
Sepeninggalnya Pak Bowo dan Bu Sari, Oma Ratna dan Opa Thalib menghampiri Ghina yang masih berdiri tegak menatap lorong rumah sakit.
Kedua netra Oma Ratna dan Opa Thalib berkaca-kaca, terharu melihat gadis yang mereka kenal dari bayi, bisa berdiri tegak sendiri menghadapi lawannya. Begitu lantangnya berucap, dengan tutur kata yang tegas penuh keyakinan.
Sedari dulu Opa Thalib sudah membaca karakter Ghina, dan menduga masih ada hal-hal yang masih disembunyikan di dalam diri gadis itu. Dan Opa yakin kenapa selama ini kenapa Ghina tidak mengadu perlakuan Edward, karena gadis itu pasti mampu menghadapi putranya yang keras.
Kamu memang calon pemimpin nak......batin Opa Thalib.
“Terima kasih, nak,” ucap Oma Ratna kemudian memeluk gadis itu, sedangkan Opa Thalib menepuk lembut bahu Ghina, merasa bangga dengan sikap gadis itu.
“Ya......oma,” jawab Ghina, membalas pelukan oma Ratna.
Ferdi pun ikut terharu, melihat nona mudanya, sungguh berbanding terbalik dengan sikap Kiren.
Andaikan Tuan melihat Non Ghina barusan, pasti Tuan makin jatuh cinta.........begitu banyak kejutan yang ada di diri non Ghina. Ayolah Tuan segera bangun dari tidurmu......kejarlah cintamu ini!!
Kepala Ferdi menengadah ke atas, untuk menahan air matanya agar tidak keluar dari matanya.
Selagi mereka berdiri di depan ruang ICU, dari kejauhan Dokter Setyo dan beberapa dokter lainnya terlihat berlarian menuju ruang ICU tempat Edward berada dan bergegas masuk, lampu emergency ruang ICU sudah nyala. Pandangan mereka semua teralihlah ke pintu ruang ICU.
“P-pah........ada apa ini....,” Oma Ratna memegang lengan Opa Thalib.
Sedangkan Ghina diam terpaku......memandang pintu ruang ICU.
Sudahkah saatnya Om pergi......tidakkah ingin berpamitan dulu denganku........
“Bisakah salah satu keluarga pasien masuk ke dalam, dokter Setyo mau ambil tindakan segera!” ucap perawat yang baru saja keluar dari ruang ICU.
Ferdi mengambil alih Oma Ratna yang sudah mulai lemas dari Opa Thalib, dan mengajaknya duduk di bangku. Opa Thalib bergegas masuk ke dalam ruang ICU tanpa bertanya lagi ‘apa ada gerangan yang terjadi dengan putranya.’
“Pasien baru kembali henti jantung, jika di setujui keluarga....kami akan mencobanya,” ucap Dokter Setyo, tangannya sudah siap dengan alat kejut jantung, ketika Opa Thalib baru saja masuk.
Sedangkan dokter yang lain masih melakukan CPR pada Edward.
“Silahkan.....,” jawab Opa Thalib, dengan nada lemas bercampur sedih.....
“Tegangan rendah,” perintah Dokter Setyo pada salah satu perawat yang memegang alat kontrolnya. Dokter Setyo langsung menempel alat kejutnya ke dada Edward, tubuh Edward sedikit terangkat.
__ADS_1
“Naikkan lagi tegangan,” titah Dokter Setyo, yang sudah mulai harap-harap cemas....karena belum ada respon. Layar monitor jantung masih bergaris lurus.
Jantung anakku sudah berhenti berdetak.....
Ya Allah jangan ambil anakku dulu, berikanlah sekali kesempatan untuk hidup kembali.......tangis batin Opa Thalib.
“Tegangan tinggi,” akhir dari percobaan untuk mengembalikan detak jantung Edward, yang di lakukan Dokter Setyo.
Opa Thalib sudah tak kuasa lagi, sepertinya takdir tidak berpihak kepada anaknya. Semuanya berakhir.
Tak berapa lama kemudian.
Tut......tut.......tut.....
Layar monitor kembali berbunyi.......grafik jantung sudah terlihat.....
“Detak jantung pasien sudah kembali......,”ujar Dokter Setyo, bernapas lega. Dan kembali mengecek alat vital Edward keseluruhannya.
“Alhamdulillah ya Allah,” ujar Opa Thalib langsung sujud syukur, dengan isak tangisnya.
