
Tak berapa lama kemudian pria itu kembali ke atas membawa pesanan yang ditanyakan oleh wanita itu.
“Ini istriku, pesanannya.....,” Edward menyodorkan piring yang berisi sate. Seorang CEO rela disuruh-suruh oleh wanita yang dicintainya.
Ghina langsung menyantap bubur ayamnya, begitu pula Edward menyantap nasi gorengnya.
Derrtt.........Derrtt.........Derrtt.
Ferdi calling...
Berhubung Edward masih makan, handphone milik pria itu ditaruhnya di atas ranjang dan di loudspeker.
“Assalamualaikum Tuan,” sapa Ferdi.
“Walaikumsalam Ferdi, ada apa baru jam delapan pagi sudah telepon saya,” tanya Edward, sambil melap bibir Ghina yang ada sisa bubur dengan jarinya, membuat wanita itu terkesiap.
“Maaf Tuan pagi-pagi sudah menghubungi, karena ada hal penting,” ujar Ferdi, nada bicaranya sedikit agak tidak enak.
“Hal penting apa?” selidik Edward.
“Begini Tuan Besar, di hotel ada Pak Bowo dan Bu Sari ingin bertemu dengan Tuan, kata mereka berdua ada hal penting.”
Edward mengerutkan keningnya, Ghina masih menyantap sarapannya.
“Penting dari mana, mereka bukan siapa-siapa saya. Lebih baik saya mengurus istri yang lagi sakit di rumah. Sudah kamu usir saja mereka,” jawab ketus Edward.
“Maaf Tuan, saya hanya menyampaikan saja........Mereka membawa anak laki-laki, dan katanya........... itu anak Tuan dengan Kiren,” ucap Ferdi dengan kata tersendatnya.
DUAR
DEG
Ghina meletakkan sendok ke atas mangkok, menghentikan suapan bubur ayamnya yang masih ada separuh.
Edward menatap Ghina, pria itu juga terkejut dengan kabar yang dia terima dari Ferdi. Sekarang yang dia takutkan bukan masalah anak tapi Ghina yang ikut mendengarnya, takut akan reaksi wanita itu. Takut wanita yang baru saja ingin diluluhkannya akan kembali menjauh, pergi dari dirinya seperti sebelumnya.
Ghina beranjak bangun dari duduk di atas ranjangnya.
“Ghina mau ke mana....?” Edward langsung meraih salah satu tangan Ghina.
“Mau ke kamar mandi,” Ghina langsung menepis tangan Edward, wanita itu bergegas ke kamar mandi.
__ADS_1
Edward langsung mematikan sambungan teleponnya.
“Ya Allah, ada apa ini? Kenapa jadi begini. Anak........anak aku dan Kiren,” Edward meraup wajahnya dengan kasar, lalu di rapikannya piring mereka berdua yang masih tergeletak di atas ranjang.
Ghina menatap dirinya di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi.
Anak.......anak Om Edward...
Kabar yang sangat mengejutkan buat dirinya, baru dua hari yang lalu dia berjumpa dengan Edward. Pagi ini dengar berita ada seorang anak. Sepertinya alam sedang memberitahukan kepada dirinya dalam waktu yang sangat cepat. Lubuk hatinya seakan sedang memerangi dirinya sendiri, untuk segera menerima dengan kelapangan hati yang luas, dan juga kewarasan tentunya.
Hampir setengah jam Ghina berada di kamar mandi, Edward mulai mengedor-ngedor pintu kamar mandi.
DOR.......DOR......DOR
“Ghina.......buka pintunya, kenapa lama di dalam....,” teriak Edward cemas, pria itu kembali teringat kejadian Ghina tidak keluar dari kamar mandi selama satu jam, ternyata sudah pingsan dalam bathub.
DOR........DOR......DOR
“Ghina......ayolah buka pintunya, apa perlu aku dobrak pintunya,” teriak Edward kembali.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, wanita yang namanya di panggil Edward akhirnya keluar juga. Wanita itu berlalu saja dari posisi Edward yang berada di depan pintu kamar mandi
Edward langsung memeluk Ghina dari belakang.
“Aku mengkhawatirkan dirimu,” ucap lirih Edward.
“OM Edward pergilah ke hotel, anakmu pasti ingin bertemu dengan daddynya,” pinta Ghina.
“Jangan bilang seperti itu Ghina, belum tentu dia anakku. Aku baru sekali melakukannya saat malam pengantin baru dengan Kiren, dan tak mungkin langsung jadi anak. Tolong jangan gara-gara kabar ini kamu menjauhiku, aku tak mau,” pengakuan Edward.
