
Dengan kata terakhir akan menunggu status janda, Rafael keluar dari ruang rawat inap tempat Ghina berada.
Edward langsung melempar buket bunga mawar ke lantai begitu saja, serta membuang paper bag yang di bawa Rafael ke tempat sampah. Ghina tampak bergeming dan tidak merespons apa yang dilakukan oleh suaminya sendiri.
Pikiran wanita itu seakan terhanyut dengan perkataan Rafael
Setelah dia mendapatkan apa yang diinginkan, pasti dia akan mencampakkanmu. Sudah ada contohnya, dia mencampakkan Kiren begitu saja, padahal saya tahu bagaimana dia sangat mencintai Kiren.
Hati Edward masih menggebu-gebu dan terbakar api cemburu, ketika Rafael secara terang-terangan akan merebut Ghina dari sisinya. Suasana kamar terasa hening, mereka berdua tenggelam dengan pemikirannya masing-masing.
Pria itu kembali duduk di samping Ghina, dan mencoba untuk menggenggam tangan istrinya, akan tetapi ditepis wanita itu.
“Ghina......,” ada rasa takut yang mulai menyelusuri di relung hati Edward.
“Kenapa.........kenapa menolak aku memegang tangan kamu?”
Ghina memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar. Pria itu tidak suka, di raihnya dagu Ghina agar wajah istrinya menatap dirinya.
“Kamu percaya dengan ucapan Rafael kah?”
“Sedikit........”
Edward menghela napas panjang, benar dugaan pria itu jika istrinya akan termakan dengan ucapan Rafael.
“Kita baru dekat beberapa hari Om......!” Ghina kembali menepis tangan Edward yang memegang dagunya.
“Aku ingin berbaring,” pinta Ghina dengan nada rendahnya, kembali lagi wanita itu tidak mau menatap wajah suaminya. Mendengar permintaan Ghina, Edward memapah Ghina untuk ke ranjang, dan membantu membaringkan tubuh wanita itu.
Edward menatap sendu wajah wanita itu yang mulai memejamkan matanya. Tangannya mulai mengelus pipi istrinya, sungguh pria itu tidak suka dengan keadaan begini, yang di mana istrinya tiba-tiba menjadi diam. Padahal sebelum kedatangan Rafael, mereka berdua sedang mengobrol santai, membahas pekerjaan mereka berdua.
“Aku harus bagaimana honey? Supaya kamu percaya denganku,” gumam Edward sendiri. Pria itu kemudian mengecup kening istrinya dengan lembut, lalu beranjak dari duduknya. Kembali duduk di sofa.
“Ferdy tolong jemput Ria, dan tanya ke Ria, apa makanan kesukaan istri saya, kalau bisa belikan dan antar ke rumah sakit segera!” perintah Edward melalui sambungan teleponnya.
“Baik Tuan."
“Sekalian bilang Ria, bawakan baju salin untuk nyonya, sore ini kemungkinan sudah di perboleh pulang dari rumah sakit.”
“Baik Tuan.”
__ADS_1
Edward mematikan sambungan teleponnya, dan menyugar rambutnya..... pikirannya kembali galau. Di pandangnya istrinya dari kejauhan, yang kini sudah terlelap dalam tidurnya.
Dua jam kemudian.......
“Assalamualaikum,” sapa Ferdi dan Ria.
“Walaikumsalam,” balas Edward yang sibuk dengan handphonenya, mengecek email yang masuk.
“Tuan, ini saya bawakan makanan kesukaan Nyonya...,” Ria meletakkan beberapa kotak makanan, yang ternyata dari pagi Ria sudah menyiapkannya dan memang akan di bawa ke rumah sakit siang ini. Dan pas kebetulan Tuannya meminta di bawakan makanan kesukaan istrinya.
Ria sudah membuka kotak makanan yang dia bawa, ada sop iga, tempe mendoan, lalapan dan sambel terasi.
“Honey, bangun yuk....kamu belum makan siang,” ucap Edward lembut, sambil mengelus pipi istrinya.
“Mmmm.........,” Ghina mulai mengerakkan kedua kelopak matanya, dan melihat wajah suaminya yang begitu dekat.
“Bangun dulu ya, honey belum makan siang dari tadi. Ria sudah bawa makanan kesukaan kamu,” ucap Edward, diraihnya kedua tangan Ghina dan meletakkannya di kedua bahunya, untuk memudahkan Ghina bangun dari pembaringannya dan di papahnya ke meja makan, Ria ikut membantu Edward memegang tiang infusan.
