
Derrt.........Derrt......
Tuan Edward calling......
“Non Ghina, Tuan Edward telepon kembali,” ucap Ria sambil menyodorkan handphonenya ke Ghina.
Ghina menoleh ke arah handphone Ria, hatinya mulai ragu-ragu. Jika dia menerima panggilan dari Edward, berarti kedua kalinya gadis itu memberi kesempatan untuk berbicara lagi.
Gadis itu putar otak, mencari jalan keluar agar Edward segera meninggalkan mansion secepat mungkin.
Handphone Ria kembali berdering Ghina dan Ria sama sama belum menerima panggilan tersebut.
“Halo......,” suara gadis itu akhirnya kembali menyapa.
“Ghina.......,” ternyata Edward sudah mengenali suara gadis itu.
“Ada apa lagi?” tanya Ghina pada pria yang hari ini mengejarnya, mulai dari rumah sakit, sampai sekarang masih menunggu di mansion papa pria itu.
“Ghina, bagaimana caranya agar kamu kembali padaku .......istriku,” sepertinya pria itu terdengar mulai putus asa.
Ghina sedang mencari celah, agar Edward malam ini meninggalkan mansion.
“Pulanglah Om Edward, ini sudah mau malam. Kita akan cari waktu untuk berbicara lagi, dengan pikiran yang lebih jernih lagi. Sungguh hari ini saya sangat lelah,” ya lelah menghadapi pria itu.
Ayo Om Edward lekaslah pergi....!
“Saya akan pulang, jika kamu ikut pulang dengan saya.” pinta Edward.
“Om Edward tolong jangan keras kepala, pulanglah Om. Berikan saya waktu untuk berpikir tenang,” terpaksa gadis itu berbohong.
“Apakah kamu benar-benar akan memikir ulang tentang rumah tangga kita?” Edward merasa janggal.
“Ya , akan saya pikirkan kembali,” jawab asal Ghina.
“Baiklah kali ini saya akan menurutimu, tapi bolehkah saya minta sesuatu sebelum pulang?”
“Minta apa? kenapa jadi minta syarat segala?” tukas Ghina.
“Temui saya di bawah, setelahnya saya akan pulang. Dan akan menunggu kabar darimu. Hanya itu saja.”
Ghina diam sejenak, memikirkan permintaan pria itu.
“Baiklah, tunggu saya di sana,” jawab Ghina datar, lalu mematikan sambungan teleponnya.
“Mbak Ria terima kasih handphone. Sekalian mbak temanin saya ke temu Om Edward di luar,” pinta Ghina.
__ADS_1
“Baik Non...” Ria mengikuti langkah kaki Ghina menuju lift, untuk turun ke lantai bawah.
Berat hati sebenarnya gadis itu untuk menemui pria yang menikahinya. Semua yang akan dilakukan gadis ini, hanya untuk mempercepat kepergian pria itu dari mansion utama, tidak lebih.
Bukan lagi berbicara tentang perasaan gadis itu, tapi tidak munafik jika pertemuan malam ini, ada malam terakhir gadis itu melihat wajah sang pria yang masih berstatus suaminya.
Saat pintu lift terbuka, dan sudah berada di lantai bawah, tiba-tiba langkah gadis itu terhenti saat keluar dari pintu lift.
Apakah benar keputusan yang dia ambil untuk menemuinya, apakah dengan pertemuan ini bisa membuat pria itu pergi?
Ghina menghirup oksigen sebanyak-banyak, merasakan oksigen tersebut ke dalam rongga rongga ke seluruh paru-parunya. Agar dirinya kembali rileks.
Dirasa sudah siap, gadis itu kembali melangkah menuju pintu utama mansion.
“Temanin saya menemui Tuan Edward,” pinta Ghina dengan kedua ajudan Opa yang masih berjaga di depan pintu mansion utama.
Para ajudan menganggukkan kepalanya, lalu segera berjalan di samping gadis itu.
Edward tersenyum, saat melihat Ghina sudah berada di luar lobby mansion yang didampingi ajudan papanya. Rasanya tidak sia-sia pria itu menunggu sejak dari siang, akhirnya gadis yang ditunggu muncul juga.
Dengan langkah mantap gadis itu, berjalan menuju pos security. Edward sepertinya sudah tidak tenang berdirinya, menanti Ghina yang semakin mendekat.
“Pak Budi, minta tolong bukakan pintu sebentar, saya ingin menemui Om Edward,” pinta Ghina.
“Tapi non, nanti Tuan Besar tidak mengizinkan----.”
Dari kejauhan Opa Thalib memperhatikan Ghina.
Pak Budi security mengalah, tapi para ajudan sudah mulai bersiaga, pintu khusus keluar masuk akhirnya di bukalah oleh Pak Budi, akan tetapi ajudan dulu yang terlebih dahulu keluar, baru di susul Ghina.
Sekarang Edward bisa melihat jelas Ghina yang disebut sebagai istrinya sekarang.
Edward menatap lekat wajah cantiknya gadis itu, dan pria itu mengikis jarak antara mereka berdua.
Sedangkan gadis itu tampaknya tidak bergeming.
Pria itu dengan lembutnya meraih tangan kanan gadis itu, lalu mengelus punggung tangan mulusnya dan mengecupnya dalam waktu lama.
