
Pagi menjelang.........
Rumah Rika.....
Ghina bersama Rika terlihat repot di dapur, sibuk bikin sarapan pagi.
“Ghina, padahal loe enggak usah repot repot masak buat sarapan. Sudah ada bibi yang masak!”
“Gak pa-pa sesekali gue bikin sarapan buat papa sama mama loe.” Ghina sibuk merajang sayuran beserta bumbu pelengkapnya.
“Ghin, sekalian dong bikinin cake. Udah lama gue gak ngerasain cake buatan loe,” pinta Rika.
“Boleh, habis sarapan ya. Nanti gue bikinin cake, yang penting bahannya ada.”
“Tenang nanti kalau ada yang kurang, bibi yang belanja ke minimarket.”
“Oke....!” Ghina melanjutkan masaknya di bantu Rika dan si bibi.
Sayur capcay, ayam lada hitam sudah tersaji di meja makan buat sarapan pagi di rumah Rika.
“Ghina, duh tante jadi enak nih di masakin sarapan pagi spesial,” ucap mamanya Rika.
“Semoga enak ya tante, sesuai selera tante dan om.”
“Emmmm ini enak loh, kamu memang pintar masak. Gak kayak anak tante, malas di suruh belajar masak. Padahal bisa masak buat diri sendiri.”
“Udah deh, mama jangan nyindir Rika,” bibir Rika mulai manyun.
“Bisa masak itu bisa buat nyenengin suami loh, pas kalian nanti sudah berumah tangga, biar di tambah sayang sama suami,” ucap mama nya Rika.
“Uhuk......uhuk.....uhuk!” tiba tiba Ghina keselek daging ayam.
“Pelan pelan makannya Ghin, gak usah terburu buru,” tegur Rika sambil menepuk punggung Ghina.
Bagaimana Ghina makannya gak keselek tiba-tiba mama nya Rika bahas cara nyenengin suami di pagi hari.
“Mam, nanti Ghina mau bikin kue. Kue buatan Ghina enak banget, mama harus coba."
“Wah kalau begitu tante ikutan nimbrung ya, secara tante gak bisa bikin kue, jadi pengen tahu cara bikinnya."
“Boleh tante, nanti Ghina ajarin.”
🌹🌹
Mansion Edward
Suasana pagi di mansion Edward riuh, beberapa pelayan merapikan kamar Tuan Besar serta kamar tamu untuk menyambut kepulangan Tuan Besarnya beserta keluarga Kiren.
Sedangkan Pak Jaka, Ria dan Denis hatinya mulai cemas menunggu kepulangan Tuan Besarnya, karena amanah untuk mencari Ghina belum di temukan juga. Pagi ini pun gadis itu belum kembali ke mansion.
Ria berulang kali menghubungi nomor ponsel Ghina, tapi tetap tidak aktif juga.
Jam 11 siang......
Mobil mewah Edward sudah masuk gerbang mansion. Pak Jaka selaku kepala pelayan menyambut ke datangan Tuan Besarnya.
Edward dengan wajah tampannya tapi sedang terkesan garang, menatap sekilas Pak Jaka dan Denis.
__ADS_1
Kiren yang sudah berganti status resmi sebagai nyonya rumah, terlihat angkuh saat melihat para pelayan mansion. ”Buatkan minuman dingin serta bawakan beberapa cemilan, antar ke ruang utama segera,” titah Kiren.
“Baik Nyonya,” jawab salah satu pelayan mansion.
Bu Sari yang pertama kali menginjakkan kakinya di mansion Edward sangat terpesona dan takjub, begitu juga Ayah Bowo.
“Kiren ... mansion suami mu sudah seperti istana. Ibu jadi kepingin ikutan tinggal di sini.” Sungguh Bu Sari tidak menyangka menantunya benar benar sultan setelah melihat bangunan mewahnya, bu Sari jadi penasaran dengan isi mansion menantunya.
“Tinggallah di sini sesuka hati ibu aja, lagi pula aku kan nyonya rumah ini,” balas Kiren dengan senyum bangga.
“Duh nak nasibmu sungguh beruntung.”
“Ayuk Bu, Ayah kita istirahat di ruang utama,” ajak Kiren.
Beberapa pelayan sibuk menurunkan koper dari mobil, dan membawanya ke kamar.
Edward masih menemani Kiren beserta mertuanya di ruang utama, tapi matanya sedang menelisik ke semua sisi, mencari seseorang.
“Ibu, Ayah ... saya tinggal dulu. Jika butuh sesuatu sampaikan ke Kiren.” pamit Edward.
“Baik nak Edward,” jawab Ayah Bowo.
“Pak Jaka, panggil Denis.....suruh ke ruang kerja saya,” titah Edward sebelum ke ruang kerja.
“Baik Tuan...”
🌹🌹
Ruang Kerja
Denis tertunduk saat menghadap Tuan Besarnya.
“Sampai jam 12 siang, kamu belum ketemu dan bawa pulang Ghina!” geram Edward dengan nada pelan.
“Maaf Tuan, kami masih mencari Non Ghina...mohon beri kami waktu.”
“Kamu bilang waktu, dari waktu tengah malam saya sudah berikan waktu. Dan ini sudah jam 12 siang!”
“Kalau begitu kamu....saya pecat sekarang juga!”
