Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Selamat Tinggal Kota Yogyakarta


__ADS_3

Salah satu tangan Edward mengusap air mata yang berlinang di pipi Ghina dengan lembutnya. Tidak terhingga rasa sedih yang datang menghampiri wanitanya, ingin rasanya pria itu menggantikan posisi istrinya, tak tega melihat air mata yang terus berjatuhan di wajah cantik Ghina yang kini mulai terlihat sembab.


Sekarang mobil yang mengantar Edward, Ghina, Ferdi dan Ria sudah tiba di Bandara AdiSutjipto. Petugas bandara segera menyambut ke datang mereka, dan membantu serta mengarahkan ke jalur khusus.


Ghina sengaja melambatkan langkah kakinya, seakan tak rela untuk pergi dan meninggalkan dari kota yang telah di tempatinya selama empat tahun lebih, Yogyakarta bagaikan kota kedua untuk dirinya.


Edward memahami kesedihan istrinya, pria itu menggenggam erat tangan istrinya dan mengikuti langkah kaki istrinya yang berjalan lambat.


Kedua netra Ghina memandang sendu melihat sekeliling bandara, sebelum wanita itu lebih dalam masuk ke bandara dan menuju lapangan penerbangan, di mana jet pribadi Opa Thalib terparkir.


“Jalannya jangan melamun sayang, nanti kamu akan tersandung,” ujar Edward, langsung merangkul bahu Ghina, agar istrinya berhenti melamun.


“I-iya......,” jawab pelan Ghina.


“Kita mampir ke sini sebentar, aku mau beli sesuatu. Sayang duduk di sini dulu,” Edward mengajak Ghina ke salah satu coffe shop, dan menyuruh istrinya duduk. Kemudian pria itu bergegas membeli sesuatu untuk istrinya, tanpa menunggu waktu lama pesanan pria itu langsung jadi.


“Minumlah, ini kesukaaan kamu,” pinta Edward memberikan cup minuman ke Ghina.


“Makasih ya hubby,” Ghina langsung menyesap minuman yang di beli suaminya, ternyata pria itu memang tahu minuman kesukaan dirinya yaitu macha latte plus cream yang banyak.


“Sekarang kita lanjut ke pesawat ya,” pinta Edward. Ghina menganggukkan kepalanya dan pria itu kembali menggandeng tangan istrinya.


Hal yang sedih terkadang terselip sebuah kebahagiaan kecil, berupa perhatian dari orang terkasih. Sekarang wanita itu mulai merasakan apa artinya suami, seseorang  yang selalu hadir dan selalu berada di samping di kala senang dan sedih.


Ghina menatap hangat tangan besar suaminya yang selalu menggenggam erat jari jemarinya, kemudian bergantian menatap wajah tampan  suaminya.


Langkah kaki Edward dan Ghina sudah sampai di depan jet pribadi, kedua netra Ghina kembali berembun. Edward segera merangkul bahu istrinya, dan menuntun langkah kaki istrinya untuk naik anak tangga dan masuk ke dalam jet pribadi.


Kemudian mengajak istrinya duduk di salah satu bangku penumpang. “Begitu beratkah meninggalkan kota Yogyakarta, sayangku?” tanya Edward, langsung memeluk istrinya yang mulai terisak, dalam duduknya.

__ADS_1


“Sangat berat.....by........hiks....hiks...”


Dengan lembutnya Edward mengusap punggung Ghina, berharap bisa meredakan kesedihan istrinya. Di rasa sudah enakkan, Ghina merubah posisi duduknya, dengan sengaja wanita itu merebahkan kepalanya di bahu suaminya.


Akhir kini saatnya aku pergi dari kota yang indah ini, kota yang penuh kenangan. Dan akan menjadi kota yang sangat aku rindukan.


“Sayang, maukah berbagi kesedihan kamu. Biar hatimu tidak terlalu sedih,” pinta Edward dengan lembutnya.


“Apa hubby, mau mendengar ceritaku?”


“Pasti akan aku dengarkan, sayang,” jawab Edward, dengan mengelus rambut panjang wanita itu.


“Aku datang ke kota Yogyakarta karena dapat beasiswa di UGM. Dengan bekal beasiswa ini aku datang ke sini. Selain menjauh darimu hubby, di kota ini aku belajar bangkit kembali.......mengobati lukaku sendiri.”


Ada rasa tak enak di hati Edward, istrinya datang ke kota ini untuk mengobati luka akibat dirinya.


“Di sini aku belajar mandiri hubby, jauh dari papa dan mama. Mulai menyibukkan diriku dalam pendidikan dan belajar berbisnis. Jatuh bangun aku merasakannya, hubby.”


