
“Kiren itu sudah gak virgin lagi, sebelum nikah sama Pak Edward, gue nemenin Kiren buat operasi selaput dara. Kiren tuh dulu sering berhubungan intim sama mantan pacarnya yang di Bandung. Kasihan kan CEO kita di bodohi Kiren.”
Dasar Anis, teman yang bermulut ember, tidak bisa pegang rahasia.
Santi hanya bisa menganga mendengar rahasia Kiren.
JEDER
Rahang Edward mengeras, wajahnya tampak murka mendengar perbincangan yang tidak disengajanya, saat pria itu akan menghampiri meja sekretarisnya Santi.
Jadi selama ini saya menjaga kehormatan wanita apa!!
Langkah kaki Edward kembali mundur, kemudian masuk ke ruang kerjanya.
“Kurang aja kamu, Kiren.......telah berani menipu, membohongi saya!” gumam geram Edward, dengan mengepalkan kedua tangannya.
“HA......HA.....HA.....CEO BODOH!!” gumam pria itu sendiri, tertawa kecut. Ya.....menertawakan dirinya sendiri.
Edward kembali duduk di kursi kebesarannya, dan mencerna pembicaraan yang tak sengaja di dengarnya.
Bagi budaya timur masalah *** bebas sebelum menikah masihlah sangat tabu, berbeda dengan budaya asing hal itu sudah menjadi kebiasaan di sana jadi bukan hal yang aneh lagi. Walau mungkin sudah ada yang seperti itu.
Edward yang sudah lama tinggal di Australia masih berpegang teguh dengan budaya asalnya, masih menjaga norma norma, hingga saat berpacaran dengan Kiren, tidak pernah melakukan hubungan intim sebelum menikah. Dengan sepenuh hati menjaga kehormatan wanita yang dicintainya.
Sekarang pria itu kembali mengingat saat malam pertamanya, yang nyatanya memang tidak ada noda darah yang dia temui walau pria itu merasa kesulitan saat memasukkan dirinya ke dalam tubuh Kiren. Hal ini pun sempat dibahas oleh temannya sendiri Brandon.
Sudah butakah selama ini mata pria itu, terbuai dengan kecantikan, kepintaran dalam bekerja, dan tubuh sexy yang sangat menggoda. Pria itu memejamkan matanya sejenak, inikah yang dimaksud papanya sendiri, belum mengenal sepenuhnya tentang istrinya?
Pria itu tidak menyangka jika wanita yang dicintainya, punya perilaku seperti itu. Pantas saja saat berpacaran wanita itu selalu menggodanya untuk naik ke atas ranjang.
Tapi haruskah pria itu marah dengan istri pilihannya, karena semua yang dilakukan wanita itu saat mereka belum berpacaran dan menikah. Ini hanya masalah keperawanan bukan masalah temuan selingkuh.
“Hufft........”Edward menghela napas kasar, pikirannya menjadi bertambah.
TOK........TOK........TOK
“Ya masuk......!” sahut Edward dari dalam ruangannya.
“Permisi Pak Presdir, saya mengantarkan dokumen dari divisi marketing,” ucap Santi dengan menyerahkan dokumen tersebut di atas meja kerja Edward.
“Siapa yang mengantar dokumen ini?” tanya Edward.
“Yang antar Anis, staff marketing....,” jawab Santi.
“Hemmmm.........” gumam Edward dan melambaikan tangannya, tanda Santi harus keluar dari ruangannya. Pria itu kembali tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
Hati pria itu bergelut dalam kesendiriannya, antara menyesal telah menikahi Kiren atau kekecewaan menerima Kiren bukan wanita yang suci lagi, mungkin lebih bagusnya pria itu menikahi seorang janda, ketimbang menikah dengan seorang wanita yang berstatus single tapi bekas orang lain.
PRANG !!!
__ADS_1
Gelas di atas meja kerja pria melayang ke arah pintu.
Ferdi yang baru saja ingin masuk ke ruang CEO, tersentak kaget mendengar suara pecahan dari dalam.
Ada apa lagi sama Tuan Besar???
TOK......TOK......TOK
Ferdi memberanikan diri untuk mengetuk pintu ruang presdir, tapi masih belum sahutan.
“AAARRRGHHH......!!!”
BRAK......!!
BRAK......!!
Suara benda berat terjatuh sangat menggema dari ruangan Presdir.
Bulu kuduk Ferdi seketika merinding....apalagi yang terjadi?”
