan apa? Kami saja tidak di gaji, masa kamu mau kerja di sini. Lagi pula kru pengajar kami sudah cukup," sahut Erick yang masih sibuk dengan pekerjaannya.


"Apa saja, yang penting bekerja di sini. Biar aku punya kegiatan lain selain makan, tidur dan gangguin pasangan D2." Selly tersenyum dan menunggu jawaban dari Erick.


"D2?" Erick menautkan kedua alisnya heran.


"Pasangan Daniel dan Dania," sahut Selly sambil terkekeh.


"Oh." Erick menyelesaikan satu buah kado kemudian meletakkannya ke atas meja. "Nanti akan kupikirkan lagi," jawabnya kemudian.


"Yeay!" Selly pun senang bukan main.

__ADS_1


***


Menjelang malam.


"Aku ikut!" tegas Daniel dengan wajah datar menatap Sang Isteri yang sedang duduk di hadapannya.


"Ish, benar 'kan kataku," gumam Dania sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.


Sementara Selly terkekeh pelan. Apa yang ia bayangkan bersama Dania tadi pagi menjadi kenyataan. Lelaki itu tidak akan pernah membiarkan Dania pergi sendirian. Apa lagi ikut camping bersama Erick bersama teman-temannya.


"Aku ikut, atau tidak sama sekali!" ucap Daniel sambil menyilangkan tangannya ke dada.


"Oke. Baiklah, Sayang. Kamu boleh ikut tapi syaratnya tidak boleh mengganggu acaranya anak-anak, ya!" lirih Dania sambil memelas.


"Kita lihat saja nanti," jawab Daniel dengan santainya.


"Ya, Tuhan!" pekik Dania sambil menahan rasa kesal. Bagaimana tidak, di antara teman-temannya, hanya dia yang datang bersama suami. Padahal yang berstatus menikah di tempat itu, bukan hanya dirinya.


"Ya, sudah! Sebaiknya kita kembali ke kamar. Aku sudah ngantuk!" celetuk Daniel sembari bangkit dari posisinya kemudian merengkuh pundak Dania agar gadis itu berjalan bersamanya.


"Beneran ngantuk?" bisik Dania sambil memperhatikan mata Daniel yang sama sekali tidak terlihat seperti itu.


"Juniorku ingin minta jatah. Takutnya besok malam juniorku cuti. Masa iya kita bercinta di dalam tenda," sahut Daniel.


"Ih, Mas!" Dania mencubit pelan perut lelaki itu.


"Tapi ... mungkin akan menjadi pengalaman baru, bercinta di dalam tenda," sahut Daniel sambil menyeringai.


"Ih, apaan! Tidak, aku tidak mau! Bagaimana jika ada anak-anak yang tidak sengaja lihat! Kan bahaya!" protes Dania sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Sementara Selly hanya bisa mencebikkan bibirnya ketika mendengar obrolan pasangan yang aneh tersebut.


...***...


__ADS_2