Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 90


__ADS_3

"Daniel?!"


Adelia mencari sosok lelaki itu di antara lelaki bertubuh besar yang ada di hadapannya saat ini. Tampak kekecewaan di raut wajahnya ketika mengetahui bahwa ternyata lelaki itu tidak ada di antara mereka.


"Di mana Tuan kalian?" tanya Adelia kepada para lelaki itu.


"Tuan menunggu di mobil," jawab salah satu dari mereka.


Akhirnya Adelia pun tersenyum bahagia. "Benar 'kan! Dia tidak akan pernah bisa move on dariku," gumamnya pelan.


"Sebaiknya cepat, Nona. Tuan tidak ingin kita berlama-lama di sini," ucap lelaki itu lagi.


"Baiklah."


Baru beberapa langkah Adelia mengikuti langkah para lelaki itu, tiba-tiba Adelia kembali ke ruangan itu. Ia berlari kecil menuju meja rias tua yang ada di ruangan tersebut. Sementara para lelaki itu tampak kebingungan dibuatnya.


"Mau apa lagi wanita itu?"


"Entahlah?" jawab yang lainnya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Nona Adelia, sebaiknya cepat!"


"Ya, ya! Sebentar. Aku ingin memastikan bahwa wajahku masih terlihat cantik. Aku tidak mungkin bertemu Tuan kalian dengan wajah kucel, 'kan?" sahut Adelia sembari memperhatikan wajahnya di cermin yang sudah mulai buram tersebut.


Para lelaki itu saling berpandangan dengan wajah heran. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Adelia.


"Apa dia menyukai Tuan Roy?"

__ADS_1


"Menurutmu?"


"Ya. Menurutku dia menyukai Tuan Roy. Bukan kah sejak tadi dia terus menanyakan di mana Tuan Roy?"


Lelaki itu tertawa pelan. "Yang benar saja."


Setelah cukup puas dengan penampilannya, Adelia pun bergegas menghampiri para lelaki itu.


"Mari, Nona."


Adelia terlihat begitu bahagia. Ia berharap bisa memperbaiki kesalahan yang pernah ia lakukan kepada Daniel. Ia ingin mengulang kisah dulu dan kembali ke kehidupan lelaki itu.


"Bagaimana dengan para penjahat itu? Apa mereka sudah kalian amankan?" tanya Adelia kepada salah satu lelaki itu.


"Tentu saja, Nona. Jika tidak, tidak mungkin kami bisa menjemput Anda di sini?" jawabnya.


Adelia pun akhirnya lega. Kini pelariannya sudah berakhir dan sekarang tidak ada yang perlu ia takuti lagi, baik itu Samuel atau siapapun. Selama Daniel ada di sampingnya, ia yakin bahwa ia akan selalu aman sebab Daniel pasti akan selalu melindungi dirinya.


"Oh ya, satu lagi! Apa Tuan kalian juga ikut serta dalam penangkapan para penjahat itu? Hmm, aku yakin sekali dia pasti terlihat sangat keren saat itu. Benar 'kan? Sayang sekali aku tidak melihatnya," tutur Adelia lagi.


Lagi-lagi para lelaki itu saling lempar pandang. Mereka ingin sekali tertawa, tetapi tidak ingin Adelia tersinggung.


"Tuan tidak ikut dalam penggrebekan itu, Nona Adelia. Tuan lebih memilih menunggu di dalam mobil dari pada ikut kami," jawab lelaki itu.


"Loh, kenapa?" Adelia terkejut. Ternyata apa yang ada di pikirannya salah.


"Entahlah. Dia bilang hanya malas saja," jawabnya lagi.

__ADS_1


"Malas?" Adelia menautkan kedua alisnya. "Apa mereka serius soal itu? Daniel malas menyelamatkan aku? Ah, rasanya tidak mungkin," gumam Adelia pelan tanpa kedengaran oleh ketiga lelaki itu.


Setibanya di depan mobil, lelaki itu pun segera membukakan pintu untuk Adelia. Adelia tampak senang, karena saat itu ia melihat sosok lelaki yang sejak tadi ia cari-cari keberadaannya.


Lelaki yang saat ini sedang mengenakan setelan jas hitam, yang sedang memalingkan wajahnya dari Adelia dan menghadap ke kaca mobil. Adelia segera masuk ke dalam mobil tersebut kemudian memeluk lelaki yang sedang memalingkan wajahnya itu dengan sangat erat.


"Daniel! Aku sangat merindukanmu," lirih Adelia sambil menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu.


Roy yang saat itu sedang merogoh saku celananya di bagian sebelah kanan sontak terperanjat. Lelaki itu bingung karena tiba-tiba saja ada seorang wanita yang memeluk tubuhnya serta menyandarkan kepala di pundaknya.


"Nona Adelia?" Roy berpaling dan kini ia menatap Adelia yang masih menyandarkan kepala di pundaknya.


"Roy!"


Adelia pun tidak kalah terkejutnya. Wanita itu segera melepaskan pelukannya kemudian menjauh beberapa jengkal dari Roy. Wajahnya memerah setelah sadar bahwa lelaki yang ia peluk bukanlah Daniel, melainkan Roy Sang Asisten lelaki pujaannya itu.


Sementara itu, para lelaki bertubuh besar yang sejak tadi memperhatikan mereka masih cekikikan. Menertawakan kelakuan Adelia yang tampak aneh bagi mereka.


"Loh, katanya tadi ada Daniel? Lalu di mana sekarang lelaki itu?!" ucap Adelia dengan wajah kesal.


Roy melotot menatap satu-persatu anak buahnya itu. Sementara yang dipelototi oleh lelaki itu hanya bisa cekikikan.


"Kami tidak pernah bilang ada Tuan Daniel di sini. Bukan kah Nona menanyakan soal Tuan kami? Nah, inilah Tuan kami. Tuan Roy," jawab salah satu lelaki itu dengan gamblangnya.


"Hhh!" Adelia sangat kesal. Ia menghentakkan kakinya dengan wajah ditekuk sempurna.


...***...

__ADS_1


__ADS_2