Santi buru buru mendekati Ferdi, ”Pak Ferdi di dalam ada apa?” tanya Santi yang mulai berdebar jantungnya, ikutan kaget mendengar suara yang begitu kencang.
“Kamu, yang dari tadi di sini, masa tidak tahu kenapa?” balik tanya Ferdi.
“Tadi saya sempat ke dalam hanya mengantar dokumen. Dan Pak Presdir terlihat biasa saja,” jelas Santi.
“Mending, kamu panggil bagian cleaning service suruh standby dekat ruang presdir,” perintah Ferdi.
“Siap Pak Ferdi,” santi segera ke ruang pantry yang berada di lantai yang sama.
Ferdi masih menunggu beberapa menit, sebelum masuk ke ruang Edward.
TOK.....TOK......TOK
Ferdi kembali mengetuk pintu ruangan Tuannya, lalu membuka kenop pintunya pelan-pelan, sambil sedikit kepala Ferdi melongok ke dalam.
Alamak.........hancur semuanya.....batin Ferdi.
Meja kerja yang sebegitu berat dan besar, sudah jungkir balik, beserta barang yang ada di meja kerja Edward. Sebegitu besarkah emosi pria itu hingga bisa melakukan hal itu.
Ferdi menghembuskan napas dalam-dalam, sebelum kakinya masuk ke dalam ruangan Tuannya.
Edward tampak sedang berdiri tegap di depan jendela besar, menatap pemandangan di luar gedungnya.
Inikah maksud papa dan mama menolak saya menikahi Kiren...! Inikah balasannya karena tidak mendengarkan masukkan dari papa dan mama...! Saya yang bodoh karena cinta dan rayuan Kiren, saya yang selalu menampik perasaan dengan gadis pilihan papa dan mama.
Dan inikah balasan karena menyakiti istri pertamaku......maafkan saya Ghina......gadis kecilku.....istriku.
Maafkan yang telah menyakitimu.
__ADS_1
Pria itu meraup wajah kasarnya, semua sudah terjadi, dan tidak bisa diputar kembali.
“Permisi Tuan Besar,” sapa Ferdi dari balik punggung Edward.
Edward menoleh ke belakang.
“Surat pemecatan Nyonya Kiren sudah di siapkan oleh bagian HRD, dan hari ini akan langsung di sampaikan ke Nyonya Kiren,” lapor Ferdi.
“Jangan panggil wanita itu Nyonya, tidak pantas rasanya,” ujar geram Edward.
“Ba—baik Tuan, “ jawab Ferdi.
“Rapikan itu semua....!” tunjuk Edward atas kegaduhan yang telah pria itu lakukan sendiri.
“Baik Tuan,” Ferdi segera melambaikan tangan pada beberapa orang cleaning service yang sudah menunggu di depan pintu.
“Sayang.....ini apa-apaan maksudnya!!!” tiba-tiba Kiren datang ke ruangan Edward sambil menunjuk-nunjuk amplop putih di tangannya.
Edward bersedekap melihat wanita yang memakai setelan kerja yang super ketat hingga buah dadanya menyembul keluar.
“Hari ini kamu, saya pecat!!” tegas Edward.
“Stop Kak Edward, jangan turuti kata orang tuamu. Kita harus profesional, jangan bawa-bawa masalah rumah tangga ke kantor,” sebegitu beratnya Kiren menolak pemecatannya, menolak pamor sebagai Nyonya CEO hilang jika wanita itu tidak bekerja di perusahaan suaminya sendiri. Hal yang dia banggakan dan di sombongkannya dari teman-teman kantornya. Bahwa wanita itu berhasil membuat CEO mereka, menikahi dirinya.
“Kali ini saya akan menuruti perintah orang tua saya! Sekarang juga kemasi barang barang kamu di kantor ini, jangan ada yang tersisa!” sungguh geramnya pria itu melihat wajah Kiren.
“ Tidak bisa, saya menolak Kak Edward.....!” teriak Kiren.
“Ferdi, bawa keluar wanita ini sekarang juga!!” perintah Edward.
Ferdi segera meraih lengan Kiren “silahkan keluar!” ucap Ferdi.
“Awas Kak Edward, aku tunggu kamu di mansion,” emosi Kiren, lantas lengannya langsung di gerek Ferdi keluar.
Ooh hati Ferdi sangat senang sekali bisa menggerek Kiren keluar dari ruang Tuannya.
.
.
Jangan lupa tinggalin komentarnya Kakak Readers 😘😘😘
__ADS_1