Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Kembali Mengajar


__ADS_3

"Huft! Hari ini ada rapat penting yang harus aku hadiri dan aku tidak bisa menemanimu berangkat ke yayasan itu," ucap Daniel kepada Dania dengan wajah masam.


Dania tersenyum sambil memeluk lengan Daniel dengan erat. "Tidak masalah, 'kan ada Max yang akan menemaniku," sahut Dania.


Daniel melirik Max yang berdiri tak jauh darinya. "Ingat, Max. Tugasmu adalah memastikan istriku tak disentuh oleh siapapun," ucapnya dengan tegas.


"Baik, Tuan!" Max menunduk hormat.


"Ish! Jangan seperti itu, Mas Daniel sayang! Jika Mas tidak suka Mas Erick mendekatiku, cukup Mas Erick saja yang di suruh jaga jarak! Bukan malah semua orang," kesal Dania.


"Peraturan baruku berlaku untuk semua orang dan bukan hanya Erick saja," tegasnya sambil membuang muka.


"Ck!" Dania berdecak kesal karena lelaki itu memang keras kepala. Jika dia sudah bilang A, maka harus A, tidak boleh jadi B, apa lagi C.


Tepat di saat perdebatan kecil itu terjadi, sebuah mobil berukuran mungil berwarna pink, masuk ke dalam halaman nan luas tersebut. Seseorang yang sedang duduk di belakang kemudi, terlihat melambaikan tangannya kepada Dania dan Daniel sambil menyunggingkan senyuman hangat.


"Mau apa lagi dia ke sini? Setelah dia sah menjadi saudara perempuanmu, dia malah semakin betah tinggal di sini," gerutu Daniel sambil menatap lekat ke arah Selly, Sang pemilik mobil mungil tersebut.


"Eh, Mas Daniel, jangan begitu lah. Biar bagaimana pun Selly 'kan juga sepupumu," jawab Dania seraya membalas lambaian tangan Selly.


Gadis itu keluar dari mobilnya dan segera berlari kecil menuju ke arah Daniel dan Dania. Kedua pasangan itu saling tatap dengan wajah bingung. Bagaimana tidak, hari ini penampilan Selly terlihat berbeda dari biasanya.


"Hei, Selly! Kamu kesambet setan apa pagi-pagi begini?" celetuk Daniel sambil tertawa pelan.

__ADS_1


"Mas Daniel," celetuk Dania sambil menyenggol lengan kekar suaminya itu agar tidak bicara sembarangan.


"Biarkan saja, lagi pula Selly adalah gadis yang tidak mudah tersinggung," sahut Daniel.


Kini gadis itu berdiri tepat di hadapan Daniel dan Dania. "Bagaimana menurut kalian? Apa aku terlihat cantik?" ucapnya sambil melenggang lenggok di hadapan pasangan itu.


Daniel memperhatikan pakaian yang tengah melekat di tubuh Selly saat itu dan entah kenapa ia merasa gadis itu sepertinya tengah meniru gaya seseorang.


"Apa ini perasaanku saja atau memang kamu tengah mengikuti gaya berpakaiannya Dania, Selly?" Daniel tergelak. "Tapi, biar bagaimana pun kamu mencoba meniru gaya Dania, kamu tetap tidak akan terlihat seperti dia," lanjut Daniel sembari menghentikan tawanya.


Selly tampak kesal. Wajahnya menekuk sempurna setelah mendengar perkataan Daniel barusan. "Memangnya apa yang membuat aku dan Dania terlihat berbeda? Padahal aku sudah susah payah mencari pakaian yang hampir sama seperti miliknya."


Daniel mencebikkan bibirnya. "Banyak. Tapi yang paling menonjol di antara semuanya adalah sifat kalian. Kamu itu bawel dan sangat manja. Berbeda dengan Dania. Dania adalah gadis yang sangat istimewa. Dia mandiri dan juga--" Belum habis Daniel berucap, Dania mencubit perut lelaki itu pelan.


Ia memasang wajah malas ketika Daniel melihat ke arahnya.


"Bukan seperti itu maksud Mas Daniel, Sel. Maksud Mas Daniel, aku memang wanita yang istimewa, tapi di mata dia. Namun, kamu pun akan menjadi wanita yang istimewa di mata lelaki yang tepat. Kalau menurutku, tetaplah menjadi sosok Selly yang apa adanya hingga nanti kamu akan menemukan sosok lelaki yang akan menerima dirimu apa adanya. Bukan karena ada apanya," tutur Dania.


"Aku rasa itu akan sulit," ucap Selly tampak lesu.


"Loh, memangnya kenapa?" tanya Dania heran.


"Tidak apa, sudah lupakan saja!" sahutnya kemudian.

__ADS_1


Daniel melirik jam tangannya kemudian melepaskan pelukannya bersama Dania. "Aku harus berangkat sekarang. Oh ya, jaga dirimu baik-baik dan selalu ingat pesanku," ucap Daniel sembari melabuhkan ciuman hangat di puncak kepala Dania.


"Baik, Mas. Mas juga, ya." Dania melambaikan tangannya kepada Daniel yang kini sudah memasuki mobil dan bersiap menuju perusahaan besar miliknya.


"Bye!" Daniel membalas lambaian tangan Dania hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.


Sementara itu.


Max menghampiri Dania dan membukakan pintu mobil untuknya. "Silakan masuk, Nona. Sebaiknya kita juga berangkat sekarang," ucapnya.


"Baiklah."


Sebelum Dania masuk ke dalam mobil tersebut, Selly menyerobot masuk dan duduk terlebih dahulu. Apa yang dilakukan oleh Selly barusan membuat Dania bingung.


"Loh, Selly? Kamu ikut?" tanya Dania sambil menautkan kedua alisnya heran.


"Ya, Dania. Aku akan ikut bersamamu hari ini. Aku ingin menemui seseorang," jawabnya sambil tersenyum lebar.


Dania menggelengkan kepalanya. "Mas Erick lagi?"


"Ya!" Selly menganggukkan kepalanya dengan cepat dan gadis itu terlihat begitu bersemangat setelah mendengar nama Erick disebutkan.


"Terserahlah, tapi berjanjilah untuk tidak menggangu kegiatan belajar dan mengajarku," celetuk Dania sembari masuk dan duduk di samping Selly.

__ADS_1


"Baiklah, aku berjanji! Aku tidak akan menjadi bodyguard-mu kali ini, tapi aku ingin menjadi bodyguardnya Mas Erick," jawab Selly mantap.


...***...


__ADS_2