Dalam diamnya Ghina, Edward segera menyiapkan makan siang yang telat untuk istrinya.
“Biar aku makan sendiri, Om,” tolak Ghina halus, tidak ingin di suapi oleh Edward. Kali ini Edward memilih mengalah, apalagi Ghina lagi mode diam.
“Mbak Ria, Pak Ferdi.....ayuk sekalian makan bareng,” ajak Ghina, merasa aneh makan sendiri.
“Kami berdua sudah makan tadi di rumah,” tolak Ferdi.
“Ooh, sudah makan ya.......maaf ya saya jadi makan sendiri ini,” ujar Ghina, tapi wanita itu tidak menawarkan makan kepada pria yang di berada di hadapannya. Pria itu menatap istrinya, dan lagi-lagi wanita yang di tatapnya memalingkan wajahnya.
Begitu besarkah pengaruh ucapan Rafael terhadap Ghina, sampai sikap Ghina berubah terhadap pria itu.
Dentingan sendok yang beradu dengan piring terdengar jelas di ruang rawat, ketika wanita itu sedang makan. Edward tidak ada niat untuk ikut makan siang, selera makannya hilang semenjak istrinya tidur dan mendiamkan dirinya.
“Nyonya mau tambah nasinya lagi gak?” Ria membuka suaranya atas keheningan yang terjadi.
“Sudah kenyang mbak Ria, makasih ya sudah masakkin buat saya.”
“Sama-sama Nyonya, makan yang banyak biar cepat sembuh.”
“Mbak Ria nanti tolong rapiin barang saya ya, rencana sore ini pulang, tinggal tunggu Dokter.”
__ADS_1
“Baik Nyonya, nanti saya rapikan. Tuan tidak makan?” tanya Ria, sebelum wanita itu merapikan kotak makan.
“Tidak, saya tidak nafsu makan. Kamu rapikan saja,” jawab Edward, dengan tatapan sendunya, pria itu menatap istrinya yang masih saja membuang muka dari tatapannya.
Berkali-kali pria itu menghela napas panjang, antara emosi, kecewa campur aduk melihat istrinya.
“Ghina......,” pria itu coba memanggil istrinya dengan lembut.
“Mbak Ria, tolong bantu saya. Saya mau duduk di sofa,” Ghina menghiraukan panggilan Edward.
Pria itu langsung beranjak dari duduknya, kemudian memegang tangan Ghina.
“Biar mbak Ria saja yang membantu,” Ghina menepis tangan Edward.
“Ria, Ferdi......tolong keluar dulu sebentar,” perintah Edward.
“Baik Tuan,” Ferdi dan Ria bergegas keluar dari ruang rawat.
“Honey......lihat aku!!”
Ghina menundukkan kepalanya, “tatap aku.....honey,” mohon Edward.
“Jangan kamu diamkan aku seperti ini, berulang kali kamu memaling wajah setiap aku tatap. Kamu marah!!”
Wanita itu mendongakkan wajahnya, agar bisa menatap wajah pria itu “aku tidak marah.”
“Lalu kenapa semenjak Rafael pergi, kamu langsung berubah dan mendiamkan aku......dan tidak mau menatapku,” cecar Edward.
“Ada perkataan Mas Rafael, yang menyentil hatiku dan membuatku terdiam memikirkannya.”
“Jadi kamu lebih percaya dengan ucapan Rafael yang selama ini kamu anggap teman, ketimbang aku sebagai suami.”
“Untuk percaya dengan seseorang itu butuh proses Om, kita berdua dari dulu tidak dekat dan belum saling mengenal kepribadian masing-masing. Kita baru dekat beberapa hari ini, dan rasa percaya itu belum sepenuhnya muncul.”
“Di benak hatiku masih penuh teka teki tentangmu, Om. Jika memang betul setelah Om mendapatkan diriku seutuhnya, lalu akan meninggalkanku. Itu sungguh menyakitkan pastinya. Mbak Kiren yang dulu Om sangat cintai bisa Om ceraikan, bagaimana dengan aku, yang belum pernah menjadi pacar Om, yang tiba-tiba dinikahi jadi istri......akankah sama nasibnya seperti mbak Kiren!!”
next......mampukah Edward membuat Ghina percaya
Kenalkan ini Rafael
__ADS_1