Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Kejutan dari Opa Thalib


__ADS_3

Ghina menerima elusan lembut di pipinya dari tangan besar Edward, pria tampan yang masih berdiri di hadapannya, dan wanita itu menelisik semua raut wajah yang terpancar dari wajah pria itu.


“Om Edward, apakah aku benar-benar penting untukmu? Bagaimana jika nanti OM akan berpaling dariku karena anak OM dengan mbak Kiren?” tanya Ghina pelan, sengaja mengajukan pertanyaan seperti itu untuk meyakinkan dirinya sendiri.


“Jika betul anak itu anakku, aku tetap tidak berpaling darimu, karena aku sangat mencintaimu......tolong Ghina biarkan aku menunjukkan rasa ini untukmu, berikan kesempatan itu untukku, bukalah hatimu untukku,” pinta Edward dengan tatapan teduhnya.


“Aku tidak janji Om, jika memang Om Edward betul betul mencintaiku maka tunjukkanlah jangan hanya bicara saja, jujur aku takut Om Edward berubah menjadi baik karena ada maunya saja. Setelah dapat yang di inginkan, kembali seperti awal. Apalagi sekarang hadir ada anak Om dengan mbak Kiren, yang lebih jelas membutuhkan kasih sayang ke dua orang tuanya. Dan hal itu membuat aku harus berpikir ulang jika ingin memberikan kesempatan  buat Om, untuk memperbaiki rumah tangga kita.”


“Aku tidak akan lagi membuatmu terluka, kecewa dan perih saat kamu berada disisiku. Akan aku hapus kisah pilu dalam hidupmu saat kamu bersamaku dulu. Biarkanlah aku menghapus segala luka yang pernah kutorehkan padamu.Biarkan aku berjuang menggapai kebahagianmu," ujar Edward.


Kemudian pria itu mengecup lembut kening Ghina, seakan kecupan yang diberikannya berupa semangat untuk dirinya sendiri.


Wanita itu memejamkan matanya sesaat, merasakan sentuhan hangat dari bibir Edward yang berlabuh di keningnya, kemudian kecupan singkat di kedua kelopak matanya yang masih terpejam.


“Izinkan aku menggenggam tanganmu, kita turun ke bawah. Sepertinya jemputannya sudah datang,” ujar Edward, ketika Ghina sudah membuka matanya.


🌹🌹


Hotel A.


Pria yang sudah berumur, terlihat begitu geram mendapat kabar terbaru dari lobby hotel di ruang kerja Hotel A.


“Sepertinya mereka mau mencari gara-gara lagi. Siapkan semua buktinya. Jangan sampai ada yang tertinggal sedikit pun,” tegas Opa Thalib kepada salah satu ajudannya.


“Siap Tuan Besar, segera di laksanakan,” jawab ajudan Opa Thalib.


“Bowo....Bowo ternyata nyalimu cukup besar juga, setelah empat tahun berlalu. Kamu datang membawa kabar yang sangat menggemparkan!” gumam sinis Opa Thalib.


Sekitar empat puluh lima menit, mobil yang menjemput Edward dan Ghina sudah tiba di luar lobby hotel, Ferdi sudah berada di luar lobby menunggu kedatangan Tuan dan Nyonya-nya.


“Hati-hati Ghina turunnya,” pinta Edward sambil meraih tangan Ghina yang mau turun dari mobil.


“Tuan, nyonya sudah sehatkah?” tanya Ferdi heran, kenapa nyonya ikut bersama Tuannya ke hotel.


“Saya paksa untuk ikut, kamu nanti minta staf untuk siapkan kamar untuk istri saya istirahat.....dan.....Ferdi yang saya minta sudah dilaksanakan?”


“Baik Tuan, yang tadi tuan minta sudah di laksanakan. Sebentar lagi beberapa dokter akan tiba,” jawab Ferdi dengan suara mantapnya.


“Bagus, sekarang mereka ada di mana?”


“Pak Bowo dan Bu Sari menunggu di restoran,” jawab Ferdi.

__ADS_1


“Temani aku ya.........istriku,” pinta Edward melembut.


“Mmmm.........”gumam Ghina.


Edward tidak mau melepas genggamannya, Ghina mau tidak mau menerima tangan besar Edward yang menggenggam erat tangannya. Sekarang mereka bertiga menuju restoran.


Pak Bowo dan Bu Sari terlihat senyum sumbrigah melihat kedatangan Edward, tapi senyum Bu Sari langsung sirna setelah melihat sosok wanita yang berada di samping Edward.


Ghina melihat sosok bocah kecil yang duduk di bangku tinggi samping Bu Sari duduk, anak laki-laki.


Pak Bowo beringsut dari duduknya dan langsung menyambut Edward, ”Apa kabar Nak Edward, akhirnya kamu selamat dari koma. Dan pastinya sudah sehat kembali,” ucap ramah Bowo, sambil mengulurkan tangannya.


“Apa maksud kedatangan Bapak dan Ibu ke sini,” to the point Edward tanpa meneruma uluran tangan Bowo untuk berjabat tangan.