“Jangan Tuan, mohon beri saya waktu 2 jam untuk kembali mencari Non Ghina.”
Edward tampak berpikir “saya kasih waktu 2 jam, jika sampai 2 jam tersebut Ghina belum pulang juga. Kamu berhenti jadi ajudan saya!” ancam Edward.
“Baik Tuan,” Denis segera keluar dari ruang kerja Tuannya.
Tak berapa lama kemudian.....
TOK......TOK......TOK
“Permisi Tuan, makan siang sudah siap!” lapor Pak Jaka.
“Ya.....nanti saya ke sana,” jawab Edward. Dengan sedikit segan, Edward menuju ruang makan. Istri dan mertuanya sudah berada di sana.
Beberapa menu sudah terjadi di meja makan, Kiren pun langsung menyajikannya buat Edward.
🌹🌹
“Ya Allah......Non Ghina kenapa baru pulang,” Ria langsung memeluk Ghina yang baru saja muncul dari pintu belakang, pintu yang biasa di lewati para pelayan di mansion.
__ADS_1
Ghina kembali ke mansion Edward, tidak melewati pintu utama, tapi dia lewat jalan samping mansion tersebut.
“Mbak Ria, kangen ya sama Ghina,” godanya.
“Bukannya kangen Non, tapi mbak khawatir Non gak pulang, di telepon gak bisa. Mbak cemas Non, takut ada apa-apa.”
“Maaf ya Mbak Ria, sudah bikin cemas. Buat menghilangkan rasa cemasnya.....nih cobaiin cake buatan Ghina,” sambil menyodorkan kotak kue yang tadi di buatnya di rumah Rika.
“Serius ini buatan non Ghina, kayaknya enak nih." Ria melihat isi kotak kuenya, terlihat menggiurkan.
“Dipotong aja cakenya ya mbak Ria, terus bagi-bagi biar pada cicipin. Saya ke kamar dulu ya mbak, mau ganti baju.”
“Baik Non.” Ria langsung mengeksekusi cake dan menaruhnya di beberapa piring kecil. Lalu Tia mengantarkan beberapa piring kecil tersebut ke ruang makan, untuk di sajikan kepada tuannya sebagai sajian penutup makan siang.
Edward menerima piring kecil yang berisi sepotong cake keju. Saat menyantap kue tersebut, tiba-tiba dia membawa piring tersebut ke dapur.
“Siapa yang bikin cake ini?” tanya Edward.
Seketika para pelayan yang berada di dapur kaget dengan kehadiran Edward tiba-tiba. Ria yang sedang menyantap cake Ghina langsung berhenti menyuap.
“Maaf Tuan Besar, cake nya tidak enakkah. Kalau begitu biar saya ambil piringnya,” ujar Ria ingin seraya mengambil piring yang berada di tangan Edward.
“Yang saya tanya ini cake siapa yang buat atau beli di mana?” tanya Edward meradang.
“Anu......Tuan.....ini cake buatan non Ghina,” jawab Ria sedikit takut.
Benar dugaan Edward, cake yang dia makan buatan Ghina. Napas Edward sudah mulai naik turun.
“Ghina sudah pulang! Di mana dia sekarang?”
“Non Ghina di kamarnya, Tuan,” jawab Ria.
Diletaknya piring cake tersebut di meja dapur, Edward bergegas ke kamar Ghina.
“Sialan.....di kunci!” Edward berulang kali membuka kenop pintu kamar tamu yang di tempati Ghina.
Ceklek
Tanpa di duga Edward, Ghina membuka pintu kamarnya, karena ingin balik ke dapur untuk mengisi perutnya.
Kedua netra Ghina terbelalak saat kedapatan Edward sudah berada di depan matanya.
“Aakh......!” Edward mendorong tubuh Ghina kembali masuk ke kamar, dan mengunci kamarnya kembali.
“Dari mana kamu kemaren....hah!” pekik Edward.
“Kenapa setiap saya telepon, kamu tidak angkat!” Edward mendorong tubuh Ghina lagi, sampai menempel ke dinding tembok. Lalu pria itu menghimpit tubuh mungilnya.
“Lihat wajah saya.....Ghina!!” diraihnya dagu Ghina agar wajahnya menatap dirinya.
“Mau ke mana saya pergi itu bukan urusan Om Edward, bukannya kita tidak boleh saling mencampuri urusan pribadi masing masing sesuai perjanjian yang Om buat!” Ghina menantang tatapan Edward.
“Saya suami kamu, berhak tahu kamu pergi ke mana,” bisik Edward, sambil menghembuskan napasnya.
“Kalau Om Edward memang suami saya, Om tidak akan menikahi mbak Kiren. Jadi jangan mengaku suami saya!” balas Ghina.
“Atau Om Edward sudah menganggap saya sebagai istri Om!” dengan memberanikan diri Ghina mendongakkan wajahnya dan menatap wajah Edward yang jaraknya hanya 20 cm.
“Kamu tidak akan pernah saya anggap sebagai istri saya. Ingat istri saya hanyalah Kiren....Nyonya Edward, dan saya hanya bertanggung jawab ke kamu sebagai saudara....tidak lebih!” jawab Edward. Perkataan Edward bagi Ghina seperti menghunuskan hatinya seketika itu juga.
__ADS_1