
Ting Tong
Terpaksa pria itu menghentikan aksinya, kemudian beranjak dari ranjang, untuk membukakan pintu kamarnya.
“Tuan, dokternya sudah datang,” ucap Ferdi yang baru datang dengan dokter.
“Masuk....., segera periksa istri saya,” pinta Edward.
“Baik, Pak,” Dokter mengikuti Edward masuk ke dalam kamar yang berada dalam ruangan tersebut. Selagi dokter memeriksa, Edward duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan Ghina.
“Istri bapak sepertinya telat makan, dan kelelahan.....Saya sarankan untuk beberapa hari istirahat dulu, dan pola makannya di jaga, jangan sering terlambat makan. Sekarang saya kasih suntik vitamin, dan saya buatkan resep obat yang harus di minum,” ujar sang dokter.
“Terima kasih dokter, nanti resepnya kasih ke asisten saya saja,” pinta Edward.
“Baik Pak, kalau begitu saya permisi semoga istri bapak cepat sehat,” ucap sang dokter.
“Amin,” jawab Edward singkat.
“Tuan, makanannya sudah siap di meja makan,” ujar Ferdi.
“Ya,....makasih. Segera kamu tembus obatnya.”
“Baik Tuan, saya permisi.” Ferdi dan Dokter meninggalkan Edward dan Ghina berdua di kamar.
Edward naik ke atas ranjang, sepertinya Ghina pingsan sudah kayak orang tertidur pulas, pria itu merebahkan dirinya di samping Ghina.
Salah satu tangan Edward mulai melingkar di atas perut Ghina.
“Ghina.....bangun dulu yuk, isi dulu perutnya baru tidur lagi,” ucap Edward melembut, sambil meraba perut datar wanita itu.
Edward tak bosan-bosannya menatap wajah cantik Ghina secara dekat, “istriku kok makin cantik....sih,” ucap pria itu, sambil tersenyum tipis.
Cup.....
Pipi kanan Ghina di kecupnya.
Cup....
Pipi kiri Ghina di kecupnya.
Kelopak mata Ghina mulai mengerjap-ngerjap, dan membuka matanya.
DEG
Pertama membuka mata, yang dilihat Ghina adalah wajah Edward persis di depan wajahnya.
__ADS_1
“Akhirnya sudah sadar juga, aku ambilkan minum dulu ya,” ujar Edward sambil merapikan anak rambut yang berada di pipi wanita itu.
Edward beranjak dari atas ranjang, untuk mengambil minum. Sedangkan Ghina memijat pangkal hidungnya yang terasa sakit, akibat kepalanya pusing.
“Masih pusing kepalanya, aku bantu bersandar ya,” ujar Edward, meletakan nampan di atas nakas, kemudian membantu Ghina, bangun dan duduk bersandar di headboard ranjang.
Iih aneh, tumben ngomongnya lembut, kesambet apa nih sih Om Edward.
“Ya.......,” jawab Ghina, merasa badannya masih lemas dan pusing.
“Ini di minum dulu teh hangatnya, habis itu makan....kamu tadi siang belum makankan? Makanya jadi pingsan, untuk ada aku tadi. Kalau gak ada aku, kamu bakal di bawa Rafael, entah kemana," ujar Edward sambil memberikan secangkir teh hangat.
Ghina mengambil cangkir yang di berikan Edward, lalu menyesapnya pelan-pelan. “Lebih baik dibawa Mas Rafael, dari pada dibawa sama Om Edward,” jawab ketus Ghina.
“Jadi kamu lebih suka dengan Rafael, dari pada aku?” tanya Edward, sambil menatap wajah Ghina.
“Bisa....bisa jadi....aku suka dengan Mas Rafael, dia pria yang baik, lembut dan perhatian. Tidak seperti Om Edward bawaannya emosian, egois,” jawab Ghina, ikutan menatap pria tampan yang duduk di atas ranjang, berhadapan dengan wanita itu.
Hati Edward mulai kesal, mendengar kata pujian dari Ghina buat temannya Rafael.
Edward langsung beranjak dari atas ranjang, lalu mengambil piring yang sudah berisikan nasi dan lauk pauk. Kemudian kembali naik ke atas ranjang dan duduk di hadapan Ghina.
Pria itu menyendokkan nasi ke sendoknya lalu menyodorkannya ke mulut Ghina, “Buka mulutnya.......isi perut kamu,” pinta Edward dengan nada kesalnya.
