
Jakarta
Perusahaan Thalib Grup
Dalam waktu tiga tahun, akhirnya Edward sudah kembali menginjakkan kakinya di Indonesia, dari enam bulan yang lalu.
Sekarang pria itu sudah kembali ke perusahaannya yang berada di Jakarta. Ferdi kembali menemani Edward, bertugas menjadi asisten pribadi Tuannya.
Banyak perubahan Edward di mata Ferdi, lebih dingin dan kejam terhadap pekerjaan, harus tampak sempurna tidak boleh ada cacatnya.
Selama enam bulan tersebut, Edward kembali mengerahkan anak buahnya mencari keberadaan Ghina sampai ke pelosok-pelosok daerah, dan dia sendiri pun mengunjungi butik Tante Feby, untuk menggali informasi tentang Ghina. Akan tetapi Tante Feby tetap membungkam, tidak memberitahukan keberadaan wanita itu.
Sedangkan Opa Thalib ternyata tetap tidak memberitahukan keberadaan Ghina, hanya memberikan clue kalau Ghina masih ada di Indonesia.
“Kalau mau ketemu Ghina, usaha cari sendiri.....jangan kamu tanya sama papa atau papanya Ghina,” ucap Opa Thalib.
Sehubungan pria itu baru kembali menginjakkan kakinya ke Indonesia hampir empat tahun, Edward meminta Ferdi menjadwalkan dirinya untuk berkunjung, meeting sekalian sidak ke hotel miliknya dan hotel milik papanya yang tersebar di seluruh Indonesia, sekalian mencari keberadaan Ghina. Menyelam sambil minum air.
“Tuan besar, besok agenda Tuan akan berkunjung ke Hotel IG dan Hotel A di Yogyakarta,” lapor Ferdi.
“Berapa hari saya di Yogyakarta, dan kamu sudah konfirmasi kepada semua manajer untuk menyiapkan laporan tiap divisi. Untuk dibahas saat meeting?” tanya Edward, tanpa menatap Ferdi, karena sibuk dengan mengecek dokumen dokumen yang berada di meja kerjanya.
“Sesuai jadwal Tuan akan berada di Yogyakarta selama tiga hari, karena sudah ada agenda selanjutnya ke Balikpapan. Untuk masalah laporan sudah saya konfirmasi ke Direktur tiap hotelnya, agar bisa langsung di konfirmasikan ke manajer masing-masing.”
“Bagus, terima kasih....kamu bisa kembali ke ruangan,” ucap Edward.
“Baik Tuan,” Ferdi kembali ke ruang kerjanya.
“Hufft..........!” Edward menghela napas panjang, lalu meletakkan kertas dan pulpen yang di pegangnya ke atas meja.
“Di mana kamu berada Ghina!” gumam Edward sambil meraup wajahnya dengan kasar.
🌹🌹
Yogyakarta
Dertt.......dertt........dertt
Mas Rafael calling
“Assalamualaikum Mas Rafa,” sapa Ghina.
“Walaikumsalam Ghina, nanti siang saya ke sana ya, udah lama kita gak makan siang bareng,” pinta Rafael.
“Tapi saya lagi repot mas Rafa, lagi siapin laporan keuangan buat besok rapat,” ujar Ghina.
__ADS_1
“Sebentar aja Ghina, saya gak minta lama-lama waktu kamu. Lagian memangnya kamu gak makan siang, ingat jaga kesehatan kamu sendiri,” ujar Rafael.
“Iya mas, pastilah saya makan siang. Ya udah mas ke sini saja kalau begitu nanti siang.”
“ Ya sudah selamat bekerja kembali, sampai ketemu nanti siang.”
“Ya Mas Rafa....,”
Rafael semenjak pertemuan pertama kali dengan Ghina, pria itu mencari keberadaan Ghina dengan gigihnya. Tanpa sengaja Rafael bertemu di kampus Ghina saat pria itu jadi pembicara untuk acara seminar. Rafael terus mengejarnya lalu menaklukkan sikap dingin dan acuhnya Ghina secara perlahan-lahan. Namun sayang setiap menyatakan perasaan ke Ghina, wanita itu selalu menolaknya secara halus. Tapi tidak membuat Rafael patah semangat untuk mengejarnya.
Sekarang sudah hampir dua tahun hubungan Rafael dan Ghina semakin dekat dan akrab, akan tetapi tetap tidak ada hubungan spesial, Rafael tetap bersabar menunggu Ghina menerima cintanya.
Dari posisi Ghina hanya menganggap Rafael sebagai teman saja, wanita itu juga beranggapan jika dirinya sudah menjadi janda setelah menanda tangani surat perceraiannya, dan tidak masalah untuk berteman dekat dengan laki-laki. Tapi wanita itu enggan untuk memiliki hubungan jauh dengan laki-laki.