“Wisnu, ayo sapa sama papa dulu, ini papa kamu,” ujar Bu Sari ke cucunya.


“Papa........apa maksud Bu Sari?” tanya Edward.


“Sebaiknya nak Edward duduk dulu, dan kalau bisa wanita yang di samping nak Edward tidak perlu ikut bergabung di sini. Kita akan membahas masalah keluarga kita,” ucap Bowo.


“Ck......keluarga. keluarga saya.....ya ini ......istri saya. Bukan kalian, seenaknya mengusir istri saya. Sebaiknya kalian saja yang mengurus masalah kalian, Tidak perlu saya ikut...... buang waktu dengan kalian di sini. Ayo Ghina, sebaiknya kamu istirahat di kamar.”


“Tunggu nak Edward, baiklah kalau memang wanita itu harus ada di sini,” ucap Bu Sari dengan nada kesal, menahan agar Edward tidak pergi.


“Saya sengaja mencari nak Edward hingga ke Yogja, karena ingin memberitahukan kabar bahagia untuk nak Edward,” ujar Bowo.


“Ini Wisnu anak kamu dengan Kiren, yang di lahirkan tiga tahun lewat beberapa bulan yang lalu. Kiren melahirkannya di penjara,” ucap Bu Sari memperkenalkan Wisnu ke Edward.


“Kalian yakin kalau anak laki ini anak saya?” Edward tidak menyentuh anak laki-laki yang di sodorkan Bu Sari.


“Sangat yakin, sebelum Kiren di penjara kalian berdua masih suami istri kan, anak saya wanita baik-baik yang gak mungkin main dengan pria lain selain dengan suaminya,” celetuk Bu Sari.


“Gara-gara wanita ini, nak Edward menceraikan anak saya. Cih.... laganya minta berpisah dengan nak Edward. Ternyata kamu masih bersama dengan nak Edward, dasar sok jual mahal tapi ternyata wanita murahan,” ketus Bu Sari.


PLAK


Edward naik pitam langsung menampar pipi Bu Sari di depan umum, “jaga mulut Anda yang lancang mengatai istri saya murahan, yang murahan itu anak kalian berdua,” emosi Edward sampai berdiri.


Bu Sari hanya terkejut sesaat.....


Ghina menarik tangan Edward untuk kembali duduk ,”Om, tenang.....ada anak kecil,” bisik Ghina dengan lembut di daun telinga Edward. Hati Edward mulai serr........serr.....di kala dapat bisikan lembut dari Ghina.

__ADS_1


“Iya .........istriku,” jawab lembut Edward yang sempat naik pitam.


“Cih......sok menggoda segala,” ujar sinis Bu Sari, rupanya tamparan dari Edward masih belum mempan untuk menutup mulut sinisnya Bu Sari.


“Tidak ada yang salah menggoda suami sendiri, kecuali menggoda suami orang lain atau pria lain yang bukan suami itu baru salah,” balas Ghina dengan tatapan tajamnya.


“Semakin tua semakin jadi rupanya mulut anda Bu Sari belum berubah juga, apalagi sudah memiliki cucu. Harusnya menjadi lebih baik,” ujar Ghina dengan tegasnya.


“Kalian berdua jangan langsung beranggap jika anak ini adalah anak saya. Sebentar lagi akan ada team dokter yang akan mengambil sampel untuk tes DNA,” ucap Edward.


“Oh silahkan jika nak Edward ingin tes DNA, tanpa di tes DNA......saya yakin jika Wisnu anak dari nak Edward,” balas Bowo penuh keyakinan.


Tak lama kemudian...


BRAK....


Amplop coklat terlempar di atas meja makan.


Opa Thalib sudah berdiri dekat mereka bersama para ajudan.


“Papa setuju dengan keputusan mu Edward, untuk tes DNA terlebih dahulu. Jangan langsung percaya dengan orang licik ini, dan test DNA harus di kawal dengan ketat untuk menghindari permainan kotor orang licik seperti mereka,” ujar Opa Thalib.


Pak Bowo dan Bu Sari terlihat santai dengan kehadiran Opa Thalib yang tiba-tiba.


“Sepertinya kalian berdua sebagai orang tua, tidak tahu kelakuan anaknya selama ini. Bukalah amplop itu........biar kalian tahu anak anda seperti apa sebelum Kiren menikah dengan Edward!!” ujar Opa Thalib.


Pak Bowo mengambil amplop coklat tersebut dan membukanya. Kedua matanya Pak Bowo langsung membelalak begitu pun Bu Sari, melihat satu persatu foto messum anaknya Kiren dengan pria lain.


“Ini pasti editan......” ucap Bu Sari tidak percaya.


Opa Thalib segera menerima ponsel dari ajudannya. “Kalau yang ini apakah editan juga.......!” Ujar Opa Thalib langsung memutar video mesum Kiren.


Bu Sari langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


 


Opa Thalib tersenyum smirk, melihat reaksi Pak Bowo dan Bu Sari yang sedang melihat kejutan darinya.


 .


.

__ADS_1


next.......please jangan emosi ya Kakak Readers 😊


 


__ADS_2