
Adelia kembali ke kediamannya dan ternyata rumah itu sudah sepi. Baik Bu Ida maupun Pak Adi tidak kelihatan batang hidung mereka.
"Kemana semua orang?" gumam Adelia sembari memperhatikan sekeliling ruangan yang ia lewati ketika menuju kamarnya.
Ia mencoba mengingat-ingat kemana kedua orang tuanya pergi. "Oh iya, aku baru ingat kalau hari ini ada acara di kediaman Daniel."
Adelia tersenyum sinis sambil terus melangkahkan kakinya hingga masuk ke dalam kamar.
"Mujur sekali sih, nasibmu Dania!" ucap Adelia sembari menjatuhkan dirinya ke atas tempat tidur. "Seharusnya hidup enakmu itu menjadi milikku! Kamu memang gadis sial! Kamu ambil semua kebahagiaanku dan kini meninggalkan kesengsaraan buatku! Akh, kesal-kesal-kesal!"
Adelia mengeluarkan unek-uneknya di dalam ruangan tersebut. Ia melemparkan bantal dan guling ke lantai kamar kemudian menghamburkan apa saja yang tertata di atas meja rias dan nakas.
Setelah beberapa menit kemudian kamar itu pun porak-poranda. Semua barang sudah tergeletak di sembarang arah. Sementara Adelia menangis di atas kasur yang berantakan sambil memukul perutnya.
"Kenapa nasibku sial begini, sih?! Kenapa malah Dania yang mendapatkan seluruh kesenangan itu! Kesenangan yang seharusnya menjadi milikku," gumam Adelia.
Cukup lama Adelia menangis dan mengeluarkan kekesalannya di atas kasur tersebut. Hingga akhirnya ia memilih bangkit dan mengambil benda kecil berbungkus kertas yang baru saja ia peroleh dari sahabat lamanya itu.
Ia duduk di tepian ranjang sambil membuka bungkusan benda itu. Setelah bungkusannya terbuka, ternyata di dalam bungkusan itu berisi beberapa biji obat. Adelia berjalan keluar dari kamar tersebut bersama obat itu di tangannya.
__ADS_1
Adelia berjalan menuju dapur kemudian mengambil segelas air putih. Ia memasukkan semua obat itu ke dalam mulutnya kemudian meminum segelas air putih tersebut hingga obat-obat itu masuk ke dalam perutnya.
"Sebaiknya aku kembali ke kamar, sebelum obat ini bereaksi," tutur Adelia.
Dengan langkah cepat, Adelia kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu rapat dan menunggu obat itu bereaksi.
Sementara itu di kediaman Daniel.
Kediaman Daniel nan luas itu tampak penuh dengan para tamu undangan. Berbagai merk mobil dari yang paling murah hingga yang paling mahal berjejer di area tempat parkir yang memang sudah disediakan olehnya. Termasuk mobil milik Pak Adi yang juga ada di dalam parkiran tersebut.
"Lihatlah, Bu! Acaranya benar-benar wah, ya! Tidak kalah dari acara pernikahan mereka dulu," ucap Pak Adi sembari memperlihatkan sekeliling tempat nan ramai itu.
Bu Ida tidak menjawab. Ia hanya memutarkan bola matanya sambil memasang wajah malas. Tatapan wanita paruh baya itu langsung tertuju pada pasangan Daniel dan Dania yang sedang asik menyambut tamu dengan wajah semringah mereka.
"Kenapa nasib mereka bisa semujur ini, sih? Sementara kami? Ya, Tuhan ... belum lagi masalah baru yang diciptakan oleh Adelia," gumam Bu Ida dengan wajah kusut.
"Kamu kenapa, Bu?" tanya Pak Adi kepada Bu Ida yang berjalan di sampingnya.
"Tidak apa-apa," jawab Bu Ida ketus.
__ADS_1
Kini Pak Adi tiba di hadapan Daniel dan Dania. Dania tampak senang karena pasangan itu bersedia hadir di acara syukurannya.
"Ayah, Ibu, terima kasih karena sudah bersedia hadir ke acara syukuran kami," ucap Dania sambil tersenyum lebar. Sementara Daniel terus memasang wajah datar melihat pasangan itu.
"Sama-sama, Nak. Semoga kamu dan calon bayimu selalu sehat. Rasanya Ayah sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana wajah cucu Ayah," ucap Pak Adi.
"Terima kasih atas do'anya, Ayah."
Bu Ida tidak bicara sepatah katapun. Ia hanya tersenyum dan berpura-pura bahwa dirinya pun ikut berbahagia dengan kehamilan Dania.
Selesai berbincang sebentar bersama Dania, pasangan itu pun segera menuju meja kosong. Mereka ingin menikmati berbagai hidangan yang sudah tersedia di meja saji.
Sepeninggal Bu Ida dan Pak Adi.
"Sebaiknya jangan terlalu percaya kepada Ibu tirimu itu, Dania sayang."
Dania menoleh ke arah Daniel sambil tersenyum. "Iya, Mas. Aku mengerti, kok."
"Pokoknya selama kamu hamil, aku tidak mengizinkan kamu pergi kemanapun, termasuk ke kediaman Pak Adi dan Bu Ida, kecuali bersamaku. Aku tidak mempercayai siapapun, Dania. Termasuk Ayahmu, Pak Adi," sambung Daniel dengan mata bengkaknya. Bengkak karena kurang tidur akibat ulah Dania yang mengalami insomnia.
__ADS_1
Dania tersenyum kecut kemudian menyandarkan kepalanya ke lengan Daniel. "Iya, Mas. Baiklah," jawab Dania.
...***...