
“Mbak akan selalu di samping dan selalu ada untuk Non Ghina, tapi jangan salahkan mbak jika suatu hari jika Non Ghina dapat perilaku yang fatal, terpaksa mbak akan menghubungi orang tua Tuan Besar!” tegas Ria.
Ghina hanya bisa mematung.
🌹🌹
Edward masih berada di ruang kerjanya bersama Ferdi di rumah sakitnya, di samping kesibukannya, hatinya terlihat tidak tenang. Sesekali menanyakan keadaan Ghina pada Ferdi.
Untuk malam ini dia menahan dirinya agar tidak kembali ke ruang rawat Ghina, untuk menjaga kewarasannya.
“Kamu sudah beli handphone yang saya minta.”
“Sudah Tuan, ini handphonenya,” tunjuk Ferdi paper bag yang ada di meja Tuannya.
Edward mengecek handphone tersebut, ternyata sudah di aktifkan. Lalu di simpan nomor ponselnya di handphone baru tersebut.
“Ini segera kamu antar ke kamar Ghina, sekarang juga!”
“Baik Tuan,” Ferdi undur diri untuk mengantar handphone tersebut ke Ghina.
Dertt.......Dertt......Dertt (ponsel Edward berdering)
Honey Calling
“Halo sayang......lagi ada di mana? Sudah malam belum pulang. Ibu dan Ayah menanyakan Kak Edward dari tadi. Aku gak enak loh dengan mereka, sudah jam 9 malam tapi Kak Edward belum ada di mansion.”
“Honey, malam ini saya tidak pulang ke mansion. Saya harus menemani Ghina di rumah sakit.”
“Sayang, di rumah sakit sudah ada Ria di sana. Jangan pakai alasan menemaninya. Atau jangan-jangan Kak Edward sudah kepincut dengan Ghina.”
“Jangan curiga dulu honey, ini hanya bentuk tanggung jawabku, bukan karena terpincut dengan Ghina. Dan saya di sini juga berjaga-jaga, kalau kedua orang tuaku tahu kejadian yang menimpa Ghina, akan berbahaya buat kita berdua.”
“Lalu aku harus bilang apa kepada ayah dan ibu?”
“Tinggal kamu bilang saja, saya sedang keluar kota ada urusan pekerjaan!”
“Baiklah akan aku sampaikan seperti itu, aku harap Kak Edward tidak jatuh cinta dengan Ghina. Ingat istrimu hanya diriku seorang, Ghina hanya tumbal buat bisa kita menikah, aku terpaksa menerima Ghina menjadi maduku. Tapi hanya sementara sebagai maduku.”
Ah sepertinya Kiren lupa, justru Kiren lah madunya Ghina!!! Tapi dia beranggapan dirinyalah istri pertama Edward.
“Akan ku ingat, honey.”
__ADS_1
Edward menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, sepertinya dia harus meluruskan hati dan tujuan menikahi Ghina.
“Permisi Tuan, Non Ghina tidak mau terima handphone ini. Saya di suruh mengembalikan kepada Tuan,” di letaknya kembali handphone baru ke meja kerja Edward, sungguh cepat Ferdi kembali dari kamar Ghina.
“Mau apa dia sebenarnya, sampai menolak pemberian saya. Sok sekali bocah itu,” geram Edward, bangkit dia dari kursinya.
“Maaf Tuan, non Ghina juga berpesan Tuan untuk tidak lagi mengunjunginya selama dia di rawat di sini. Jika Tuan sampai ke sana, Non Ghina mengancam akan bunuh diri.”
“Sialan, berani sekali dia mengatur saya!” Edward lekas berjalan.
“Tolong Tuan, ini rumah sakit....jangan buat keributan. Biarkan non Ghina tenang selama masa pemulihannya. Lagi pula Non Ghina tidak akan bisa kabur, penjagaan sudah ketat.” Ferdi menghadang Edward, walau bagaimana pun Ferdi sebagai laki laki iba melihat perlakuan tidak adil terhadap istri pertama Tuannya.
“Huffttt........!”
“Keluarlah.....saya ingin istirahat.” Edward menghentikan langkahnya, berbalik arah ke kamar pribadinya.
Perkataan Ghina akan bunuh diri, membuatnya dia teringat dengan tindakannya tadi siang, begitu beraninya ingin menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Edward melepaskan rasa penatnya dengan mandi malam di kamar pribadinya, lumayan lama mengguyur kepalanya dengan shower, seakan akan dirinya ini mendinginkan hawa panas yang berada di dalam tubuhnya.
Selesai mendinginkan tubuhnya dengan mandi, Edward menggunakan celana panjang dan kaos oblong berwarna hitam.Tubuh Edward terlihat machonya dengan kaos yang dipakainya. Merasa sudah segar kembali tubuhnya, Edward bergegas ke kamar Ghina, rupanya dirinya tidak bisa menahan untuk tidak menengok Ghina. Menghiraukan pesan dari Ghina.