Lagi dan lagi, Ghina masih belum tahu jika Edward belum menanda tangani surat perceraian mereka. Dan masih sah sebagai suami istri secara negara.
🌹🌹
Siang hari........
“Selamat siang Pak Rafael,” sapa resepsionis hotel A. Siapa sih yang tidak kenal Rafael, selain pria tampan dan salah satu CEO Hotel bintang lima yang setaraf dengan Hotel A.
“Mau ketemu mbak Ghina ya, Pak?” tanya Resepsionis, karena Rafael memang sering berkunjung ke hotel A untuk menemui Ghina.
“Ada di ruangannya, silahkan langsung aja Pak Rafael.”
“Terima kasih ya,” Rafael langsung bergegas menuju ke lift untuk ke lantai dua.
“Pacar mbak Ghina, ganteng banget..... pas bangetlah sama mbak Ghina yang cantiknya kebangetan, plus bodynya sexy,” celetuk resepsionis ke rekan kerjanya.
“Iya....cocok banget, pasangan serasi.”
Itulah gosip yang beredar di tempat Ghina bekerja.
TOK......TOK......TOK
“Masuk.....,” sahut suara wanita dari dalam ruangan.
“Oh Mas Rafael sudah datang, tunggu sebentar, saya safe data dulu,” pinta Ghina, tangannya masih sibuk dengan keyboard laptopnya.
“Santai aja Ghin, saya tidak buru-buru,” jawab Rafael, sambil mendaratkan bokongnya ke sofa.
“Oke mas,” Ghina melanjutkan pekerjaan sebentar. Sedangkan Rafael menatap lekat wajah Ghina, pria itu tak bosan-bosannya menatap wajah cantik wanita itu.
“Oke.....sudah selesai sementara,” Ghina beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Rafael yang masih duduk di sofa.
__ADS_1
“Ayo Mas Rafael, kita mau makan siang di mana?” tanya Ghina. Rafael ikut bangkit dari duduknya.
“Saya terserah kamu aja, mau makan siang di mana. Bukannya tadi pagi kamu bilang lagi sibuk siapkan laporan,” ujar Rafael sambil merapikan anak rambut yang ada di kening Ghina.
“ Makan di restoran hotel aja ya mas, kalau makan di luar takutnya lama di perjalanan.”
“Ya udah kita ke bawah,” ujar Rafael dengan mengulas senyum hangatnya. Mereka berdua jalan berdampingan menuju restoran hotel.
“Selamat siang mbak Ghina,” sapa pelayan restoran hotel.
“Siang juga mbak Tyas, ada meja kosong untuk dua orang kah?” tanya Ghina dengan sopan.
“Ada mbak Ghina, mari saya antar, “ jawab Tyas.
Ghina dan Rafael mengikuti langkah Tyas menuju meja yang kosong, karena setiap jam istirahat, restoran hotel A suka banyak pengunjung untuk makan siang.
“Silahkan Mbak Ghina, Pak......” ucap Tyas mempersilahkan mereka berdua untuk duduk.
“Terima kasih, mbak Tyas,” jawab Ghina, sedangkan Rafael hanya tersenyum tipis.
“Sama-sama mbak Ghina, ini menunya.....mau pesan sekarang.....atau mau dilihat dulu?” tanya Tyas.
“Pesan sekarang aja, Mas Rafa mau makan pakai apa?” tanya Ghina.
“Saya ngikut kamu aja,” jawab Rafael, karena sudah terbiasa setiap mereka makan bersama, Rafael selalu mengikut apa yang di pesan Ghina.
“Pesan sop buntut dua porsi, sate ayam satu porsi aja. Jus jeruk dua, sama seperti biasa minta air hangat ya. Mas Rafa ada yang mau di tambah lagi gak?” tanya lagi Ghina.
“Kamu biasanya suka pesan tempe mendoan, kok tumben gak pesan.”
“Tambah tempe mendoan ya. Udah itu dulu pesannya mbak Tyas.”
“Baik, mohon ditunggu ya mbak Ghina....pesannya di siapkan dulu.”
“Oke,” Ghina mengembalikan buku menu ke Tyas. Dan meninggalkan meja Ghina.
“Ghina,” panggil Rafael.
.
.
next.........bertemu kembali
Hai Kakak Reader sekedar info aja, untuk Novel ini entah kenapa sering lama terbit bab barunya. Setiap up bab baru.....pasti baru besok terbitnya itupun pakai gedor-gedor admin NT dan editor. Padahal tiap hari di usahakan up lebih dari satu bab. Jadi mohon maklum, kalau tiba-tiba yang muncul cuma 1 bab.
__ADS_1