SERRRR
Kali ini Ghina membiarkannya.”Terima kasih sudah mau menemui saya,” ujar Edward, hatinya tersentuh Ghina mau menemuinya
“Sekarang pulanglah Om Edward, saya sudah memenuhi permintaanmu,” pinta Ghina.
Salah satu tangan besar Edward menyentuh dagu Ghina dengan lembutnya “biarkan saya menatapmu sebelum saya pulang, meninggalkanmu untuk berada di sini, tiga hari lagi saya akan menjemputmu. Dan jangan pernah berpikir tentang perceraian lagi,” mohon Edward, tatapannya penuh damba melihat Ghina.
__ADS_1
Puas-puasilah memandang diriku, setelah ini kita tidak akan bertemu lagi, untuk selamanya.
Ketika Edward menatap wajah Ghina, entah kenapa perasaannya gamang, seakan-akan ada sesuatu yang di sembunyikan dari gadis itu. Entah kenapa ini sungguh aneh.
Ghina membalas tatapan hangat Edward, dengan tatapan kosong tidak menyiratkan apa pun, begitu dingin. Sedangkan Edward sudah ingin sekali melabuhkan bibirnya ke bibir ranum gadis itu, merasakan sentuhan hangat dan menyesap rasa manis saat menciumnya.
Tanpa aba-aba Edward melabuhkan kecupan hangat di kening Ghina, begitu dalam dan lama seakan itu adalah kecupan terakhirnya. Pria itu tak menyadari jika ujung ekor matanya mulai membasah.
Ghina merasakan kecupan hangat dari Edward, menerimanya.......
Biarkan semua menjadi kenangan, yang terukir di dalam hati, meskipun perih.
“Saya pulang........istriku. Tiga hari lagi saya akan menjemputmu lagi,” suara Edward terdengar serak, matanya mulai memerah. Sungguh berat hati Edward untuk meninggalkan Ghina, pria itu seperti merasakan sesuatu akan terjadi, tapi pria itu bingung menggambarkan perasaannya.
Langkah kaki pria itu begitu berat yang dia rasakan, pria itu mulai masuk ke dalam mobil mewahnya, di ikuti para ajudannya.
Tatapan Edward begitu sendu dari dalam mobilnya, menatap Ghina yang masih berdiri di depan pos mansion, andaikan tidak dijaga ajudan papanya, mungkin pria itu kembali menculik gadis itu. Inilah ujian buat pria itu agar lebih bersabar saat ini.
Gadis itu sengaja masih berdiri di depan pos security, untuk memastikan kepergian Edward. Tapi tidak selang beberapa lama, salah satu mobil keluar dari gerbang mansion. Ternyata Opa sudah menugaskan ajudannya untuk mengikuti Edward, agar lebih memastikan jika keberadaan Edward tidak ada di sekitar mansion utama.
Satu jam lewat berlalu dari kepergian Edward.........
Ghina tampak bersiap-siap, Ria dan beberapa pelayan sudah menurunkan koper Ghina ke lantai bawah dan membawanya ke bagasi mobil.
Di lantai bawah tepatnya di ruang utama Opa Thalib, Oma Ratna, Mama Sarah dan Papa Zakaria, turut bersiap-siap mengantarkan Ghina.
“Sudah siap semuanya, Nak?” tanya mama Sarah, untuk lebih memastikan tidak ada yang tertinggal.
“Siap semuanya,” jawab Ghina yakin, sekilas gadis itu menatap foto pernikahannya yang terpajang di ruang utama, ada sedikit rasa perihnya, belum ada usia pernikahan seumur jagung, belum juga ada dua minggu, kini berpisah.
Mama Sarah merangkul bahu Ghina yang sedang termenung “semuanya akan berlalu, sekarang waktunya kamu mengejar impianmu,” ucap Mama Sarah, tahu isi hati anaknya sesungguhnya sedang sedih.
Ghina menganggukkan kepalanya, dan kembali melangkahkan kakinya keluar pintu mansion. Beberapa mobil sudah terparkir di luar lobby mansion, untuk mengantar kepergian mereka.
Waktu tak bisa berjalan mundur, begitu pula dengan Ghina, yang tak mungkin melangkah mundur ke belakang. Hati dan langkah kakinya sudah mantap, menjejaki tempat baru, yang mungkin akan bersinggah lama tinggal di tempat baru atau justru akan menetap selamanya di tempat baru.
Kini dirinya sudah duduk di dalam mobil Opa Thalib, yang akan membawa dirinya ke bandara.
Sopir sudah mulai mengemudikan laju kemudinya, masih dalam kecepatan pelan, mobil mewah itu keluar dari gerbang mansion utama, sesaat gadis itu sedikit menoleh ke bangunan mewah tersebut. Dan kembali menatap ke arah ke depan.
Senyum tipis mengular di wajah gadis itu tanpa sebab, pikirannya melayang kembali ke masa lalunya.
Ternyata tidak semudah ini rasanya, kenapa terasa sakit sekarang.......ayolah Ghina.......kamu bisa melupakan semuanya. Semuanya akan terlewati dengan seiringnya waktu. Jangan lagi menoleh ke belakang, tataplah masa depan yang menunggumu. It’s hard to say GOODBYE.
__ADS_1