
Keesokan harinya.
Dania terlihat sudah segar. Gadis itu baru saja selesai melakukan ritual mandinya dan setelah berpakaian, ia pun kembali duduk di samping tempat tidur pasien yang ditempati oleh Daniel.
Dania memperhatikan luka di tangannya yang sudah mulai membaik. Yang pastinya luka itu tidak lagi mengeluarkan darah dan goresan yang terlihat di kulitnya pun sudah mulai kembali menutup.
Tanpa ia sadari, ternyata Daniel sudah membuka matanya. Ia tersenyum tipis saat menyaksikan Dania yang masih setia duduk di samping tempat tidurnya. Namun, senyuman itu mendadak hilang tatkala ia menyadari adanya luka di tangan istrinya itu.
"Apa yang terjadi pada tanganmu, Dania? Bagaimana kamu bisa terluka?" tanya Daniel.
Daniel sontak meraih tangan Dania kemudian memperhatikan bekas luka tersebut. Mata lelaki itu membulat sempurna setelah mengetahui adanya luka di tangan gadis itu. Dan ia merasa bodoh karena tidak menyadari luka tersebut.
Dania pun refleks menarik tangannya dari genggaman Daniel. Ia menyembunyikan luka yang ada di tangannya tersebut di balik punggungnya.
"Hanya luka gores, Sayang. Serius, ini bukan apa-apa." Dania menyunggingkan senyuman hangat untuk meyakinkan kepada lelaki tersebut bahwa dirinya baik-baik saja.
"Ah, aku tidak percaya! Coba sinikan tanganmu, biar aku lihat lagi!" titah Daniel dengan mata melotot menatap Dania.
"Tidak apa-apa, serius!" ucap Dania lagi, tak mau kalah.
"Kapan kamu mendapatkan luka itu? Dan kenapa?" tegas Daniel yang kini terlihat begitu serius.
Dania menatap dalam ke mata elang milik Daniel yang kini berhasil membuatnya sedikit ketakutan. Sebenarnya Dania takut berkata jujur jika sebenarnya ia mendapatkan luka tersebut di tempatnya mengajar. Ia takut Daniel tidak akan memberikan izin lagi kepadanya untuk kembali ke tempat itu.
Perlahan ia menyerahkan tangannya kembali ke hadapan lelaki itu dan dengan secepat kilat Daniel menyambutnya. Lelaki itu memperlihatkan luka tersebut kemudian berteriak dengan lantang.
__ADS_1
"Selly!" teriaknya.
Dania sampai terkaget-kaget mendengar teriakkan lelaki itu. Teriakan lelaki itu terdengar menggema hingga ke langit ruangan.
"Mas Daniel sayang, bukankah kemarin Selly sudah berpamitan kepadamu? Dan sekarang ia belum kembali ke sini," ucap Dania.
Baru saja Daniel membuka mulutnya, ingin menjawab ucapan Dania, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan tampaklah wajah cantik adik sepupunya itu.
"Kak Daniel memanggilku? Ada apa, Kak? Aku baru saja tiba," kata Selly dengan senyuman hangat yang terus mengambang di wajahnya.
"Heh, kamu ini bagaimana! Disuruh jagain Dania saja tidak becus. Coba kamu lihat apa yang terjadi pada istriku! Tangannya terluka dan kamu dengan rasa tak bersalah malah bilang, 'ada apa, Kak?'."
Selly mematung. Ia melirik Dania yang ternyata juga tengah memperhatikan dirinya tanpa berkedip sedikitpun. Wajah Dania terlihat tegang tak jauh berbeda dari ekspresi wajah Selly saat itu.
"Ehm, itu ... ehm, sebenarnya--" Belum selesai Selly berucap, Daniel menyelanya dengan kesal.
"Kak Daniel, coba Kakak jangan marah dulu. Dengarkan penjelasanku, ya," bujuk Selly sembari menghampiri pasangan itu kemudian duduk tepat di samping Dania.
"Begini, sekarang aku bertanya kepada Kakak. Apa Kakak pernah dengar kata 'Ikatan batin'?" tanya Selly balik.
"Ya, memangnya kenapa? Ini luka, Selly, dan memang apa hubungannya dengan kata itu?" kesal Daniel.
"Nah, tentu saja ada hubungannya, Kak Daniel. Tepat di saat Kakak mendapatkan musibah tidak mengenakan ini, hal itu ikut dirasakan oleh Dania dan terciptalah luka itu. Seandainya Dania tidak mendapatkan luka tersebut, mungkin Dania tidak akan tahu bahwa Kakak mendapatkan musibah," jelas Selly.
Daniel terdiam sejenak sambil menelaah perkataan Selly barusan. "Benarkah itu?"
__ADS_1
"Ya, Kak. Ikatan batin antara kalian berdua itu sangatlah kuat. Hanya saja kalian tidak menyadarinya. Jika Kakak masih tidak percaya, coba saja tanya Kak Roy. Soalnya kami juga sudah membahas soal ini sebelumnya," lanjut Selly mencoba meyakinkan.
"Dan ...." Selly menyeringai menatap Daniel dan membuat lelaki itu sedikit ngeri saat melihatnya.
"Dan apa?!" kesal Daniel.
"Dan ... aku sudah tahu apa yang membuat Kakak jadi begini," sahutnya lagi seolah mengancam Daniel agar tidak macam-macam kepadanya.
"Ja-jadi, kamu sudah tahu?!" pekik Daniel dengan mata membulat sempurna.
"Ya!"
"Hhh! Dari mana kamu tahu tentang itu? Pasti Roy yang sudah bercerita padamu, 'kan?" kesalnya. "Roy!" panggil Daniel dengan suara yang kembali melengking.
"Eh, ini tidak ada hubungannya dengan Kak Roy. Aku mengetahui hal itu dari video yang ditonton oleh para pengawalmu di depan. Dan jujur, video itu sangat lucu!" sahut Selly sambil tertawa renyah.
Daniel yang kesal melemparkan sebuah bantal ke wajah Adik sepupunya itu. "Kurang asemmm! Tertawalah sepuasmu, tapi ingat! Setelah ini kamu tidak boleh main-main ke rumahku lagi!" ketus Daniel sambil membuang muka.
Seketika tawa gadis itu menghilang dan berganti dengan wajah memelas. "Aduh, Kak! Jangan begitu!"
Dania yang sejak tadi tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh kedua orang itu, akhirnya membuka mulut dan bertanya.
"Kalian itu membicarakan masalah apa? Video apa?"
Daniel dan Selly serempak menggelengkan kepala mereka. "Bukan apa-apa."
__ADS_1
...***...