“Melakukannya mungkin hanya satu malam, tapi pelepasannya berkali-kali,” jawab ketus Ghina.
“Orang yang baru sekali di perkosa, juga banyak yang langsung hamil. Apalagi yang berhubungan intim dengan penuh rasa cinta, pasti bisa langsung hamil,” kembali di jawab ketus oleh Ghina.
“Apa kamu marah dengan ku, masalah kabar barusan?” Tanya Edward, langsung memutar balik tubuh Ghina, dan merangkul pinggang wanita itu.
Mereka berdua saling menatap.
“Buat apa aku harus marah, bukankah mbak Kiren pernah jadi istri Om Edward, lalu kenapa aku mesti marah jika hubungan Om Edward dan mbak Kiren bisa sampai punya anak, hal yang wajarkan,” jawab Ghina dengan tegasnya.
__ADS_1
“Jadi kamu percaya kalau anak yang di bawa orang tua Kiren itu anakku?” tanya Edward, dengan tatapan tajamnya.
“Ya......aku percaya, sekarang pergilah dari rumah ini. Seharusnya Om Edward bahagia mendapat kabar tersebut, sekarang sudah menjadi seorang daddy. Bertanggung jawablah sebagai seorang pria. Dan lupakanlah masalah untuk rujuk kita berdua, ada hal yang lebih penting dari hal rujuk. Selamat ya Om Edward," tegas Ghina dengan sorot matanya yang ikut menajam.
“AAAKHHHH.......” teriakan Edward menggema di dalam kamar, pria itu menahan emosinya untuk tidak melempar barang yang ada di kamar. Ghina tersentak mendengar teriakan Edward.
“Bukan itu yang aku inginkan Ghina, hal yang penting ada kamu. Jika aku ingin anak, anaknya adalah dari rahim kamu bukan dari wanita lain,” ucap geram Edward.
“Tapi semuanya sudah terjadi Om Edward, waktu tidak bisa berjalan mundur. Bersikap dewasalah Om, hadapi kenyataannya. Anak itu tidak bersalah,” jawab Ghina.
Edward mengurai pelukannya, kemudian menuju lemari pakaian Ghina, dan memilih satu stel pakaian wanita itu.
“Ganti pakaianmu, ikut aku ke hotel,” pinta Edward dengan suara meninggi.
“Buat apa aku ke hotel?” selidik Ghina penuh tanda tanya.
“Aku ingin kamu ada selalu di sampingku, kamulah yang terpenting buat aku.....camkan itu ” jawab tegas Edward, tidak ingin di bantah lagi.
“Ck....alasan aja,” lidah Ghina berdecak kesal.
Sebenarnya hati kecil wanita itu juga pengen tahu sosok anak yang katanya anak Kiren dengan Edward.
Di ambilnya baju pilihan Edward, kemudian wanita itu masuk kembali ke kamar mandi. Untuk kali ini Ghina menuruti permintaan Edward.
“Ferdi, suruh sopir jemput saya dan istri,” perintah Edward melalui sambungan teleponnya.
“Baik Tuan, segera meluncur ke rumah Nyonya,” jawab Ferdi.
“Dan satu lagi hubungi rumah sakit saya yang di Jakarta, minta mereka hubungi rumah sakit besar di Yogyakarta. Untuk persiapan tes DNA. Minta team dokter mereka untuk datang ke hotel, secepatnya!” perintah Edward. Pria itu akan mengecek kebenarannya terlebih dahulu, tidak ingin tertipu untuk kesekian kalinya. Yang justru akan membuat semakin jauh hubungan dirinya dengan Ghina.
“Baik Tuan, akan segera saya konfirmasi ke pihak rumah sakitnya,” jawab Ferdi.
Tidak memakan waktu lama Ghina sudah mengganti dasternya dengan baju casual yang menjadi pilihan Edward.
Tangan Edward mulai menyentuh kening Ghina serta pipi wanita itu, untuk memastikan jika Ghina kondisi suhu tubuhnya sudah turun.
“Seharusnya kamu istirahat di rumah, tapi untuk kali ini aku meminta kamu menemaniku di hotel. Aku ingin kamu tahu semua hal tentang aku, maaf jika ini terkesan egois, tapi aku membutuhkan kamu di samping aku. Nanti jika kamu merasa tidak enak badan, kasih tahu aku......jangan diam aja,” tanya Edward, sambil mengusap pipi wanita itu dengan lembutnya.
.
.
__ADS_1
next......siapkan emosi 😊