Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Merestui


__ADS_3

Edward masih berlutut di hadapan Papa Zakaria, menghilangkan rasa angkuhnya, tidak lagi memikirkan harga dirinya. Yang pria itu pikirkan adalah meminta restu dari kedua orang tua wanita.


Cinta membuat orang bisa melakukan apa pun demi kekasih hati, tapi yang jelas logika tetap harus jalan bukan hanya sekedar mementingkan hati.


Papa Zakaria dan mama Sarah sebagai orang tua Ghina, pernah merasakan sakit hati kepada pria yang berlutut di hadapan papa Zakaria. Walau dulu pria itu juga pernah berlutut memohon minta maaf dan menanyakan keberadaan putrinya, tapi mereka menutup pintu rumahnya untuk Edward.


Kini pria itu kembali merendahkan dirinya dan melakukan untuk kedua kalinya.


“Jujur saya sebenarnya dulu sangat kecewa dengan kamu....Edward. yang pernah menyiksa lahir batin anak saya,” ujar Papa Zakaria.


Edward tertunduk mendengar perkataan Papa Zakaria, dalam hati terus memanjatkan doa agar diberikan restu.


Ghina yang berada di atas ranjang hanya bisa melihat apa yang di lakukan Edward, tanpa ikut campur.


“Tapi yang lalu sudah berlalu, semoga hal itu jadi pelajaran buat kamu sebagai pria dan seorang suami,” sambung Papa Zakaria.


“Sekarang masalah rumah tangga kalian berdua, hanya kalian berdua yang bisa menyelesaikannya. Saya sebagai papa dari Ghina, hanya bisa mengarahkan dan memberikan pendapat yang terbaik buat Ghina. Saya hanya minta jika kamu benar benar mencintai anak saya, maka jangan sesekali mengulangi kelakuan kamu seperti empat tahun yang lalu. Jika mengulangi lagi, maka tidak ada ampun lagi buat kamu, bukan hanya perceraian saja tapi jeruji besi siap menerima kedatangan kamu!!” Ancam Papa Zakaria.


Edward mendongakkan kepalanya “jadi bang Zaka merestui saya untuk meminang Ghina kembali?” Tanya Edward.


“Bangunlah!” pinta Papa Zakaria sambil menepuk bahu Edward. Pria itu bangkit dari berlututnya.


“Jika Ghina sudah mau menerimamu menjadi suaminya lagi, berarti anak saya sudah memaafkanmu. Jadi saya akan merestui kamu kembali menjadi suami anak saya. Cuma ingat pesan saya.....jaga berlian saya jangan sampai terpecah menjadi serpihan. Karena anak saya sangat berharga, dan tidak bisa di nilai dengan uang sebanyak apa pun,” ucap Papa Zakaria.


“Insha allah Bang Zaka, istri saya memang sangat berharga buat saya,” jawab Edward. Kedua pria itu saling berpelukan dan menepuk bagian punggung masing-masing.


Mama Sarah dan Oma Ratna kedua netranya berkaca-kaca, terharu melihatnya.


Selepas memeluk Papa Zakaria, pria itu menghampiri Mama Sarah.


“Kak Sarah tolong beri restu saya kembali jadi suami Ghina,” pinta Edward dengan kerendahan hatinya.


“Sayangi Ghina, jangan sia-siakan anak saya. Ghina putri satu-satunya yang saya cintai, dia patut bahagia,” ungkap Mama Sarah.


“Iya Kak Sarah,” jawab Edward.

__ADS_1


Opa Thalib menghampiri Papa Zakaria dan Edward. “Zaka, ternyata kita tetap berbesanan,” ujar Opa Thalib, mereka pun saling berpelukan.


“Iya Om Thalib,” balas Papa Zakaria.


“Edward, harusnya kamu sekarang panggil papa sama mama dengan orang tua Ghina,” pinta Opa Thalib.


“Gak usah Om Thalib, kayaknya aneh di panggil papa sama Edward. Panggil biasa aja......cukup Abang aja,” tolak Papa Zakaria, tidak mempermasalahkan masalah panggilan.


Mama Sarah juga menganggukkan kepalanya tanda menyetujui ucapan suaminya.


Jodoh yang lama di pisahkan, ternyata kembali lagi dan bertemu dengan pasangan yang sama. Sudah sejauh itu mereka berdua berpisah, yang pria di Australia, yang wanita di Yogyakarta. Akhirnya Allah kembali mempertemukannya kembali dan menyatukannya.


