Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Pernyataan Suka


__ADS_3

"Selamat Pagi.......cantik,” sapa Dokter Irfan.


“Selamat Pagi juga Pak Dokter,” balas Ghina.


 “Sedang sarapan ya....silahkan di lanjutkan dulu, tanggung sudah mau habis,” sambung Dokter Irfan.


“Maaf ya Pak Dokter.” Ghina buru buru menyuap dan menghabiskan sarapannya.


“Uhuk.......uhuk......uhuk,” efek makan terburu-buru akhirnya keselak.”


“Jangan terburu buru, saya sabar menunggu.” Dengan lembutnya dokter tampan mengelus pundak Ghina.


Ria buru buru mengantarkan minum “di minum dulu ....Non.” Ghina segera mengambil gelas dari Ria dan minum sampai tandas.


Edward yang melihat adegan melalui ponselnya, rahangnya mulai mengeras. Rasa hatinya mulai tak menentu lagi.


Dokter Irfan tak putus putus menatap wajah Ghina layaknya pria yang sedang jatuh cinta, akan tetapi tidak di sadari oleh diri si gadis.


“Pak Dokter, saya sudah selesai sarapannya. Silahkan kalau mau periksa.”


“Ghina tidak usah tengkurap karena habis makan, jadi duduk saja,” pinta Dokter Irfan.


“Oke......Pak Dokter.” Ghina menuruti perkataan Doktet Irfan.


Dokter Irfan mulai mengecek jahitan lukanya “lukanya sudah mulai membaik ya, siang ini saya izinkan boleh pulang. Tapi tiga hari lagi balik kontrol ke rumah sakit. Dan untuk sementara mandinya tidak bisa guyur dulu ya, jadi usahakan berhati hati dulu....jangan terkena air dulu bagian punggungnya.”


“Akhirnya bisa pulang juga, baik Pak Dokter akan saya ingat,” ujar kelegaan hatinya.


“Dan pastinya saya akan kehilangan pasien saya yang cantik ini. Apalagi nomor ponselnya tidak ada, bagaimana mau menghubunginya.” Tersirat rasa kecewa yang begitu mendalam.


“Maaf ya Pak Dokter......nanti kalau saya sudah ada ponsel baru. Pasti akan saya kabari.”


“Ini kartu nama saya, di simpan baik baik. Segera kabari saya. Saya mohon......” permintaan yang sarat makna dari Dokter Irfan.


“Akan saya simpan kartu ini.” Tangan Dokter Irfan menyentuh tangan Ghina, dengan lembutnya menggenggam tangan Ghina.


Ghina yang tangannya di sentuh, terasa kikuk, dan bingung.


Edward yang melihat dari ponselnya, langsung berlari dari ruang kerjanya menuju kamar rawat Ghina.


Hanya memakan waktu lima menit, Edward sudah masuk ke kamar Ghina. Ria dan Ferdi wajahnya terlihat cemas, melihat kedatangan Tuan mereka.


“Mmmm.......” deheman Edward terdengar keras.


Dokter Irfan dan Ghina menoleh ke arah Edward. Dokter Irfan melepas genggaman tangannya.

__ADS_1


“Selamat Pagi Pak Edward,” sapa Dokter Irfan dengan suara tenangnya.


“Siang ini saudara Pak Edward sudah bisa pulang ke rumah, kondisinya sudah mulai membaik,” lanjut ucap Dokter Irfan.


“Bagus kalau begitu, oh iya Dokter apakah dengan pasien selalu menggenggam tangan pasien? Saya perhatikan tadi pegang tangan saudara saya, maksudnya apa?” nada kesalnya terdengar sekali.


“Maaf Pak Edward kalau saya lancang, saya ingin menyampaikan sebenarnya, saya suka dengan Ghina dan ingin mengenal lebih jauh dengan saudara Pak Edward. Jika Pak Edward mengizinkan, saya ingin melakukan  penjajakan dengan Ghina menjadi calon istri saya,” ungkapan hati Dokter Irfan yang jujur, dan memang ingin secepatnya, takut Ghina di ambil orang.


Wajah Ghina melongo, pikirannya tidak sejauh itu terhadap Dokter Irfan. Dan ini semua di luar dugaan.


Kedua tangan Edward mulai terkepal, hatinya seakan-akan di obrak abrik mendengar kata-kata Dokter Irfan, membuat dia begitu muak dengan pria tampan di hadapannya. Beraninya seorang pria menyatakan rasa suka kepada istrinya......eh bukan deh tepatnya saudara. Kalau istri tak dianggapnya.


Ria yang sengaja mendengar pernyataan suka dari Dokter Irfan, jadi senyum senyum sendiri. Bagaimana ceritanya ada pria lain yang menyatakan suka di depan suami sang wanita. Dan ini benar terjadi di hadapan.


Rasaiin tuh Tuan Besar, kalian belum berpisah saja, istrinya sudah ada yang mepet......ha...ha...pengen ketawa jahat rasanya.🤭


“Sebaiknya Dokter Irfan cari wanita yang lain, Ghina masih muda dan dalam waktu dekat ini dia akan kuliah, jadi butuh konsentrasi dalam belajarnya.”


“Saya akan menunggunya!” jawab tegas Dokter Irfan, memandang lekat pujaan hatinya.