“Ya hubby, aku menjadi kuat dan tegar dengan sendirinya, semuanya karena keadaan.”


“Tapi hubby tahu tidak? ketika hubby masih terbaring koma, rasanya sedih ketika harus kembali ke sini, ingin rasanya menungguimu sampai sadar dari koma, namun apa daya ternyata Opa sudah memutuskan hubby pindah rumah sakit ke Australia. Dan aku harus kembali karena sudah mulai perkuliahan.”


“Saat itu aku benar-benar down dan sempat drop selama seminggu, memikirkan keadaan hubby yang sudah tak ada kabarnya. Entah masih hidup atau sudah tiada,” ujar Ghina pelan.


“Sayang, waktu Ferdi memperlihatkan rekaman  cctv rumah sakit, saat kamu mencium pipiku saat terbaring koma. Aku sangat bahagia, dan aku yakin saat itu kamu pasti menyukaiku. Kalau tidak suka pasti kamu tidak mencium pipiku.”


Ghina mendongakkan wajahnya, agar bisa melihat wajah tampan suaminya.


“Betulkan.......,” Edward kembali memastikannya.

__ADS_1


“Mmm......aku sempat menyukai suami kejamku ini,”


“Dan aku sangat mencintai istriku, yang menyimpan perasaannya sendiri,” Edward mengecup lembut kening Ghina.


“Aku berharap kamu jangan terlalu bersedih meninggalkan kota ini, kita akan sering-sering ke sini. Walau kita tidak menetap di Yogyakarta.”


“Dulu salah satu alasan  aku meninggalkan Jakarta ke Yogyakarta , agar jauh dari hubby. Tapi sekarang aku meninggalkan Yogya untuk kembali ke Jakarta karena hubby. Hidup itu kadang ada lucu ya, hubby,”


“Karena kamu hanya milikku seorang, sejauh kamu pergi jika pemiliknya aku...........ya akan kembali,” balas Edward dengan mencubit gemas hidung mancung istrinya.


“Kalau kata orang, sejauh kamu menjauh dan pergi kemana pun, jika sudah berjodoh pasti akan bertemu lagi, di saat waktu yang tepat. Berarti kedatangan hubby ke Yogya berarti di waktu yang tepat."


“Aku bahagia di kota Yogyakarta, akhirnya menemukan belahan jiwaku yang menghilang, dan bisa kembali memiliki belahan jiwaku ini. Buat kita berdua ini kota kenangan, di mana kita kembali berikrar dalam sebuah akad nikah. Dan tempat penyatuan kita berdua yang sangat indah. Kesedihanmu adalah kesedihanku, sekarang kita berdua sudah menjadi satu bagian. Dulu mungkin sayang datang ke Yogya penuh dengan luka, sekarang sayang pergi dari Yogya dengan membawa senyuman. Kamu sudah menjadi wanita yang hebat sayang, jadikanlah air mata sedihmu ini menjadi air mata kebahagiaan.”


Sesaat wanita cantik itu terpaku dengan semua kata kata yang di ucapkan oleh suaminya, begitu menyentuh.


Betul tutur kata suaminya, meninggalkan kota Yogyakarta dengan bibir yang tersenyum, hati yang bahagia. Apalagi dirinya sudah tidak sendiri lagi, sekarang wanita itu kembali berstatus menjadi istri yang utuh untuk suaminya Edward.


“Hapuslah air matamu, tersenyumlah istriku. Sekarang kamu tidak sendiri, genggam eratlah tanganku ini jangan pernah kamu lepaskan, jika sayang terasa sedih bersandarlah di bahuku. Bahu ini adalah milikmu untuk bersandar. Peluklah aku jika kamu sudah tak mampu berdiri lagi, biarkan aku membantu kamu kembali berdiri. Karena kamu adalah aku, aku adalah kamu.....kita adalah satu. Aku mencintaimu, istriku,” tutur Edward dengan tatapan hangatnya.


Air mata terharu terjatuh begitu saja di pipi Ghina, pria itu mengusap air mata yang jatuh di pipi Ghina dengan kecupan hangat dari suaminya.


“Aku juga mencintaimu, suamiku,” balas Ghina.


Meninggalkan kota kenangan dengan seseorang yang berarti, ternyata sangatlah indah. Datang dengan air mata kesedihan, pergi dengan air mata kebahagiaan.


Selamat tinggal kota Jogjakarta, suatu hari kami berdua atau bisa bertiga atau berempat akan kembali ke sini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2