
Tiba saatnya kita saling bicara
Tentang perasaan yang kian menyiksa
Tentang rindu yang menggebu
Tentang cinta yang tak terungkap
🎶🎶
GLEK......
Edward menelan salivanya dengan kasar, ketika dengar musik dengan suara pelan di lobby hotel A. Menurut pria itu lagu yang terdengar, seperti isi hatinya saat ini.
Pria itu masih menjabat erat tangan Ghina, ingin rasanya pria itu menarik tubuh wanita itu dan memeluknya. Akan tetapi pria itu sementara menahan keinginannya, bisa di bilang menundanya, tidak mau bertindak gegabah.
“Maaf Pak Edward jabatan tangannya kelamaan,” tegur Ghina dengan sopan dan terkesan formal, berusaha melepaskan tangannya.
“Oh....maaf Ghina,” jawab Edward, merelakan melepas tangan Ghina.
“Kalau begitu saya permisi dulu Pak Edward, Pak Yoga, mau ke ruangan,” pamit Ghina, melangkahkan kakinya meninggalkan kedua pria tersebut.
“Tunggu.......Ghina,” panggil Edward.
Wanita itu menghentikan langkahnya, dan berbalik badan. “Ya ada apa Pak Edward,” jawab sopan Ghina, layaknya seorang karyawan kepada atasannya.
“Saya minta laporan keuangan dua tahun terakhir, dan antar ke kamar saya,” pinta Edward.
“Baik Pak Edward,” jawab singkat Ghina.
Kenapa kamu begitu dingin, Ghina....
Jadi selama ini papa menyembunyikan kamu di Yogyakarta, dan bekerja di sini. Andaikan aku tahu dari dulu.
Ferdi hanya melihat reaksi Tuan Besarnya yang telah sekian lama baru bertemu dengan Ghina. Ferdi juga ikut terpesona melihat perubahan nona mudanya, ternyata di luar ekspektasi.......terlalu sempurna.
Kedua netra Edward masih memandang Ghina yang sedang berjalan menuju lift, ketika Ghina masuk ke dalam lift, tanpa sengaja mereka kembali saling bersitatap dari kejauhan, akan tetapi Ghina langsung memalingkan wajahnya dari tatapan Edward. Lalu memencet tombol agar pintu lift tertutup.
“Sepertinya Pak Presdir, terpana dengan mbak Ghina, dia memang cantik sekali Pak Presdir, serta pekerja keras. Dan dia seorang bisnis woman yang terkenal di Yogyakarta,” ucap Yoga.
“Oh bisnis woman! sudah berapa lama Ghina bekerja di hotel saya?” selidik Edward dan sedikit terperangah, jika Ghina pebisnis juga.
“Sudah dua tahun, mbak Ghina waktu itu bergabung saat masih kuliah semester lima sebagai staf finance, sekitar enam bulan bekerja.....Tuan Thalib mengangkatnya sebagai Manajer Keuangan hingga detik ini,” penjelasan Yoga.
__ADS_1
“Mmmm......,” gumam Edward.
Jadi ini yang di maksud papa selama tiga tahun, aku tidak boleh menemuinya, agar Ghina menyelesaikan kuliahnya lalu bekerja. Aku ingin tahu seberapa kemampuannya dalam bekerjanya!
Edward tersenyum smirk.
Ghina sudah berada di ruangannya, tubuhnya tiba-tiba lemas......setelah berusaha menahan rasa gemetarnya. Tidak bisa di pungkiri wanita itu sebenar terkejut luar biasa, melihat pria yang pernah dia kecup pipinya saat pria itu koma.......ada dan nyata berdiri di hadapannya.
“Clam down Ghina, kamu bisa menghadapi mantan suami kamu......dia sekarang hanya atasan kamu, tidak lebih.....” gumam Ghina sendiri, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Dihempaskannya bokong dia ke kursi kerjanya, dan mulai menyalakan laptopnya.
“Halo....Nia,” sapa Ghina melalui line telepon, kepada asistennya.
“Iya mbak Ghina,” jawab Nia.
“Tolong ke ruangan saya sekarang ya,” pinta Ghina.
“Baik mbak, saya segera meluncur ke ruangan,” jawab Nia.
TOK.......TOK.......TOK
“Masuk Nia,” sahut Ghina, yang sudah memastikan kalau yang datang Nia, karena terlihat dari dinding kaca ruangannya.