“Selamat malam Tuan Besar,” sapa Denis yang standby di depan kamar Ghina.
“Baik Tuan, saya cek dulu,” Denis segera masuk ke kamar. Sedangkan Edward masih berdiri di luar pintu kamar.
“Non Ghina sudah tidur Tuan,” lapor Denis yang baru saja keluar dari kamar.
Mendengar Ghina sudah tidur, Edward bergegas masuk ke kamar dengan langkah pelannya hampir tidak menimbulkan suara, agar Ghina tidak terbangun.
Kedua netra Edward melihat Ria sudah tertidur di kamar kecil khusus pendamping pasien, tinggallah Ghina sendiri di ranjang.
Gadis cantik itu terlihat tertidur pulas, bagian pinggulnya sudah di sanggah bantal rupanya. Agar posisi tidurnya tetap miring.
Kedua netra Edward terlihat sendu, tidak seperti saat mereka bertemu penuh dengan kobaran api di kedua bola mata Edward. Salah satu tangan Edward menyibak rambut panjang Ghina yang menutupi wajahnya.
Dengan nalurinya dia kembali mengelus pipi mulus Ghina dengan jemarinya, menelusuri mata, hidung lalu bibirnya yang selalu menantangnya. Di usapnya dengan ibu jarinya, bibir berwarna merah muda alami.
Cup.....Cup......Cup
Bibir Edward tidak tahan jika tidak mengecup bibir Ghina, tanpa disadarinya dia terpikat dengan Ghina, namun selalu di tampiknya.
__ADS_1
Dibalik kamar kecil, Ria memergoki kelakuan Tuan besarnya, secara sembunyi dia memfotonya dan mengirim foto tersebut ke seseorang.
Lama memandang wajah cantiknya Ghina, Edward kembali ke ruang pribadinya untuk beristirahat malam ini.
Keesokan harinya.....
Jam 5 pagi Edward kembali mengunjungi Ghina di kamar rawatnya, dia berani masuk karena Ghina belum bangun. Tanpa berlama-lama dia mengecup kening dan bibir Ghina secara bergantian, lalu buru buru bergegas keluar kamar.
Dan lagi lagi hal itu kepergok Ria yang kebetulan habis menunaikan sholat Subuh, dengan ponselnya kembali dia merekamnya secara sembunyi lalu mengirimkan video tersebut ke seseorang.
Hari ini di kamar rawat inap Ghina terlihat damai, Ria beserta perawat begitu telaten mengurus Ghina, dari mulai menyeka tubuhnya, menggantikan pakaiannya sampai menyiapkan makanannya.
Edward hari ini bekerja dari kantor rumah sakitnya, dia masih tidak rela meninggalkan Ghina sendiri.
Di sela-sela kesibukannya di sempatinya dia ke cafe dekat rumah sakitnya, sekedar membelikan beberapa macam crosaint, cake potong, dan segelas macha latte...dia teringat apa yang pernah Ghina minum saat makan siang bersama di mall CP.
Lalu dia menyuruh Ria untuk mengambil makanan yang di beli di ruang kerjanya.
“Ria, kamu bawa ini ke kamar, serta kasihkan ke Ghina. Dan bilang ini kamu yang beli, jangan sampai bilang makanan ini dari saya,” ujar Edward.
“Baik Tuan, nanti saya berikan,” jawab Ria.
“Satu lagi, saat Dokter Irfan berkunjung.....kasih tahu saya lewat WA. Nanti saya akan telepon balik ke kamu,” titah Edward.
“Baik Tuan, kalau begitu saya pamit. Kasihan Non Ghina kalau lama sendirian di kamar.”
“YA.....silahkan. Ingat pesan saya tadi.” Edward mengingatkannya kembali.
Ria menganggukkan kepalanya, lalu bergegas keluar dari ruang kerja Tuannya.
Emang enak gak boleh nengok Ghina secara terang-terangan, bisanya hanya sembunyi saja. Lagian sudah punya istri pertama masih muda dan lebih cantik, malah di galakkin......orang tuh punya istri kayak Non Ghina di sayang sayang. Di tinggal Non Ghina baru dirasa deh. Ampun-ampun deh Tuan Besar matanya sudah buta!
.
.
bersambung
Terima Kasih buat Kakak Reader cantik dan ganteng yang sudah membaca novel receh ini, dan telah meninggalkan jejaknya like, vote, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, hadiah dan komentarnya. Semoga Kakak Reader selalu di berikan kesehatan.
Serta mohon maaf jika cerita yang saya buat kurang memuaskan, atau alurnya lambat dan sebagainya, mohon di skip dan tinggalkan saja ya Kakak Reader jika kurang berkenan 🙏🙏 😁😁😁.
__ADS_1
Love You sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