“Biar aku aja, masih bisa makan sendiri. Tidak perlu di suapi. Om Edward tidak perlu repot mengurus aku, bukankah Om dulu pernah bilang kalau aku sakit, jadi menyusahi orang. Aku gak mau nyusahin orang,” celetuk Ghina, sambil meraih piring dari tangan Edward. Akan tetapi piring tersebut ditahan oleh Edward sekuat mungkin agar Ghina tidak bisa mengambilnya.
“Biar aku yang menyuapimu, kamu lagi sakit, biar aku yang mengurusmu,” pinta Edward pelan.
“Tidak perlu......Om Edward tidak perlu mengurusi aku!!” seru Ghina, sambil memegang perutnya yang terasa perih. Gerakan Ghina tertangkap di mata Edward.
“Makanlah, aku tidak mau kamu pingsan lagi,” ujar Edward mengalah memberikan piring yang di pegangnya ke tangan Ghina. Kemudian Ghina langsung menyantapnya. Wanita itu menghiraukan tatapan Edward yang melihat dirinya makan sampai selesai.
Melihat piring telah kosong, Edward langsung mengambil dari pangkuan Ghina, dan meletakkannya di atas nakas, kemudian mengambil gelas yang berisi air putih.
“Minumlah, obat kamu sedang di beli Ferdi,” ucap Edward, sambil menyodorkan gelas.
“Makasih....” jawab Ghina, menerima gelas dari tangan Edward.
“Tadi kata dokter, kamu kelelahan.......sebaiknya kamu istirahat beberapa hari di sini. Sampai kamu sehat kembali,” ucap Edward.
“Apaaa.....istirahat di sini, yang benar aja!” ketus Ghina, langsung menyibak selimut yang menutupi bagian pinggang ke bawah. Kemudian beranjak dari ranjang, dan berdiri.
“Kamu mau ke mana?” tanya Edward panik, melihat Ghina tiba-tiba bangun dari ranjang, dan pria itu ikutan beranjak dari ranjang.
“Mau pulang!!” ujar Ghina, baru melangkah badan wanita itu sempoyongan. Edward langsung menangkap tubuh Ghina.
__ADS_1
“Aku udah bilang, kamu lagi sakit........jangan di paksakan untuk pulang,” jawab Edward sambil memapah Ghina untuk duduk di tepi ranjang.
“Aku ingin istirahat di rumah, bukan di sini, tidak pantas kita berdua di kamar ini. Apa kata karyawan di hotel ini, kita bukan suami istri lagi!” balas Ghina.
Edward menghela napas panjang, “Aku masih suamimu, dan kamu masih istriku. Aku tidak pernah menceraikan dan menalakmu----!”
“Tapi aku sudah menanda tangani surat perceraian kita, tiga tahun yang lalu,” sela Ghina.
“Dan aku tidak pernah menanda tangani surat perceraian itu!!” tegas Edward.
“Walau Om Edward tidak menanda tangani surat tersebut, tetap saja kita sudah berpisah Om. Kita sudah berpisah dari empat tahun yang lalu, semua sudah berakhir,” jawab tegas Ghina.
Edward menyugar rambutnya, lalu meraup wajahnya dengan kasar.
“Dengar baik-baik Ghina Farahditya, kita masih suami istri sah secara hukum, dan aku tidak pernah menceraikan kamu!”
“Susah memang kalau bicara sama pria egois!!” celetuk Ghina.
“Atau jangan-jangan kamu ingin menikah dengan Rafael, begitu ya!!” seru Edward dengan suara meninggi.
“Kalau iya, memangnya kenapa!! Kita sudah berpisah secara agama, Om Edward. Dan itu hak aku, ingin menikah dengan siapa pun. Sebaiknya kita urus perceraian kita secara resmi!” tantang Ghina.
“TIDAK.....TIDAK AKAN PERNAH!!” bentak Edward.
“Aku tidak akan pernah menceraikan kamu, bagaimana caramu supaya kamu berhenti meminta cerai dengan aku!!” ujar Edward dengan senyum smirknya. Di bukanya kancing lengan kemejanya, lalu di gulungnya ke atas, kemudian lanjut membuka kancing kemejanya dari atas.
Pandangan Ghina mulai was-was melihat Edward, jantungnya mulai berdebar cepat, ketika Edward mulai semakin dekat.
.
.
next.....tebak apa yang akan di lakukan Edward ??
Kakak Readers yang cantik dan ganteng, yang masih punya Vote......mau dong di lemparin buat Ghina dan Edward.
Plus ada info yang terbaru ada kisah terbaru tentang Alya Zafrina Sadekh dan Erick Triyudha Pratama di Pinjam Rahim Istri Ketiga. Yuuk Kakak Reader mampir ya ke novel terbaruku.......ramaikan yuk. Sebelumnya terima kasih banyak atas supportnya.
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1