“Jadi kapan akan di adakan akad nikah lagi?” tanya Papa Zakaria kepada Edward.


“Kenapa tidak nanti malam saja akad nikahnya, apakah kalian tidak lihat waktu kita datang. Kalau tidak buru-buru akad nikah lagi, keburu mereka bikin cucu buat kita,” sela Opa Thalib sebelum di jawab Edward.


Edward dan Ghina mulai memerah wajahnya, mengingat mereka kepergok ciuman sama kedua orang tuanya.


“Iya Pah, menurut Edward kalau bisa  secepatnya, saya sudah tidak mau menunda lagi,” dukung Edward atas keputusan Opa Thalib, memang pria itu ingin menyegerakan akan nikah lagi, dan sudah tidak mau menunda terlalu lama.


“Setuju,” jawab serempak yang berada di dalam ruang rawat.


“Honey........setujukan?” tanya Edward.


“Aku ikut Om Edward aja, maunya bagaimana dan baiknya,” jawab Ghina.


“Makasih, istriku....,” ujar lembut Edward, sambil melabuhkan kecupan singkat di kening Ghina.


“Para ibu-ibu temanin Ghina di sini, para bapak-bapak mau mengurusi persiapan buat akad nikah nanti malam, mau cari penghulunya dulu,” ujar Opa Thalib.


“Siap Pak,” jawab serempak Mama Sarah dan Oma Ratna sambil terkekeh kecil.


Ketiga pria itu meninggalkan ruang rawat untuk kembali ke hotel, untuk mempersiapkan acara akad nikah ulang. Sepertinya ketiga pria tersebut semangat untuk mengadakan acara akad nikah.


Dan membiarkan para istrinya bersantai ria di ruang rawat Ghina.

__ADS_1


Opa Thalib segera menghubungi rekannya yang mengenal penghulu setempat.


Sedangkan Edward mengambil cincin nikah Ghina yang selalu di bawa ke mana-mana olehnya di hotel, kemudian menyiapkan mahar untuk menikah kembali dengan Ghina, serta persiapan untuk dirinya sendiri.


Ferdi dan Papa Zakaria sibuk memesan makanan di restoran, agar pihak restoran nanti malam sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk makan malam sederhana di rumah sakit.


Sedangkan di rumah sakit ternyata Edward sudah menghubungi toko bunga, untuk sedikit mendekorasi ruang rawat dengan bunga bernuansa berwarna putih, terlihat cantik dan yang jelas wangi karena di tambah dengan bunga melati. Ciri khas wangi pengantin. Dan tentunya sudah izin dengan pihak rumah sakit, untuk mengadakan akad nikah.


Hati Ghina tampak terhenyuh dengan nuansa ruang rawatnya yang sudah di dekor, Ria sudah datang ke rumah sakit atas perintah Tuan besarnya dan membawa kotak pakaian dari Tuan besarnya.


“Mbak Ria, bawa apa?” tanya Ghina melihat kotak besar berwarna putih dengan pita putih di atasnya.


“Tadi sebelum ke sini, mbak mampir ke hotel dulu, suruh bawa kotak ini sama Tuan buat nyonya, katanya di suruh di pakai nanti,” ucap Ria, sambil meletakkan kotak yang di bawanya di tepi ranjang.


“Mau  di bantu bangun, nak?” Tanya mama Sarah, melihat anaknya ingin tahu isi kotak tersebut.


“Iya mam, tolong ya mam........tapi hati-hati ya.....agak sakit punggungnya,” pinta Ghina.


“Iya nak mama akan hati-hati.....,” jawab Mama Sarah. Ghina meletakkan kedua tangannya di bahu mama Sarah, kemudian mama Sarah mengangkat pelan-pelan tubuh Ghina dari pembaringannya.


Sudah nyaman dalam duduknya di atas ranjang, tangan Ghina mulai membuka ikatan pita kotak.


“Cantiknya.......,”kagum Ghina melihat dress lace berwarna putih yang berada di dalam kotak tersebut. Hadiah kecil dari sang suami.


“Wah ternyata selera Edward boleh juga,” ujar Oma Ratna ikutan melihat isi kotaknya.


Ghina mengulum senyum tipis, kembali melihat dress yang sudah di keluarkannya.


.


.


next.....otw kondangan 😊


  

__ADS_1


 


__ADS_2