Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Menuju Rumah Sakit


__ADS_3

"Dania, kamu mau kemana?" tanya Erick.


Erick yang menyadari kepanikan Dania, segera menghampiri gadis itu kemudian meraih tangannya. Tatapan lelaki itu langsung tertuju pada luka di tangan Dania yang masih mengeluarkan darah segar.


"Apa yang terjadi pada tanganmu, Dania? Tanganmu terluka!" pekik lelaki itu.


Selly yang tadinya juga panik, mendadak terdiam melihat ekspresi Erick yang begitu memperhatikan sosok Dania. Bibirnya tertutup rapat dan matanya terus tertuju pada lelaki itu tanpa berkedip sedikitpun.


"Sepertinya aku harus pulang, Mas. Aku yakin ada sesuatu yang sedang terjadi, tapi aku tidak tahu apa itu," sahut Dania, mencoba melepaskan genggaman tangan Erick.


Erick menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu. Kemari lah!"


Erick ingin mengajak Dania untuk duduk kembali ke kursinya. Ia ingin sekali mengobati luka yang ada di tangan Dania. Namun, gadis itu terus menolaknya. Ia bersikeras ingin pulang.


"Aku ingin pulang, Mas, ku mohon!" lirih Dania.


Selly yang tadi sempat terdiam dan terus memperhatikan Erick yang begitu mencemaskan Dania, tiba-tiba teringat akan tugasnya. Daniel menugaskan dirinya untuk berjaga-jaga di samping Dania agar Erick tidak berbuat macam-macam terhadapnya termasuk menyentuh gadis itu.


Selly menghampiri kedua orang itu kemudian melerai genggaman tangan Erick dari Dania. "Sebaiknya kita pulang, Dania. Dan soal luka itu, kami punya Dokter pribadi yang akan mengobatinya," sela Selly sembari melirik Erick yang tampak kesal karena merasa terganggu dengan kehadirannya.


"Ayo, Selly!" Dania meraih tangan Selly kemudian menariknya. Namun, baru saja Dania melangkahkan kakinya, tiba-tiba ia teringat anak didiknya yang masih juga berada di ruangan itu dengan wajah terheran-heran.


"Ehm, maafkan Kakak, ya! Kakak ingin pulang terlebih dahulu. Nanti biar Kak Yaya yang gantiin posisi Kakak untuk sementara," ucap Dania kepada beberapa anak didiknya.


"Baik, Kak."


Dania kembali menarik tangan Selly dan mengajaknya menuju halaman depan, di mana mobil mewah milik Daniel masih terparkir bersama seorang sopir pribadi di dalamnya.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu kenapa, Dania?" tanya Selly yang masih kebingungan melihat reaksi Dania.


"Aku tidak tahu, Selly. Tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, tapi sayangnya aku tidak tahu apa itu!"


Kedua gadis itu kini tiba di halaman depan. Melihat kehadiran Dania dan Selly saat itu, Pak Sopir itu pun segera membukakan pintu mobil tersebut untuk mereka.


"Silakan masuk, Nona."


"Terima kasih, Pak."


Baru saja Dania ingin memasuki mobil tersebut, tiba-tiba sebuah mobil mewah milik Daniel yang sering digunakan oleh Roy, muncul di halaman tersebut. Perasaan Dania semakin tak menentu setelah melihat kedatangan mobil tersebut.


"Mas Daniel? Kenapa dia ke sini, bukankah katanya dia sedang sibuk?" gumam Dania pada dirinya sendiri.


Bukan hanya Dania, Selly pun tampak bingung. Gadis itu ikut memperhatikan mobil tersebut bahkan tanpa berkedip sedikitpun. Mobil mewah itu pun berhenti tepat di depan Dania dan Selly yang terlihat kebingungan. Sosok Roy keluar dari mobil tersebut dan segera membuka pintunya untuk kedua gadis itu.


"Baik, Tuan," sahut Pak Sopir.


Dania mengintip ke dalam mobil dan ternyata Tuan Suaminya yang menyebalkan itu tidak ada di sana. "Di mana Mas Daniel? Kenapa dia tidak ikut?"


Roy tampak ragu menceritakan yang sebenarnya kepada Dania soal insiden memalukan yang terjadi pada Daniel. Namun, ia pun tidak punya pilihan lain selain berkata jujur. Lagi pula, ia ditugaskan untuk membawa kedua gadis kesayangannya itu ke rumah sakit.


"Ehm, Tuan Daniel sedang berada di Rumah Sakit dan saya ditugaskan untuk menjemput Anda berdua," jawab Roy


"Rumah Sakit?!" pekik Selly dan Dania secara bersamaan.


"Ta-tapi kenapa? Apa terjadi sesuatu pada Mas Daniel?" lanjut Dania yang kini terlihat memucat.

__ADS_1


"Sebaiknya Nona lihat saja sendiri saja. Saya tidak berani mengatakannya. Takut salah," sahut Roy.


Mendengar jawaban dari Roy, Dania pun bergegas masuk ke dalam mobil dan disusul oleh Selly yang juga tidak kalah cemasnya. Setelah kedua gadis itu masuk, Roy pun segera melajukan mobil tersebut menuju Rumah Sakit, di mana Daniel masih mendapatkan perawatan oleh tim medis.


Di perjalanan.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Mas Daniel? Semoga saja ia tidak kenapa-kenapa," gumam Dania dengan wajah cemas.


"Dania, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?" tanya Selly yang sejak tadi terus memperhatikan gadis itu dengan seksama.


Dania pun menoleh kepada Selly. "Ya?"


"Apa kamu mencintai Kak Daniel?"


Dania terdiam sejenak setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Selly saat itu. Sementara Roy yang sedang duduk di depan kemudi, tidak sabar menunggu jawaban dari gadis itu. Sama halnya Selly, Roy pun ikut penasaran akan perasaan Dania terhadap Daniel.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Dania balik bertanya.


"Tidak apa-apa, tapi sepertinya kalian punya ikatan yang kuat. Buktinya, kamu dapat merasakan apa yang terjadi pada Kak Daniel. Kecemasan yang kamu rasakan barusan, ternyata berhubungan dengan Kak Daniel. Benar, 'kan?" tutur Selly.


Dania kembali terdiam untuk sesaat sambil memperhatikan luka di tangannya. "Mungkin karena dia suamiku."


"Tidak, Dania! Bukan hanya itu! Aku yakin sebenarnya kalian itu sudah memiliki perasaan yang sama, tetapi kalian tidak pernah menyadarinya," lanjut Selly dengan sangat antusias.


Roy yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu, setuju pada pendapat Selly. Ia juga yakin bahwa pasangan itu memang saling mencintai satu sama lain hanya saja gengsi mereka terlalu tinggi untuk saling mengakuinya. Terutama Big Bossnya itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2