Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Pengakuan Dania


__ADS_3

"Maafkan aku, Mas. Aku tidak tahu," jawab Dania sembari melirik Selly yang masih berdiri di tepi tempat tidur Daniel.


Daniel tahu bahwa Dania berbohong padanya dan ia juga tahu bahwa Dania sengaja berbohong karena ada masih ada Selly di tempat itu.


Selly menghanguskan napas berat. "Ya sudahlah, aku pergi dulu, Kak. Aku ingin menemani Ibu, kasihan dia."


Daniel pun mengangguk dan membiarkan Selly pergi dari kamarnya menuju ruangan, di mana Tante Riska sedang beristirahat. Sepeninggal Selly, Daniel lagi-lagi mempertanyakan hal yang sama seperti yang ia tanyakan barusan kepada istrinya itu.


"Dania sayang, katakan yang sejujurnya padaku. Sebenarnya ada hubungan apa kamu dan Tante Riska? Sejak tadi kuperhatikan baik kamu maupun Tante Riska sama-sama terlihat aneh," ucap Daniel.


Dania masih ragu menceritakan kebenaran itu kepada Daniel. Namun, disembunyikan pun rasanya tidak mungkin. Cepat atau lambat, semuanya pasti akan terbongkar. Apa lagi Tante Riska adalah orang terdekatnya Daniel.


Sebenarnya ...." Dania kembali menghentikan ucapannya kemudian membalas tatapan Daniel.


"Sebenarnya, apa?" tanya Daniel yang semakin penasaran.


"Sebaiknya kamu tanyakan saja hal itu kepada Tante Riska, Mas. Aku tidak ingin salah bicara dan akhirnya menimbulkan fitnah," sahut Dania kemudian.

__ADS_1


"Hei, Manis! Kemari lah," ucap Daniel sembari menarik lembut tangan Dania dan mengajaknya naik ke atas bed pasien. Dania pun menurut saja. Ia duduk di samping Daniel kemudian menyandarkan kepalanya ke pundak lelaki itu.


"Jangan sembunyikan apapun dariku. Mulai sekarang aku tidak ingin ada rahasia di antara kita berdua. Jadi, ceritakan lah. Aku siap memasang telingaku dengan baik di sini," ucap Daniel sembari mengelus lembut puncak kepala Dania.


Dania kembali terisak. Ia menangis kemudian memeluk tubuh Daniel dan membenamkan kepalanya ke dada lelaki itu. "Apa kamu tahu, Mas? Ternyata Tante Riska itu adalah Ibuku. Ibu kandungku," lirih Dania di sela isak tangisnya.


"Apa?!" pekik Daniel.


Daniel yang begitu syok mendengar penuturan Dania barusan, segera melerai pelukan mereka kemudian meraih wajah gadis itu. "Kamu serius?"


Daniel terdiam sejenak, tetapi tatapan tajamnya masih tertuju pada isterinya itu.


"Aku pernah dengar dari Selly yang menyebutkan bahwa Tante Riska pernah memiliki keluarga kecil. Namun, keluarganya hancur karena masuknya seorang wanita kedua dalam kehidupan mantan suaminya. Tapi aku tidak pernah tahu siapa nama mantan suaminya Tante Riska," tutur Daniel kemudian sembari menyeka air mata Dania.


"Lalu, apa kamu tidak ingin menemui Ibumu, Dania sayang? Seharusnya kalian bahagia saat ini karena kalian sudah lama, 'kan tidak saling bertemu?" lanjut Daniel.


Dania menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Aku tidak yakin dia senang bertemu denganku dan aku juga tidak yakin dia merindukan aku. Selama ini hanya aku yang berjuang mencari keberadaannya, Mas. Sementara dia ...." Bibir Dania kembali bergetar. Suaranya seakan kembali tersekat di dalam kerongkongannya.

__ADS_1


Daniel menghembuskan napas berat dan wajah lelaki itu pun terlihat sendu.


"Jangan berkata seperti itu, Dania sayang. Kita belum tahu kebenarannya. Siapa tahu Ibumu juga sama sepertimu, berjuang mencari keberadaanmu. Namun, ia tidak berhasil," tutur Daniel. Daniel kembali meraih tubuh Dania ke dalam pelukannya.


"Tidak ada alasan ia tidak bisa menemukan keberadaanku, Mas! Memangnya selama ini aku ke mana? Aku tidak pernah ke mana-mana. Aku masih berada di rumah itu, rumah sederhana yang dikredit oleh Ayah ketika masih bersama Ibu," sahut Dania dengan nada kesal.


"Apa lagi dengan keadaannya yang serba berkecukupan. Tidak ada alasan, tidak punya uang sama seperti diriku. Ya, keterbatasanku membuat aku kesusahan mencari keberadaannya. Namun, aku tidak pernah menyerah, Mas! Walaupun Bu Ida terus mengancam akan menghukumku jika aku berani mencari-cari di mana Ibuku," lanjut Dania.


"Yang sabar ya, Sayang. Kita tunggu hingga Tante sadar dan dengarkan penjelasannya," ucap Daniel, mencoba menenangkan Dania saat itu.


Walaupun Dania tidak yakin wanita itu bersedia menemuinya. Namun, ia pun menurut saja apa yang diucapkan oleh Daniel.


"Apa kamu tahu, selama ini perjuangan Tante Riska untuk bisa hidup bersama Om Tommy pun tidak kalah berat. Apa kamu ingin tahu bagaimana cerita perjuangannya?" Daniel melirik Dania sambil tersenyum hangat.


"Tidak. Aku tidak peduli dan juga tidak mau tahu," sahut Dania sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin tahu cerita itu. Yang ingin Dania tahu saat ini hanya satu, alasan Bu Riska yang tidak pernah ingin menemui dirinya selama 14 tahun.


***

__ADS_1


__ADS_2