Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Bangunnya Singa Betina


__ADS_3

Tampak kejauhan ada sepasang suami istri datang tergopoh-gopoh dengan wajah masamnya.


“Buat apa mereka ke sini,” gumam Opa Thalib yang menangkap pandanganya dari kejauhan.


“Siapa yang datang  Pah,” tanya Oma Ratna, ikut menoleh.


Ghina dan Ferdi pun ikut menolehkan wajahnya.


“Selamat siang Pak Thalib,” sapa Pak Bowo dengan wajah tidak mengenakkan.


“Selamat siang Pak Bowo,” balas Opa Thalib dengan wajah dinginnya.


Ibu Sari sudah menatap tajam dan sinis ke arah Ghina, tapi di acuhkan oleh gadis itu.


“Ada apa Anda berdua datang ke sini!” Tegur Opa Thalib.


“Saya datang ke sini, minta kepada keluarga Edward untuk mencabut tuntutan kepada anak kami, perbuatan anak kami adalah hal yang tidak di sengaja,” tegas Pak Bowo memasang badannya di hadapan Opa Thalib.


“Saya pikir Anda berdua datang untuk minta maaf, ternyata minta di cabut perkaranya....!!” balas sinis Opa Thalib.


“Ck....buat apa kami minta maaf, lagi pula anak Anda duluan yang mencari perkara. Bisa-bisanya anak Anda menceraikan anak saya tanpa sebab,” ketus Bu Sari.


Ferdi mulai mengerem dan mengepalkan tangannya, sepertinya Pak Bowo dan Bu Sari tidak tahu benar duduk permasalahannya, hingga menyalahkan semuanya kepada Edward yang sedang kritis saat ini.


“Tapi tetap saja anak Anda bersalah, telah mengancam keselamatan salah satu karyawan, dan telah melukai putra saya!” cetus Opa Thalib, balik kasar.


“Sungguh Anda berdua tidak bisa melihat dan mengakui kesalahan anak kalian sendiri. Tiba-tiba seenaknya datang minta kami mencabut  perkara yang menimpa anak saya Edward. Yang sekarang sedang berjuang antar hidup dan matinya,” tegur Oma Ratna, membalas kata sinis Bu Sari.


“Tapi tetap saja anak Anda lah yang salah duluan, kenapa tiba-tiba menalak anak saya. Bukankah anak kalian yang akan bercerai dengan gadis ini bukan anak saya!!” ketus Bu Sari, mulai mendekati Ghina.


Ghina mulai bersedekap, melipat kedua lengannya ke dada, tatapannya pun mulai tajam melihat Bu Sari mulai mendekatinya.


Para ajudan diberi kode oleh Opa Thalib agar mendekat.


“Atau jangan-jangan karena gadis ini, anak saya di talak oleh Edward, hem.” Tanpa rasa sungkan Bu Sari meraih rambut panjang Ghina yang tergerai.

__ADS_1


Tangan Ghina langsung mencengkeram lengan Bu Sari, “Apa yang ingin Anda lakukan?” tegur keras Ghina dengan sorot mata yang menusuk.


Para ajudan Thalib mulai maju, tapi salah satu tangan Ghina memberi tanda untuk tidak mendekatinya.


“Saya ingin memberi pelajaran buat gadis licik seperti kamu, gara-gara kamu.....anak saya di ceraikan dan sekarang mendekam di jeruji besi,” pekik Bu Sari.


“Anak anda yang berulah, saya yang di salahkan....oooh Anda begitu bodohnya atau sangking terlalu liciknya. EMOSI, KECEWA karena tidak memiliki menantu sekaya sultan lagi.......huh!” geram Ghina yang masih mencengkeram lengan Bu Sari.


“DASAR KURANG AJAR KAMU!!” pekik Bu Sari, mengeluarkan tenaganya untuk menjambak rambut Ghina yang sudah berada di genggamannya.


BUGH


BUGH


Dengan kekuatan lutut dan kakinya, Ghina menendang perut Bu Sari sekencang-kencangnya, hingga Bu Sari terdorong ke belakang hingga jatuh terjengkang.


“AAKHHH....,” jerit kesakitan Bu Sari.


Opa Thalib, Oma Ratna dan Ferdi tercengang melihat kekuatan Ghina.


“Kelakuan anak Anda adalah sebuah kejahatan yang tidak bisa di maafkan, sudah terjatuh korbannya. Dan anda bilang hal tersebut tidak di sengaja. Anda jangan buat yang salah jadi benar, benar jadi salah....WAHAI PAK TUA!!!” wajah Ghina benar-benar terlihat berbeda, bukan seperti Ghina biasanya. Opa Thalib, Oma Ratna dan Ferdi terkesiap.


