Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Berpisah


__ADS_3

Dokter Setyo dan Dokter Jacob dari Australia yang baru saja tiba,  bergegas masuk ketika tombol ruang ICU berbunyi.


“Tangan Om Edward tadi sempat bergerak,” ucap Ghina, segera menyingkir dan memberi ruang kepada para dokter untuk memeriksa Edward.


Cukup lama para dokter mengecek Edward, Ghina memutuskan untuk menunggu di luar saja.


Opa Thalib, Oma Ratna  dan kedua orang tua Ghina turut menunggu di ruang tunggu.


Hampir satu jam Dokter Setyo dan Dokter Jacob di dalam ruang ICU, tiba-tiba salah satu perawat meminta Opa Thalib masuk ke ruang ICU.


“Sir Thalib, setelah saya diskusi dengan Dokter Setyo dan melihat kondisi Sir Edward yang mulai stabil, serta ada sedikit respon. Saya sarankan sore ini juga Sir Edward dipindahkan ke rumah sakit di Australia, alat penunjang  medis di sana lebih lengkap untuk kondisi Sir Edward saat ini. Tadi saya telah mendiskusikannya dengan Dokter Setyo,” penjelasan Dokter Jacob.


“Menurut Dokter Setyo, dengan kondisi Edward seperti ini, apakah aman dalam penerbangannya selama enam jam?” tanya Opa Thalib.


“Melihat kondisi saat ini, insya allah  Pak Edward aman, karena alat medis tetap dibawa,” jawab Dokter Setyo.


“Jika memang menurut Dokter Jacob, Edward harus di pindahkan segera dan aman dalam perjalanan. Saya menyetujuinya, kalau begitu persiapkan Edward untuk keberangkatannya sore ini, saya akan menyiapkan pesawat pribadi terlebih dahulu. Dan sebaiknya Dokter Setyo ikut ke Australia untuk turut mendampingi,” ujar Opa Thalib.


“Baik Pak Thalib, saya  akan segera koordinasi terlebih dahulu dengan team dokter yang lain.”


Selesai diskusi dengan Dokter Setyo dan Dokter Jacob, Opa Thalib keluar ruangan. “Kalian  semua ikut  ke ruang rawat,” titah Opa Thalib......kepada semua yang duduk di ruang tunggu ICU.


Tanpa bertanya kepada Opa Thalib, mereka semua mengikuti langkah Opa Thalib, dan masuk ke ruang rawat tempat menginap Opa Thalib dan Oma Ratna.


Oma Ratna, Papa Zakaria, Mama Sarah, Derby , Celia, Ferdi dan Ghina.......sudah duduk di sofa dan kursi yang ada di dalam kamar.


“Saya terpaksa mengadakan rapat keluarga dadakan, ini menyangkut kesehatan Edward,” ucap Thalib.


Semua tampak tegang, termasuk Ghina.


“Sore ini Edward akan dipindahkan ke rumah sakit Australia, demi kesembuhannya. Dan saya menyetujuinya, serta akan turut berangkat ke sana. Mama kalau mau ikut sama papa, boleh.”


Oma Ratna cepat menganggukkan kepalanya, tanda turut mendampingi Edward di sana.


“Zaka untuk sementara kamu sebagai Kepala Bagian Operasional, menjadi penanggung jawab sementara perusahaan Thalib Grup selama saya berada di Australia, di bantu oleh Ferdi dan assiten saya,” titah Opa Thalib.


“Baik Om Thalib, akan saya laksanakan,” jawab Papa Zakaria.


“Derby, Celia.......kalian  berdua  bantu kontrol dan handle perusahaan dan hotel milik kakakmu dulu,” perintah Opa Thalib.


“Iya Pah, insha allah.....kami berdua bantu kontrol dan menghandlenya,” jawab Derby.

__ADS_1


Masalah pembagian tugas sudah selesai, sekarang Opa Thalib menatap wajah Ghina yang terlihat tegang. Opa Thalib mendekati gadis itu, dan duduk di hadapan Ghina.


“Ghina.....” panggil Opa Thalib.


“Ya Opa....,” jawab Ghina dengan menatap ke arah Opa Thalib


“Terima kasih sudah mau menjenguk Edward, sekarang kamu bisa melanjutkan perjalanan hidupmu, meraih cita-citamu, gapailah impianmu. Tatalah masa depanmu dengan baik,” ucap Opa Thalib.


“Opa hanya minta doa dari kamu untuk kesembuhan Edward, jika Edward masih di berikan umur panjang. Jika ternyata Allah berkehendak lain saat di Australia, Opa minta ke ikhlasan Ghina untuk membuka pintu maaf dari segala kesalahan Edward terhadap kamu selama ini,” ucap Opa Thalib penuh  ke hati-hatian.


