Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 85


__ADS_3

"Panggil Dania." Daniel kembali menyandarkan punggungnya dengan santai di kursi kesayangannya itu.


"Baik, Tuan." Roy membungkuk hormat kemudian bergegas keluar dari ruangan itu.


Sementara Roy memanggil Dania, Bu Ida dan Pak Adi masih duduk tepat di hadapan Daniel dengan harap-harap cemas. Sekarang satu-satunya harapan mereka hanya ada pada Dania. Nasib Adelia benar-benar ada di dalam genggaman gadis itu.


"Bagaimana ini, Yah? Bagaimana jika Dania tidak bersedia membantu kita? Nanti bantu Ibu bicara ya, Yah. Bantu Ibu meyakinkan Dania soal Adelia," bisik Bu Ida dengan kepala tertunduk menghadap lantai.


"Ibu, sih! Kan sudah Ayah bilang untuk bersikap baik kepada Dania," jawab Pak Adi.


Tidak berselang lama, Dania tiba di ruangan tersebut bersama Roy. Tatapan gadis langsung itu tertuju pada Bu Ida dan Pak Adi yang sekarang menyunggingkan sebuah senyuman manis untuknya.


"Tumben Bu Ida tersenyum padaku, aku yakin pasti ada sesuatu di balik senyuman itu," gumam Dania dalam hati.


"Kemari lah, Dania sayang," panggil Daniel.


Dania menghampiri Daniel. Lelaki itu segera menyambutnya dan menuntun Dania untuk duduk di pangkuannya. Dania sempat menolak, tetapi setelah melihat ke dalam mata elang itu, ia pun akhirnya mengalah dan menurut saja.


"Duduklah di sini," ucap Daniel.


"Sebenarnya ada apa ini, Sayang? Apa Ayah dan Ibu bikin masalah lagi?" tanya Dania dengan setengah berbisik.

__ADS_1


Daniel menggelengkan kepalanya. "Bukan."


Sekarang tatapan lelaki itu kembali tertuju pada Bu Ida dan Pak Adi yang kini terpaku melihat kemesraan mereka. Jauh di lubuk hati Bu Ida, ada rasa kesal ketika melihat kebersamaan pasangan itu. Baginya yang pantas berada di samping Dania hanyalah Adelia, bukan Dania.


"Sekarang bicaralah, Bu Ida." Daniel mempersilakan wanita itu untuk bicara.


"Ba-baiklah. Terima kasih, Tuan Daniel." Bu Ida mengalihkan pandangannya dan kini ia menatap Dania sambil tersenyum manis.


"Nak Dania, saat ini Ayah dan Ibu sangat membutuhkan bantuanmu."


Dania menghela napas dalam. Apa yang ia pikirkan sebelumnya ternyata benar. Ada sesuatu di balik senyuman manis Ayah dan Ibu tirinya tersebut.


"Adelia, kakakmu. Dia sedang dalam bahaya dan butuh pertolongan. Dan menurut Adelia, hanya suamimu yang bisa membantunya," lirih Bu Ida sambil mengiba kepada Dania.


"Adelia baru saja menghubungi Ibu, Nak. Dan dari caranya bicara, Ibu yakin bahwa Adelia berkata jujur bahwa saat ini ia dalam bahaya," jawab Bu Ida.


Dania melirik Daniel dengan wajah memelas. Sementara Daniel mulai memasang wajah malas menatap gadis itu.


"Apa?"


"Sayang," rengek Dania.

__ADS_1


Daniel menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi. "Sudah kuduga!" gumam Daniel.


"Sekarang aku tanya, memangnya kamu tidak cemburu jika aku menyelamatkan Adelia? Secara dia adalah mantan kekasihku. Apa kamu tidak takut jika suatu saat aku kembali bersamanya?" tanya Daniel dengan tatapan tajam tertuju pada gadis itu.


Sementara tangannya terus saja bergerak, mengusap lembut kulit mulus Dania. Bukan hanya itu, Daniel juga tak hentinya menciumi rambut serta pundak Dania yang tercium begitu wangi di indera penciuman lelaki itu.


"Ish, tidak akan, Mas. Karena aku yakin Mas Daniel tidak akan pernah mengkhianati aku," sahut Dania mantap sambil tersenyum manis.


Kata-kata Dania barusan mengingatkan Daniel ketika masih bersama Adelia. Ia pun pernah berkata seperti itu kepada Adelia. Namun, sayang kepercayaannya dihancurkan begitu saja oleh wanita itu.


Sekarang Daniel berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Adelia. Sebab ia tahu bagaimana sakitnya ketika kepercayaan dihancurkan.


"Baiklah, untukmu. Apa pun akan kulakukan," sahut Daniel sembari membuang napas berat.


Bu Ida dan Pak Adi saling lempar pandang. Mereka terlihat begitu bahagia saat mendengar perbincangan Daniel dan Dania. Akhirnya lelaki berkuasa itu bersedia membantu mereka menemukan Adelia.


"Kalian pulanglah dan tunggu kedatangan Adelia," titah Daniel kepada pasangan paruh baya tersebut.


"Terima kasih banyak, Tuan Daniel. Terima kasih banyak," ucap Bu Ida dan Pak Adi dengan wajah semringah.


"Berterima kasihlah kepada Dania. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan mungkin melakukan ini," sahut Daniel.

__ADS_1


Bu Ida dan Pak Adi pun segera menghampiri Dania kemudian berterima kasih kepada gadis itu.


...***...


__ADS_2