🌹🌹
Ghina hanya bisa duduk termenung tanpa berkata, di sebelah kedua adik Edward, Derby dan Celia. Tidak ada yang di perbincangkan, mereka semua menunggu kabar terbaru tentang kondisi Edward.
Dokter Setyo dan Opa Thalib akhirnya keluar juga dari ruang ICU, oma Ratna langsung bangkit dari duduknya “Pah, ada apa dengan Edward......hiks...hiks,” tanya Oma Ratna.
”Edward tadi sempat henti jantung kembali, dan untungnya sudah terselamatkan.....,” jawab Opa Thalib dengan raut sedihnya.
“Kondisi Pak Edward belum terlalu stabil, kami juga tidak bisa memastikan ke depannya seperti apa. Yang pastinya Pak Edward, perkembangannya akan dipantau terus. Mungkin di iringi doa dari keluarga, bisa mendatangkan keajaiban untuk kesembuhan Pak Edward. Kami sebagai dokter hanya berikhtiar untuk kesembuhan pasien, tapi yang berkehendak tetaplah Yang Maha Pencipta,” ujar Dokter Setyo.
Oma Ratna hanya menganggukkan kepalanya.
“Dokter Setyo, sebentar lagi team Dokter dari Australia akan segera tiba, mohon kerja samanya,” ucap Opa Thalib.
“Siap Pak Thalib, kami siap kerja sama untuk kesembuhan Pak Edward.”
Ghina bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri keberadaan Opa Thalib, Oma Ratna dan Dokter Setyo. “Dokter bolehkah saya masuk melihat kondisi Om Edward,” pinta Ghina.
__ADS_1
“Boleh, silakan ke dalam nanti ada perawat jaganya. Tinggal bilang saja,” jawab Dokter Setyo.
“Terima kasih Dokter,” Ghina bergegas masuk dan meninggalkan mereka bertiga.
“Maaf Pak Thalib, kalau boleh tahu. Gadis itu cucu Pak Thalib, ke ponakan Pak Edward kah?” tanya Dokter Setyo yang mulai kepo dari kemarin, saat melihat kedatangan Ghina.
“Gadis itu, menantu saya, istri Edward,” jawab Opa Thalib.
“Oh, cantik sekali istrinya. Semoga sering di jenguk istrinya, Pak Edward bisa cepat memberikan respon yang baik di tubuhnya,” balas Dokter Setyo.
“Amin, saya berharap juga seperti itu.”
🌹🌹
Ghina menggeser kursi yang berada di ruang ICU, dan mendekatkan kursi tersebut di samping ranjang Edward, kemudian mendaratkan bokongnya ke kursi.
“Hai Om Edward, aku datang lagi......menjengukmu,” Ghina berusaha berkata-kata biasa.
“Om Edward tadi kenapa?” tanya Ghina dengan memberanikan diri menatap wajah Edward.
“Om Edward sudah siap pergikah? Sudah tidak punya keinginan untuk hidup lagikah? Sudah tidak ingin melihat dunia ini lagikah?” rentetan pertanyaan diajukan oleh Ghina seakan-akan pria yang ditanyakan akan menjawab semua pertanyaannya.
Ghina menaruh salah satu tangannya di atas telap tangan Edward yang terbuka, mencoba menggenggam tangan besar itu.
“Kalau Om Edward ingin pergi sekarang, ayo pergi......aku tungguin sekarang juga.” Ghina diam sejenak.
“Jangan lagi Om Edward membuka matanya, jangan lagi pula menitip pesan ke Ferdi, kalau Om Edward merindukanku. Ayo pergilah Om , sekarang......aku tungguin. Biar kita sama sama puas!!” gadis itu mulai menundukkan kepalanya.
“Buat apa Om Edward bilang merindukanku kepada Ferdi, jika Om masih betah tidur, dan tadi ingin pergi. Buat apa Om Edward!!!!.....hentikanlah kebohonganmu itu. Kalau Om Edward benar-benar merindukanku, bangunlah.......hadapilah aku dan katakanlah langsung padaku. Bukan titip pesan lewat Ferdi, jangan jadi laki-laki pengecut Om Edward,” ucap Ghina agak meninggi suaranya, sambil mengusap air matanya.
“Om Edward jangan pernah bilang merindukanku, jika nyata Om akan pergi!! Jika Om Edward benar-benar merindukanku, tunjukkanlah padaku....rasa rindumu.....sekali saja.”
Salah satu jari Edward yang di genggam Ghina, mulai bergerak.
DEG
“OM.........”
__ADS_1