“AYO PAK TUA KENAPA DIAM SAJA!!” ucap Ghina lantang, lalu ditariknya lengan Pak Bowo, di bawanya ke depan kaca ruang ICU.


“LIHAT-LIHATLAH DENGAN MATA ANDA.....INI HASIL PERBUATAN ANAK ANDA.........KIREN!” ucap Ghina dengan suara meninggi.


Pak Bowo menatap isi ruang ICU dari kaca, terlihatlah kondisi Edward yang berbaring di atas ranjang.


“Di dalam sana Om Edward sedang berjuang antara hidup dan matinya, ke mana hati nurani anda. Coba kalau di tukar posisinya, anak anda yang berada di dalam sana!” pungkas Ghina.


Pak Bowo tampak bergeming.


“Dan anda.....Ibu Tua!” tegur Ghina, sambil mendekati Bu Sari yang masih terduduk dilantai, tidak ada satu pun yang membantunya untuk bangkit dari jatuhnya.


Ghina jongkok di hadapan Bu Sari,  meraih rambut Bu Sari dan menggenggam rambut Bu Sari dan sedikit menariknya, agar wajah Bu Sari bisa menatap dirinya.

__ADS_1


“Kita tidak pernah saling kenal sebelumnya, tapi anda selalu menghujatku, menuduhku tanpa bukti. Anda seorang Ibu yang mempunyai anak perempuan, tapi dengan mudahnya mulut anda berkata kasar dengan anak perempuan lainnya. Perkataan anda adalah doa untuk anakmu sendiri, umpatan yang selalu anda tujukan kepada saya, sesungguh anak Andalah yang seperti itu!!!” ditariknya kembali rambut Bu Sari.


“Saya tidak akan pernah bersikap kasar dengan anda, kalau anda tidak memulainya duluan, sudah cukup saya di tindas oleh anda,” Ghina melepaskan rambut Bu Sari dan beranjak bangun dari jongkoknya, ajudan Opa Thalib bersiaga langsung di samping Bu Sari.


Oma Ratna menghampiri Ghina, dan mengelus lembut punggung Ghina,  guna meredam emosi gadis itu yang sedang membuncah tapi masih terkontrol. Ghina hanya menoleh sesaat ke arah Oma Ratna.


“Jadi bagaimana Pak Bowo!” panggil Ghina, masih tetap dengan tatapan tajamnya.


“Masih belum juga terbuka hatinya, masih meminta mencabut perkara ini....huh!!” ujar Ghina.


Bu Sari yang sudah berdiri, langsung memepetkan dirinya ke suaminya Pak Bowo, sedikit takut melihat Ghina sudah seperti singa betina yang sedang mengeluarkan kedua taringnya.


“Saya tetap minta di cabut perkara ini, biarkan anak saya bebas,” jawab Pak Bowo sambil menundukkan kepalanya.


“OOhhhh memang anda berdua tidak punya hati!!” geram Ghina.


“Bagaimana kalau kita barter, saya cabut perkaranya tapi tukar dengan nyawa anak anda sekarang. Bagaimana anda berdua bersedia!!!........ Atau tukar dengan nyawa kalian berdua. Ajudan sudah siap semua di sini, untuk mengambil nyawa kalian berdua!!” ancam Ghina, dan mereka sudah di kelilingi oleh enam orang ajudan Opa Thalib, salah satu ajudan sudah  mengeluarkan senjata api.


Pak Bowo dan Bu Sari tergidik mendengar ancaman gadis itu, di tambah melihat posisi ajudan Opa Thalib sudah berada dekat dengan mereka berdua, dan melihat sebuah senjata api yang di pegang salah satu ajudan.


Opa Thalib hanya bisa menggelengkan kepalanya dan bersedekap melihat tindakan Ghina, tanpa ikut campur terlebih dahulu. Melihat cara penyelesaian terhadap kedua orang tua Kiren.


“Kenapa belum di jawab.....hem?” tegur Ghina, kembali melangkahkan kakinya mendekati Pak Bowo dan Bu Sari. Tak ada rasa takutnya Ghina menghadapi kedua orang tersebut.


“J-jangan....aam—bil nyawa kami,” jawab Pak Bowo tergagap.


“Nah begitu, gak mau kan kehilangan nyawanya! Begitu juga kami tidak mau kehilangan nyawa Om Edward, tapi jangan pernah berharap kami mencabut perkara ini. Ingat yang salah tetap di hukum bukan dibiarkan!!” tegas Ghina.


“Sekarang tinggalkan tempat ini juga, dan sampai ke temu di pengadilan nanti!!” perintah Ghina. Tanpa menunggu jawaban, para ajudan menggiring Pak Bowo dan Bu Sari keluar dari rumah sakit, sampai benar benar keluar untuk lebih memastikan, dan tidak kembali ke rumah sakit.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2