Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Motor Baru


__ADS_3

"Roy, aku butuh seorang bodyguard yang handal dan dapat dipercaya," ucap Daniel ketika meeting-nya sudah selesai dan sekarang lelaki itu tengah bersantai di ruang pribadinya.


Roy menautkan kedua alisnya. Walaupun sebenarnya ia tidak tahu apa tujuan Daniel meminta seorang bodyguard kepadanya. Namun, apapun yang diinginkan oleh Daniel, ia akan menurutinya.


"Bagaimana dengan Max? Menurut saya Max sudah sangat berpengalaman. Ia sangat handal dan juga dapat dipercaya," jawab Roy.


Daniel mengerutkan alisnya, ia mencoba mengingat-ingat nama tersebut. Nama yang memang tidak asing di telinganya karena Roy sering sekali menyebut nama salah satu Bodyguardnya itu.


"Ah ya, sekarang aku ingat. Tapi, apa kamu yakin dia bisa menjaga Dania dengan baik?" tanya Daniel.


"Ya, saya sangat yakin, Tuan Daniel. Nona Dania akan aman jika berada di dalam pengawasannya," sahut Roy mantap.


"Baiklah kalau begitu. Mulai besok Max sudah harus menemani Dania ke manapun istriku pergi," titah Daniel.


"Baik, Tuan. Akan segara sama sampaikan," jawab Roy.


Tiba-tiba Daniel teringat akan motor sport yang ia minta Roy untuk membelinya. Ia heran, bahkan sampai sekarang motor itu tak juga kelihatan batang hidungnya.


"Roy, ngomong-ngomong di mana motor sport yang pernah aku minta padamu? Kenapa sampai sekarang aku tidak juga melihat keberadaan benda itu," tanya Daniel kemudian.

__ADS_1


Roy tersenyum getir. Ia tidak menyangka bahwa Big Bossnya itu serius soal motor sport tersebut. "Ehm, maafkan saya, Tuan Daniel. Saya pikir Anda hanya bercanda soal motor itu, jadi sampai sekarang saya belum juga membelinya untuk Anda," sahut Roy.


"Apa?!" pekik Daniel sambil memasang wajah masam. Ia benar-benar kesal mendengar jawaban asistennya itu. "Dasar! Sekarang cepat pesan! Hari ini aku ingin menjemput Dania, dengan menggunakan motor itu," ucap Daniel dengan wajah serius dan kali ini Roy tidak berani mengabaikan perintah lelaki itu lagi.


"Baik, Tuan, akan segera saya pesan. Tapi ... apa Anda yakin, Tuan Daniel? Saya khawatir karena Tuan sama sekali tidak pernah menyentuh benda itu sebelumnya," sahut Roy dengan ragu-ragu.


Daniel tersenyum sinis. "Memang apa susahnya mengemudikan benda itu? Tinggal naiki trus di gas. Benar 'kan?"


Roy terdiam sejenak sambil memikirkan apa yang diucapkan oleh Daniel barusan. Ia bingung kenapa Daniel bisa begitu yakin bahwa mengemudikan motor sport itu sangat lah mudah. Padahal selama ini Daniel bahkan tidak pernah menyentuh benda itu, apa lagi menaikinya.


"Roy?!" Daniel menyapa Roy yang masih terdiam.


"Emm, ya! Itu benar, Tuan." Walaupun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Roy benar-benar tidak yakin dengan jawabannya sendiri.


Seperti yang diminta Daniel sebelumnya, Roy membeli yang harganya jauh lebih mahal serta jauh lebih keren dari miliknya Erick. Tidak butuh waktu lama, motor itu tiba di kantor Daniel. Karena memang lelaki itu meminta motor tersebut di antarkan ke kantornya.


"Motornya sudah ada di depan, Tuan. Apa Tuan ingin melihatnya?" ucap Roy dengan wajah semringah menatap Daniel.


"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Aku akan segera ke sana," sahut Daniel dengan sangat antusias.

__ADS_1


Lelaki itu bergegas melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud oleh Roy barusan. Dan setibanya di tempat itu, Daniel segera menghampiri motor barunya yang berwarna hitam pekat tersebut. Warna favorit Daniel selama ini.


"Wow! Keren sekali!" gumamnya dengan mata membulat sempurna. Ia menghampiri motor tersebut kemudian mengelusnya dengan lembut, seolah mengelus tubuh Dania yang begitu mulus.


"Bagaimana, Tuan? Apa Anda menyukainya?" Roy menghampiri Daniel kemudian berdiri di samping lelaki itu sambil tersenyum hangat.


Daniel pun mengangguk dengan cepat. "Ya, aku sangat menyukainya. Sini, mana kuncinya! Aku ingin mencoba keunggulan benda ini sekaligus menjemput Dania agar ia bisa menaikinya bersamaku," jawab Daniel dengan sangat antusias.


Dengan ragu-ragu, Roy menyerahkan kunci motor tersebut ke tangan Daniel. Entah kenapa ada firasat buruk di hati dan pikiran Roy saat itu. Ia merasakan bakal ada insiden yang tidak menyenangkan setelah ini.


Setelah meraih kunci dari tangan Roy, Daniel pun segera menaiki motor keren tersebut dengan wajah semringah. Lelaki itu mulai mengotak atik motor tersebut hingga akhirnya ia pun menancapkan kunci yang diberikan oleh asistennya barusan.


"Anda yakin bisa menggunakan motor ini, Tuan?" tanya Roy dengan ragu-ragu.


"Ya, tentu saja Kenapa tidak? Dulu waktu masih kecil, sekitar usia empat atau lima tahun, aku sering menaiki motor yang ada akinya itu. Nah, itu kan hampir sama seperti benda ini. Hanya ukurannya saja yang jauh lebih besar, benar 'kan?" sahut Daniel dengan sangat yakin sekali.


Roy tersenyum getir. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar jawaban dari Daniel barusan. Sebenarnya ia ingin sekali protes, tapi takut lelaki itu marah.


Daniel yang begitu yakin dengan kepercayaannya, mulai menghidupkan mesin motor tersebut dengan bimbingan dari salah satu anak buahnya. Sementara Roy hanya diam sambil memperhatikan apa yang dilakukan oleh Big Bossnya itu.

__ADS_1


"Ok, aku sudah siap meluncur! Dania sayang, tunggu aku, aku akan datang menjemputmu!" ucap Daniel dengan keyakinan penuh.


...***...


__ADS_2