Ghina merasa risih dengan pandangan dari kedua pria tampan ini, dia hanya bisa memalingkan wajahnya. Yang satu tatapannya hangat, yang satu lagi tatapannya begitu tajam, bagaikan ada kobaran api di dalam kedua netranya.


“Ghina.....kamu tidak perlu menjawabnya, kita jalani seperti teman dulu,” ucap Dokter Irfan melembut.


Ghina hanya bisa tersenyum tipis, tidak bisa membalasnya.


“Sebentar Pak Edward, saya akan mencabut jarum infusnya. Karena Ghina sudah tidak butuh di infus lagi.” Bergegas dia mengambil kapas beralkohol untuk mencabut jarum infus yang ada ditangan Ghina.


“Sampai ketemu lagi ya Ghina, semoga ini bukan pertemuan terakhir kita.”


“Iya Pak Dokter, terima kasih atas perawatannya selama saya di rawat di sini.”


“Sama sama Ghina, sudah tugas saya sebagai Dokter.”


“Saya permisi Pak Edward,” pamit Dokter Irfan.


Ria mendekati ranjang Ghina buru-buru, lebih baik melangkah duluan, sebelum Tuan Besar mengambil tindakan yang tak terduga. Apalagi wajah Tuan besar terlihat garang.


Edward sudah tolak pinggang dengan wajah yang tidak bisa di pahami.


“Non Ghina, mbak bantu ganti baju dulu. Siang ini Non sudah bisa keluar dari rumah sakit, jadi tidak harus pakai baju rumah sakit lagi.”


“Ferdi, segera ke bagian administrasi dan bagian apoteker. Pagi ini Ghina keluar dari rumah sakit, tidak usah menunggu siang hari!” titah Edward, suaranya meninggi dua oktaf.


“Baik Tuan Besar.”

__ADS_1


Ghina hanya bisa menyimak perintah Edward, tanpa bertanya ke Edward. Lebih baik dia ikut Ria untuk berganti pakaian di kamar mandi.


Sesuai style Ghina, dia sudah mengenakan celana jeansnya dan kaos berukuran besar.


Edward yang melihat penampilan Ghina, yang baru keluar dari kamar mandi terlihat tambah kesal. Pakaian yang di pesan melalui sekretarisnya tidak di pakainya.


“Kenapa tidak pakai baju yang saya belikan dan tidak menerima handphone dari saya?” tegur Edward.


Ghina menyipitkan matanya .“Ooh......Om Edward beli baju dan handphone buat saya. Buat apa? Baju saya masih ada kok. Lagi pula saya tidak minta di belikan baju dan handphone, jadi seharusnya Om tidak perlu repot repot membelikan saya baju dan handphone. Sebaiknya belikan saja untuk ISTRI TERCINTA.....ISTRI YANG DIANGGAP SAMA OM EDWARD!” Ghina sengaja menekan kalimat terakhirnya.


Berhubung Ghina sudah lepas dari infusan, membuat Ghina bisa bergerak leluasa. Dia tidak lagi berbaring di ranjang, rasanya lega dirinya bisa berjalan bebas.


Ghina berdiri dekat jendela besar yang berada di kamar rawatnya, sungguh luasnya mata memandang. Edward menghampiri Ghina dan sama sama memandang ke arah keluar, melalui jendela.


“Om Edward......... mari kita hentikan permainan ini demi kebaikan kita berdua dan keluarga besar kita. Mari kita hentikan pertengkaran kita, itu hanya melelahkan dan membuang waktu kita menjadi sia sia!” ucap Ghina sambil menatap keluar jendela.


“Perceraian.......itu yang kamu maksud?” sergah Edward.


“Apa karena Dokter Irfan sudah menyatakan rasa suka padamu, lalu kamu minta bercerai dari saya, agar bisa cepat menikah dengannya. Menjadi istri Dokter Irfan?” tukas Edward.


“Pandang....saya Ghina. Kalau berbicara tatap wajah saya!” jemari tangan Edward mengapit dagu Ghina, agar wajah cantik si gadis menatap dirinya yang terlihat garang.


“Kali ini saya ingin pulang ke mansion Opa, saya tak ingin kembali ke mansion Om!” pinta Ghina dengan menatap wajah Edward.


“Kamu tidak usah mengalihkan pembicaraan. Jawab pertanyaan saya barusan?” tuntut Edward, butuh jawaban dari Ghina


“Tidak perlu saya jawab, itu hal pribadi saya!” seru Ghina.


“Harus di jawab karena saya su---,”


“Saudara.....Om Edward saudara saya, tidak lebih!” sela Ghina. Edward termakan dengan ucapan sendiri.


“Hari ini kamu pulang ke mansion saya.” Bentakan yang terkesan tidak menerima bantahan dari Ghina.


“Dan kembali menjadi tawananmu!” seru Ghina, Edward tidak bisa menjawabnya, dan tidak bisa menyanggahnya. Karena kenyataannya memang benar adanya. Kembali ke mansion Edward, sama saja menjadi tawanan Edward.


.


.


bersambung.....


Dirgahayu Indonesia Merdeka yang ke-77thn 🇲🇨🇲🇨🇲🇨


Buat kakak readers yang cantik dan ganteng yang ikut lomba 17 an, semangat ya.....semoga dapat hadiah yang banyak.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di sini.


Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2