
Acara syukuran empat bulanan begitu meriah, bertemu dengan sanak saudara yang sudah lama tidak berjumpa. Edward dan Ghina memakai warna baju dengan warna yang senada, terlihat seperti pasangan yang serasi. Calon daddy dan mommy yang ganteng dan cantik.
Setelah mengelar pengajian, tibalah saatnya acara bebas yang khusus di gelar oleh Edward di ballroom hotelnya, lebih tepatnya di hotel tempat Edward dan Ghina menikah, ruangan yang sama pula. Iringan musik dari penyanyi pilihan, serta aneka jamuan makanan terhidang memanjakan lidah tamu yang di undang oleh Edward dan Ghina.
“Sayang, ingat gak dengan ruangan ini,” tanya Edward sambil memeluk bumil cantiknya dari belakang.
“Sangat ingat waktu itu ada pria bernama Om Edward yang memaksa aku menikah dengannya,” celetuk Ghina, tubuhnya sedikit bergoyang mengikuti irama musik yang sedang berdendang.
“Yap aku memaksamu menikah denganku. Pengantin yang paling cantik, yang pernah aku lihat. Kamu masuk lewat pintu itu, dari jauh saat melihatmu hatiku berdebar-debar, terpesona dengan pengantinku ini,” tunjuk Edward ke arah pintu ballroom, Ghina pun turut menatap pintu ballroom, sambil mengingat kejadiannya.
“Kadang ketika kita berada tempat yang bersejarah, semua kenangan pasti akan teringat kembali ya, hubby.”
“Ya pasti akan teringat, jika itu kenangan yang sangat membekas di hati. Di tempat ini aku mengikat janji padamu, walau akhirnya aku sempat menyia-nyiakanmu kala itu," mengingat dan menyesali.
“Kenangan manis dan pahit menjadi satu, menerima hubby menjadi suami saat itu dengan perasaan sedih tapi terselip sedikit kebahagiaan. Karena aku dinikahi oleh pria yang pertama kali aku sukai,” ungkap jujur Ghina.
Edward memutar tubuh istrinya, agar bisa meerka berdua bisa saling berhadap-hadapan. “Aku cinta pertamamu, dan kamu adalah cinta pertamaku juga,” balas Edward dengan tatapan penuh damba, melihat bumil cantiknya.
“Bolehkan aku minta sesuatu, Om Edward,” tiba-tiba wanita itu kangen memanggil suaminya Om Edward.
“Mau minta apa sayang, tapi kok tumben sayang panggil Om lagi?”
“Ada rindu memanggil suamiku Om,” jawab Ghina dengan tatapan menggodanya kepada suami tampannya
“Kalau rindu, kita masuk kamar yuk,” pinta Edward.
“Mulai deh..........Om Edward otaknya messum lagi,” gerutu Ghina.
“Becanda sayang, tapi kalau di seriusin aku gak nolak kok.”
“Iiissss......emang maunya hubby,” sambil mencubit pinggang suaminya.
“Ya sudah sayang tadi mau minta apa?” Edward merangkul pinggang bumil, terasa perut bulatnya menempel di perut pria itu.
__ADS_1
Sedangkan tangan Ghina merangkul ke leher suaminya, tanpa di sadari mereka berdua bagaikan orang yang sedang berdansa di lantai dansa.
“Kalau aku kasih tahu, hubby kira-kira mau mengabulkannya?” tanya Ghina.
“Insya allah apa pun aku kabulkan untuk istriku ini,” jawab sungguh-sungguh Edward.
“Jadikan aku cinta terakhirmu Om Edward, dan tidak ada cinta untuk wanita lain.”
Edward tersenyum hangat mendengar permintaan istrinya, “sejak aku meminta kamu mau menikah ulang denganku, hatiku sudah terpatri olehmu sayang. Kamu adalah cinta pertama dan cinta terakhirku.”
Ghina menatap lekat-lekat wajah suaminya, berharap perkataan suaminya betul adanya, “bisakah aku pegang janjimu?”
“Aku tidak ingin berjanji, tapi akan membuktikannya,” jawab jujur Edward.
