
"Sebaiknya kamu ganti pakaianmu dulu. Biar Ibu bicara sama Ayahmu," ucap Bu Ida sambil menuntun Adelia ke kamarnya di lantai dua.
"Ya, Bu."
Setelah berhasil mengantarkan Adelia ke kamarnya, Bu Ida pun kembali ke ruang makan di mana Pak Adi masih duduk di sana sambil memainkan ponselnya. Sementara piring nasinya sudah tampak kosong dan tidak tersisa sebutir nasi pun.
"Bagaimana Adelia? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Adi.
"Sepertinya dia sedang sakit, Yah. Apa Ayah bisa mengantar kami ke Dokter sebelum Ayah berangkat kerja?" tanya Bu Ida sambil merapikan meja makannya.
Pak Adi pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah kalau begitu. Sebaiknya Ayah bersiap dulu," ucap Pak Adi sembari melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu menuju halaman depan, di mana mobilnya terparkir.
Sementara Pak Adi memanaskan mobil, Adelia masih mengganti pakaiannya di dalan kamar dan Bu Ida berada di dapur untuk membereskan meja serta peralatan makan dan yang lainnya.
Setelah beberapa saat, mereka pun siap berangkat ke Dokter untuk memeriksakan kondisi Adelia.
"Mari, Bu." Pak Adi membukakan pintu belakang mobil untuk Adelia dan Bu Ida. Setelah kedua wanita itu masuk dan duduk di sana, Pak Adi pun bergegas menyusul kemudian melajukan mobilnya menuju tempat praktek Dokter.
"Ayah hanya mengantarkan saja, ya. Soalnya Ayah sudah terlambat. Nanti kalian pulang naik taksi aja," ucap Pak Adi yang masih fokus menatap jalan.
__ADS_1
"Ya, baiklah," sahut Bu Ida sambil membuang napas kasar.
Tidak berselang lama akhirnya mereka pun tiba di tempat praktek Dokter tersebut. Namun, sayangnya tempat praktek Dokter tersebut masih belum buka.
"Loh, bagaimana ini? Tempat prakteknya masih tutup," ucap Pak Adi sambil melongok di kaca mobil memperhatikan tempat itu dengan seksama.
"Ya, sudah. Tidak apa-apa. Kami bisa menunggu di sini," jawab Bu Ida.
Bu Ida membuka pintu mobil kemudian menuntun Adelia memasuki tempat itu. Mereka duduk di sebuah kursi tunggu yang ada di teras dan menunggu di sana. Sementara Pak Adi meneruskan perjalanannya menuju tempat kerja.
"Apa masih lama lagi, Bu? Rasanya aku tidak sanggup berlama-lama di sini. Kepalaku sakit dan perutku kembali mual-mual," lirih Adelia.
"Sebentar lagi," ucap Bu Ida mencoba menenangkan Adelia yang tampak gelisah.
"Mari, Bu. Silakan masuk," ajak Perawat itu kepada Bu Ida dan Adelia yang tampak lemah.
"Terima kasih."
Bu ida pun menuntun Adelia dengan sangat hati-hati memasuki ruangan praktek tersebut. Dokter yang bertugas di tempat itu tersenyum dan menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Ia mempersilakan Bu Ida dan Adelia untuk duduk di kursi yang ada di depan mejanya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, Dok. Anak saya sedang sakit. Katanya akhir-akhir ini perutnya suka mual dan sering muntah-muntah. Anak saya ini memang ada riwayat maag sih, Dok. Apa mungkin maagnya semakin parah?" tanya Bu Ida kepada Dokter.
Dokter itu pun mengangguk pelan kemudian mengajak Adelia ke tempat bed pasien. Setelah Adelia berbaring di sana, Dokter pun mulai memeriksa kondisi Adelia saat itu.
Setelah beberapa saat, Dokter kembali ke kursinya dan duduk di sana dengan ekspresi wajah yang sedikit bingung. Begitu pula Adelia, ia kembali ke kursinya dan duduk di samping Bu Ida sambil menunggu penjelasan dari Dokter tersebut.
"Saya rasa ini bukan soal lambung Mbak Adelia, Bu"
"Maksud Dokter?" Bu Ida mulai panik.
"Saya rasa Nona Adelia positif hamil."
"Apa, hamil?!" pekik Adelia dan Bu Ida secara bersamaan. Mata bu Ida membulat sempurna. Ia begitu syok mendengar jawaban dari Dokter tersebut.
"Tidak mungkin, Dok! Tidak mungkin Adelia hamil, orang dia saja masih single!" kesal Bu Ida dengan wajah memerah menatap Dokter itu.
"Begini saja, Bu. Sebaiknya Ibu periksakan Nona Adelia ke Dokter Spesialis Kandungan karena di sana kalian bisa memastikannya dengan jelas. Saya tidak bisa meyakinkan kepada Anda bahwa jawaban saya itu benar 100 persen karena saya tidak memiliki alat-alat pemeriksaan kehamilan yang lengkap."
__ADS_1
Bu Ida menatap Adelia dengan wajah kesal. Sementara Adelia tertunduk lesu sambil mengelus perutnya.
...***...