
Opa Thalib dengan terbuka meminta anaknya Edward untuk menjatuhkan talaknya kepada Ghina di depan Kiren beserta ke dua orang tuanya. Secara Opa Thalib baru saja memberitahukan jika menantunya adalah Ghina Farahditya, lalu kenapa pria tua itu meminta Edward menceraikan gadis itu? Demi Ghina.
Sungguh ini pun hal yang mengejutkan juga buat Bu Sari dan Ayah Bowo, dengan Edward menceraikan istri pertama maka posisi anaknya Kiren akan menjadi satu-satunya istri Edward, Nyonya mansion....serta akan memiliki harta Edward tanpa terbagi dengan istri pertama. Walaupun usaha Ayah Bowo akan bangkrut, paling tidak masih ada menantu yang bisa menolongnya, praduga Ayah Bowo.
“Papa tidak akan lagi bertanya, kamu ingin memilih dengan siapa dari dua wanita ini.”
“Papa tahu kamu tidak pernah menginginkan pernikahan dengan Ghina, kamu hanya ingin menuruti permintaan papa saja. Pikir papa, kamu akan belajar menerima dan mencintai istrimu Ghina. Tapi kenyataannya berbeda dan papa rasa sudah cukup, kamu menyiksa batin dan fisik Ghina. Sekarang ucapkan talak ke Ghina. Dan kamu bisa hidup berbahagia dengan wanita pilihanmu. Tapi ingat dia bukan menantu papa dan mama sampai kapan pun! Cukup jadi istrimu saja!” ucap tegas Opa Thalib.
“Pah, bisa kita bicarakan secara baik-baik dulu, kita selesai dengan pikiran tenang,” ada rasa penolakan di hati Edward dan terasa begitu sakit, menolak menceraikan Ghina.
Hati Kiren sedikit mulai tenang justru terlihat wajahnya penuh dengan senyum kemenangan, ketika papanya Edward meminta Edward menalak Ghina. Berarti sesuai dengan harapan mereka berdua, hanya ada Edward dan Kiren tanpa wanita lain, menjadi istri satu satunya.
“Tidak ada yang harus dibicarakan, lagi pula selama ini kamu tidak pernah menganggap Ghina istri kamu kan! Jadi menalaknya buat kamu sangatlah mudah, apalagi kamu tidak menyukai Ghina. Ayo cepat jatuhkan talak tiga ke Ghina!” balas Opa Thalib.
Hati Edward tidak menentu rasanya, semua rasa bercampur aduk. Pria itu berdiri dari duduknya, dan mendekati Ghina yang masih duduk ”Ghina, bisa kita bicara berdua dulu!” pinta Edward.
“Bicaralah di sini, tidak perlu berdua!” tegur Opa Thalib.
Sepertinya tidak ada celah untuk Edward bisa berdua berbicara dengan Ghina terlebih dahulu.
Ghina ikut bangkit dari duduknya, dengan kepalanya yang di perban, dia berhadapan dengan Edward.
“Apa yang ingin di bicarakan oleh Om Edward, bicaralah......akan saya dengarkan,” ucap lembut Ghina.
Sungguh Ghina iba melihat wajah tampan Edward, penuh dengan memar akibat di hajar papa nya sendiri. Tapi menurut Ghina itu harga yang pantas buat Edward, malah siksaan itu kurang rasanya, tidak setimpal dengan siksaan yang dia terima selama menikah dengan pria itu.
__ADS_1
Bibir Edward terasa keluh seketika, pria itu baru pertama kalinya mendengar suara Ghina yang begitu lembut.
Begitu lama Ghina menanti, namun Edward tak bersuara.
Edward hanya bisa menatap lekat lekat wajah gadis cantik di hadapannya, tangannya ingin meraih tangan Ghina, tapi tak kuasa.
Ghina melepaskan cincin nikahnya yang tersemat di jari manisnya, lalu meraih tangan kanan Edward dan meletakkan cincinnya di telapak tangan Edward.
“Terima kasih Om Edward telah menikahiku, telah menjadi suamiku walau hanya sebentar. Dan terima kasih atas kenangan pahit yang Om Edward berikan kepadaku.” Jeda sejenak. “Dan satu lagi dari segala siksaan yang Om Edward berikan buat saya, sampai detik ini. Saya tidak pernah mendengar ucapan kata maaf, apakah begitu berat Om Edward mengatakan kata maaf?” tanya Ghina.