Dihati kecil Opa Thalib sesungguhnya ingin meminta Ghina turut mendampingi Edward selama di Australia apa pun nanti yang terjadi di sana. Tapi setelah di pikir ulang sungguh egois memintanya, apalagi entah kapan Edward akan bangun dari komanya atau tidak akan pernah bangun, dan pasti akan memakan waktu lama dan terbuang sia-sia masa muda Ghina. Lagi pula kisah rumah tangga Edward dan Ghina sudah masuk di pengadilan, tinggal dilanjutkan.


Opa Thalib tidak ingin mengulangi kesalahan untuk yang kedua kalinya, menyakiti hati Ghina karena sikap egois Opa Thalib, biarlah Edward dan keluarganya yang menanggung karmanya, tanpa melibatkan gadis yang bersalah.


Ghina tertunduk sejenak, kemungkinan buruk itu ada sekitar tujuh puluh persen, kemungkinan baik hanya tiga puluh persen......itu yang teringat di pikiran gadis itu, penjelasan Dokter Setyo tentang kondisi Edward.


“Ghina sudah memaafkan Om Edward, Opa. Ghina pastikan akan selalu mendoakan Om Edward semoga diberikan kesembuhan di sana,” hanya kata itu yang bisa terucap dari mulut Ghina. Tidak mungkin gadis itu memohon ke Opa Thalib untuk di ajak ke Australia untuk mendampingi Edward, sedangkan dari semua ucapan Opa Thalib tidak ada tawaran untuk dirinya turut serta ke sana.


Kepala Ghina kembali menunduk. “Kamu baik-baik aja kan, nak?” tanya Opa Thalib.


Ghina lantas mengangkat kepalanya “baik-baik saja, Opa,” jawabnya dengan wajah datar.


Bukankah ini yang kamu inginkan Ghina, perceraian......berarti  perpisahan. Tapi bukan dengan kematian seseorang.......yang kuinginkan berpisah dalam kondisi sama-sama masih hidup.......hati Ghina mulai berperang dengan dirinya sendiri.


Untuk yang terakhir kali.........batin Ghina.


Mata gadis itu mulai berkaca-kaca, akan tetapi wajahnya langsung dipalingkan agar orang yang berada dekat dengannya tidak mengetahui.


Opa Thalib dan Oma Ratna langsung bersiap-siap untuk keberangkatannya, sedangkan yang lainnya bergegas menuju ruang ICU.


Mama Sarah merangkul bahu Ghina saat mereka beriringan berjalan. Dan sesekali sambil mengusap bahu gadis itu. Ghina hanya bisa tersenyum tipis.


“Jika kamu ingin menangis, menangislah sayang. Jangan kamu tahan gejolak hatimu.......lepaskanlah. Tidak selamanya kamu bisa menahan semuanya di sini,” ujar Mama Sarah sambil menunjuk dada Ghina.


“Semua beban, semua pikiran tidak selamanya bisa di pendam sendiri, Nak. Tidak selamanya juga kita merasakan kesedihan atau menangisi seseorang karena ada rasa suka atau cinta, itu semuanya natural karena ada rasa empati. Mama tahu hatimu sedang sedih, ingin menangis tapi kamu tahan!” ucap Mama Sarah. Gadis itu kembali menundukkan kepalanya, tak kuasa Mama Sarah memeluk tubuh putrinya.


Setetes dua tetes buliran bening itu terjatuh juga di mata gadis itu, lantas gadis itu memejamkan matanya ketika masih di peluk mama Sarah.


🌹🌹


Ruang ICU

__ADS_1


Secara bergantian satu persatu di mulai dari Derby, lanjut Celia, kemudian Ferdi, Papa Zakaria dan Mama Sarah, untuk melihat kondisi Edward untuk terakhir kalinya sebelum berangkat ke Australia.


Sekarang yang terakhir adalah Ghina, mata gadis itu mulai berkaca-kaca. Disentuhnya pipi Edward dengan tangannya.


“Ini untuk terakhir kalinya, aku melihat Om di sini. Sebentar lagi Om akan di pindahkan ke Australia. Aku doakan Om Edward di sana bisa sembuh dan bangun dari koma........tapi jika tidak......inilah hari terakhir aku melihat wajah Om Edward....” terasa sesak kembali dada Ghina.


“Ternyata bukan surat cerai yang membuat kita berpisah, ternyata mautlah yang memisahkan kita, Om Edward.....,”


“Kita akhirnya berpisah Om Edward......,” gadis itu berusaha tersenyum tipis menatap wajah tampan pria itu, kemudian melabuhkan kecupan hangat di pipi Edward, dengan tetesan air mata yang turut membasahi pipi Edward.


Tanpa Ghina sadari, buliran bening juga terjatuh dari ujung ekor mata Edward menyatu dengan tetesan air mata Ghina.


Akhirnya kita berpisah.......Selamat Tinggal Om Edward


 .


.


bersambung.


Ahh sungguh menyesakkan rasanya, menulis part ini 😭😭


Buat Kakak Reader yang cantik dan ganteng......mau numpang promo ya karya temanku, ceritanya menarik loh. Yang masih punya Vote......mau dong Kaka Readers 😁🙏


Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹



Author Novi





Author Qaeyra



__ADS_1


 


 


__ADS_2