“Baiklah kalau hubby terbukti main cinta dengan wanita yang lain, aku tidak akan segan-segan memotong habis si Jon,” ancam Ghina. Membuat Edward tergidik mendengarnya.
“Seram amat sayang ancamannya.”
“Setuju sayang.....setuju... demi sayang aku rela,” khawatir bumilnya bakal nangis di tempat acara.
“Tapi tumben kamu bahas tentang selingkuh, apakah sayang mencurigai aku?”
“Boleh aku jujur sama hubby?” ada rasa yang selama empat bulan ini di pendamnya dari suaminya.
“Jujurlah ada apa?”
“Hubby itu pria yang sangat tampan, seorang CEO yang memiliki banyak perusahaan dan tentunya kaya. Wanita mana yang tidak suka dengan hubby, pasti akan banyak cara untuk menggoda hubby, walaupun hubby sudah punya istri. Aku sedikit melihat gelagat aneh sekretaris baru hubby, entah hubby perhatikan atau tidaknya. Yang jelas aku sering melihat Selly mencari perhatian hubby, dan sedikit menggoda hubby dengan melihat cara berpakaian kerjanya. Mungkin hubby sekarang tidak tertarik, tapi lambat laun hubby akan tergoda juga.”
Edward menautkan kedua alisnya, Santi sekretaris yang lama sudah berhenti kerja karena sedang kondisi hamil anak kedua, akhirnya Edward meminta sekretaris baru sebagai pengganti yang lama, dapatlah Selly.
Edward tidak terlalu memperhatikan wanita lain selain istrinya seorang, karena hatinya milik istrinya Ghina. Sekarang istrinya mengeluhkan seseorang pada dirinya.
“Kalau hubby tidak percaya, lihatlah tatapan Selly, sedari tadi selalu menatap hubby,” ujar Ghina, sambil memberikan kode ke tempat Selly berada.
__ADS_1
Di acara syukuran empat bulan tidak hanya keluarga yang di undang, tapi beberapa karyawan di undang juga walau tidak semuanya. Edward mengedarkan pandangannya ke arah Selly duduk. Dan benar saja Selly tersenyum manis saat bersitatap dengan Edward.
“Sayang......”
“Mmm.........,” gumam Ghina, mereka berdua saling bersitatap.
“Sayang percaya sama aku kan?”
“Aku berusaha percaya dengan hubby sampai hari ini, tapi entah kalau dilain waktu,” jawab jujur Ghina.
Terkadang seorang istri memiliki feeling terhadap wanita, baik itu teman atau karyawan suaminya. Dengan melihat tatapan mata saja, bisa terlihat sekilas isi hatinya. Hal ini yang di rasakan oleh wanita cantik yang sedang hamil itu. Mungkin saat ini suami tidak tergoda dengan wanita lain, akan tetapi jika terus bertemu dengan wanita lain lalu di tambah dengan bumbu perhatian dan disuguhkan penampilan yang sangat menggoda, lambat laun akan muncul nafsu untuk berpaling dari pasangan halalnya. Inilah yang harus di komunikasikan antara suami istri.
Edward bisa menangkap rasa khawatir dan kecemasan istrinya, yang tersirat dari ucapan dan sorot matanya.
“Aku hanya ingin selalu kamu di samping aku, jika kamu tidak menyukai Selly hari ini juga akan aku pecat. Lebih baik mencegah, dari pada terjadi sesuatu hal yang membuat kita berpisah, aku tidak mau menyesal di kemudian hari. Karena tergoda dengan wanita lain, akhirnya aku akan kehilangan berlianku yang selama ini telah aku perjuangkan. Tolong tegur dan ingatkan aku jika kamu melihat perubahan dalam diriku, jangan diam dan berkata jujur seperti ini. Jangan di pendam lagi,” pinta Edward.
“Makanya dari itu aku minta jadikan aku cinta terakhirmu, jangan ada pela-kor dan pebinor di antara kita berdua. Karena Om Edward adalah milikku serta daddynya si kembar.”
“Aku hanya milikmu seorang sayang, istriku Ghina....istri satu-satunya...,” di kecupnya kening Ghina dengan lembut.
“I love you, Ghina.”
“I love you too, Om Edward.”
__ADS_1