Ghina kembali diam sejenak. Tapi sia-sia tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Edward.
“Tapi kata maaf itu sudah tidak penting lagi. Hari ini tiba Om Edward, saya pernah bilang bahwa saya akan pergi dan itu bukan omong kosong semata. Sekarang tugasku sudah selesai sebagai istri tumbalmu, maka talaklah diriku, bebaskanlah saya. Dan semoga Om Edward bahagia selalu dengan mbak Kiren!” begitu tenang Ghina berucap, tidak ada tatapan tajam di mata Ghina. Hanya tatapan memohon untuk dikabulkan segera. Dan senyuman hangat yang terulas di wajahnya. Begitu cantik sempurna.
Sedangkan Edward, hatinya nyeri, jantungnya sudah berdebar kencang, tatapan matanya terlihat sendu, dan kedua netranya mulai berkaca-kaca. Pria itu mengepalkan tangan sekuat-kuatnya, mengenggam erat cincin Ghina yang sudah berada di tangan kanannya. Edward masih tetap tidak bersuara. Tapi hatinya ingin berteriak, namun tertahan akan egonya.
Ghina menganggukkan kepalanya, karena akan makan waktu lama jika menunggu Edward mengucap talak, yang sedari tadi masih membungkam mulutnya. Biarkanlah urusan perceraian melalui pengadilan.
“Edward, mulai hari ini papa dan mama tidak akan mengakui kamu sebagai anak kami. Jadi jangan pernah datang ke mansion utama. Untuk urusan perusahaan papa, kita akan urus secara profesional sebagai rekan bisnis. Dan untuk Kiren, papa minta kamu pecat sebagai karyawan perusahaan papa mulai hari ini, jika kamu masih memperistrinya. Papa sudah terlalu kecewa dengan sikap dan tindakan kamu, sungguh kecewa!!”
“Silahkan kamu hidup bahagia dengan wanita pilihanmu dan jangan pernah menyesali kebodohan kamu dalam memilih istri. Kamu benar benar tidak tahu siapa sebenarnya istri pilihanmu itu” ucap Opa Thalib dalam arti yang sebenarnya.
Opa Thalib sengaja tidak membeberkan keburukan Kiren, karena tidak ada untungnya buat Opa. Justru sengaja membiarkan anaknya terjerat dan terbelenggu dengan wanita pilihannya. Jika Edward paham akan perkataan papanya, pasti pria itu akan menyelidikinya.
Edward sedikit curiga atas pernyataan papa nya, seakan-akan lebih tahu tentang Kiren.
__ADS_1
“Oh iya satu lagi Edward, jangan pernah mengganggu kehidupan Ghina beserta keluarganya. Dan papa harap jika kelak kalian bertemu lagi, anggaplah seperti orang lain, bukan saudara atau mantan suami istri. Tidak saling mengenal itu lebih baik. Karena kamu ada istri yang harus di jaga hatinya,” sindir Opa Thalib.
“Papa......tolong jangan----” ujar Edward.
“Ayo mama, Ghina, Ria.......kita pulang!” ajak Opa Thalib.
Ghina yang di tuntut oleh Oma dan Ria di sebelah kanan dan kiri. Opa sudah berjalan duluan, sedangkan Pak Jaka dan salah satu pelayan membawa barang Ghina dan Ria ke bagasi mobil.
“Papa, mama ........tolong jangan bawa Ghina, Pah.....jangan begini caranya. Kita bisa bicara baik-baik dulu!” teriak Edward dari pintu utama mansion. Tubuhnya sudah dihadang oleh dua ajudan Opa Thalib.
“Breng-sek kalian, lepaskan!!” Edward meronta-ronta ingin mengejar Ghina yang akan masuk ke dalam mobil.
Geram dirinya ditahan oleh ajudan papanya, terjadilah baku hantam kembali. Hingga tanpa di sadarinya mobil yang membawa Ghina telah meninggalkan mansionnya.
“EEERGH........” Edward menjambak rambutnya, menyesali tak bisa menahan Ghina. Setelah puas baku hantam dengan ajudan papanya.
Dia benar benar pergi....!!
.
.
next......hancur
Kiren, Edward, Ghina
__ADS_1