“Ini saya minta tolong, Pak Presdir minta laporan keuangan, jadi tolong kamu antar ke kamar beliau. Untuk kamarnya kamu tanya ke Indri ya, kalau bisa secepatnya kamu antar. Takutnya Pak Presdir menunggu lama. Oh iya satu lagi, agenda saya selain rapat manajer, apalagi ya?" Ghina menyerahkan dokumen ke tangan Nia.
“Sebentar lagi mbak Ghina meeting dengan beberapa vendor, masalah distribusi kebutuhan barang hotel. Dan ini akan segera saya laksanakan,” jawab Nia.
“Oke segera kamu serahkan, kemudian temanin saya rapat,” pinta Ghina.
“Baik mbak,” Nia undur diri untuk menjalankan perintah atasannya.
Edward sudah berada di kamar suite president untuk beristirahat sejenak, tapi bukannya beristirahat, tapi justur jalan mondar mandir di dalam kamarnya, seperti orang gelisah tak menentu.
Ting Tong.
Bell kamarnya berbunyi, Edward buru-buru membukakan pintu kamarnya. Yang di nanti sudah datang.
“Permisi Pak Presdir, saya diminta mbak Ghina untuk menyerahkan laporan keuangan,” ucap Nia yang berdiri di depan pintu kamar, sambil menyerahkan dokumen yang di bawanya.
“Ghina nya kemana? Saya minta Ghina yang menyerahkan laporan ini bukan kamu,” sentak Edward, bikin jantung Nia yang tadinya biasa, jadi berdebar-debar
“Mbak Ghina akan rapat dengan beberapa vendor, makanya saya yang di minta mengantarnya ke sini, Pak Presdir,” jawab Nia agak mulai takut.
__ADS_1
“Lebih penting urusan dengan vendor, atau mematuhi perintah atasan,” suara Edward mulai meninggi, pria itu memang tidak suka jika ada yang tidak mematuhi perintahnya, apalagi masalah pekerjaan.
Aduh gimana jawabnya, kok Pak Presdir bisa marah-marah begini....gara-gara masalah antar laporan doang.
“Agenda mbak Ghina bukan dadakan Pak Presdir, sudah dijadwalkan dari bulan lalu,” jelas Nia, karena memang dia yang mengatur jadwal Bu Bosnya.
BRAK!!
Dokumen yang dibawa Nia, di hempaskannya ke lantai.
“Saya tidak mau tahu urusan itu, saya minta Ghina yang menyerahkan laporannya sendiri bukan kamu. Jika kamu tidak bisa meminta Ghina ke sini, maka kamu saya pecat sekarang juga!!” ucap Edward.
Astaga tamat riwayat gue, kalau sampai di pecat.
“B-baik....Pak Presdir...!” jawab tergagap Nia, buru-buru memungut dokumen yang ada di lantai. Dan bergegas meninggalkan tempat, dengan jantung yang masih berdebar-debar, takut.
Edward menghela napas kasar ke udara, hatinya begitu kecewa. Wanita yang di nanti ternyata tidak datang, malah di ganti dengan wanita lain. Membuat emosinya naik seketika
TOK ........TOK.......TOK.
“Permisi mbak Ghina,” sapa Nia sambil melongo kepalanya dari pintu.
“Masuk Nia,” pinta Ghina.
Ghina mengerutkan keningnya, melihat dokumen yang tadi di berikannya masih ditangan Nia.
“Kamu belum menyerahkan laporannya ke Pak Presdir, Nia?” tanya Ghina agak kecewa.
“Maaf mbak tadi saya sudah ke kamar Pak Presdir untuk menyerahkan laporan ini, tapi malah di marahi. Beliau minta mbak Ghina yang mengantarnya sendiri, jika mbak Ghina tidak mengantarnya segera. Saya diancam akan di pecat hari ini, mbak,” jawab Nia melas, dan tertunduk.
“Astaga gara-gara masalah yang mengantar laporan aja, sampai kamu di ancam akan di pecat.......ooh astaga sungguh keterlaluan,” geram Ghina.
“Tolong saya mbak Ghina, jangan sampai saya di pecat,” pinta Nia.
“Hufft.........!” Ghina menghela napas panjang, sesungguhnya wanita itu berusaha agar tidak sering berinteraksi dengan pria yang dia anggap sudah menjadi mantan suaminya. Tapi setelah tahu asistennya terancam akan di pecat, mau tak mau wanita itu harus maju demi asistennya yang tidak bersalah.
.
.
next....ayo tebak apa yang terjadi selanjutnya??? akankah mereka berdua bertengkar????
Â
__ADS_1
Â