
Rumah Sakit A.
Tiga mobil mewah milik Opa Thalib berhenti di lobby rumah sakit A. Enam orang ajudan berbadan tegak dan gagah dengan berjas hitam semua tampak keluar dari mobil urutan ke tiga. Langsung bergegas membuka pintu mobil pertama dan kedua, Opa Thalib. Oma Ratna dan Ghina serta Ria keluar dari mobil pertama. Sedangkan Papa Zaka dan Mama Sarah keluar dari mobil kedua.
Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian banyak orang yang berada di rumah sakit, apalagi Opa Thalib sangat terkenal sebagai pengusaha hotel berbintang, keuangan, property, pusat belanja yang sangat terkenal.
Serta kehadiran Ghina, gadis yang mencuri perhatian setiap orang yang melihatnya, tampak terpesona dengan kecantikan Ghina. Tanpa belajar khusus, langkah kakinya begitu anggun, tampilan sederhana tapi terlihat elegan, semuanya terpancar dari dirinya sendiri.
Ghina jadi bahan pembicaraan orang-orang yang pastinya karena berada di samping Opa Thalib sang pengusaha terkenal. Wajah Ghina hanya membalas tiap senyuman orang, dengan mengulas senyum ramahnya.
Ada beberapa pengunjung rumah sakit, mengenali Ghina sebagai model di majalah, langsung memintanya untuk foto bersama. Dan Ghina menyanggupinya dengan ramah.
“Halo, kakak cantik......yang ada di majalah ini ya. Boleh minta foto bareng?” tanya salah satu pengunjung rumah sakit, sambil menunjukkan majalah yang di pegangnya.
“Boleh, silahkan,” jawab Ghina ramah.
“Sumpah aslinya cantik banget, ngak pakai makeup tebal aja udah cantik, kayak orang bule. Mana langsing banget badannya, udah gitu ramah banget,” ucap beberapa orang, setelah berfoto ria dengan Ghina.
Opa Thalib dan Oma Ratna setia mendampingi Ghina, saat melayani beberapa orang untuk berfoto bersama.
“Ayo nak, kita sudah di tunggu sama dokternya,” ucap Opa Thalib.
“Iya, Opa.”
Sedangkan beberapa petugas rumah sakit siap menyambut kedatangan Opa Thalib dengan ramah, selaku orang tua pemilik rumah sakit.
Asisten Opa Thalib yang sudah duluan ke rumah sakit langsung mengarahkan ke ruang dokter yang di tuju, setelah Ghina menyelesaikan kegiatan dadakannya.
Para ajudan selalu berada tak jauh dari posisi Ghina, Opa Thalib sengaja membawa enam ajudannya karena menjaga dari kemungkinan jika Edward berada di rumah sakit.
Tanpa menunggu lama Ghina ditemani Mama Sarah dan Oma Ratna masuk ke ruang periksa, kebetulan bukan Dokter Irfan yang memeriksa Ghina, karena sedang melakukan operasi.
Ghina mengganti pakaiannya terlebih dahulu, agar mudah saat melakukan pemeriksaannya.
“Jahitannya sudah mulai kering ya, jadi hari ini saya cabut jahitannya,” ujar Dokter Shinta, saat memeriksa luka punggung Ghina.
“ Bu Dokter, kalau cabut jahitan sakit gak,” tanya Ghina, yang bikin bulu kuduknya mulai merinding.
“Gak terlalu sakit kok Non, sakitnya cuma sebentar, lalu hilang,” jawab Dokter Shinta
“Ya itu sama aja namanya sakit Bu Dokter,” udah membayangkan rasa ngilunya.
“Udah siap ya,” Dokter Shinta mengambil peralatannya.
__ADS_1
“Mama......mama.....sini mah.....aduh mam......Ghina takut nih,” kelakuan bocahnya kelihatan, ya sesuai umurnya.
Mama Sarah memeluk Ghina, agar dokter bisa langsung mencabut benangnya.
“Adaw.......adaw.......sakit Bu Dokter,” jerit Ghina, ketika mulai di cabut benangnya.
“Nah sudah selesai cabut benangnya. Sekarang luka bagian di keningnya ya,” ujar Dokter Shinta terkekeh melihat wajah Ghina yang terlihat lucu.
“Yang di kening mau di cabut benang juga Bu Dokter,” mulai cemas wajah Ghina, baru aja ngerasaiin cabut benang di punggung, sekarang bagian keningnya.
“Hanya memberikan obat dan mengganti perban saja.” kata Dokter Shinta.
“OOH..... baiklah,” pasrah Ghina. Sesuai yang di katakan Dokter Shinta hanya memberikan obat dan mengganti perban baru seukuran luka di keningnya.
“Sudah selesai nak, sekarang ganti bajunya,” pinta Mama Sarah.
“Nanti ibu bisa bawa putrinya langsung ke bagian dokter kulit dan spesialis kecantikan sudah di tunggu di ruang prakteknya,” ucap Dokter Shinta kepada Mama Sarah dan Oma Ratna.
“Baik Bu Dokter,” jawab serempak Mama Sarah dan Oma Ratna.
Tak selang berapa lama kemudian mobil mewah Edward datang, nampak Edward keluar dari mobilnya, masih terlihat gagah walau wajahnya memakai masker dan kaca mata hitamnya.
Para ajudan jalan di belakang Edward, terlihat aura dingin yang keluar saat Edward melangkah masuk ke rumah sakitnya.
“Sedang berada di ruang dokter kulit di lantai dua...” lapor Ferdi.
“Kita ke sana sekarang,” titah Edward. Mereka melanjutkan ke ruang praktek kulit.
Edward sepertinya menyiapkan mentalnya untuk bertemu Ghina di rumah sakitnya sendiri.
Ghina yang masih berada di ruang dokter kulit, tidak ada feeling jika hari ini dia akan bertemu dengan Edward di rumah sakit.
Ting......
Pintu lift rumah sakit terbuka di lantai dua. Dengan langkah kaki tegapnya membawa Edward menuju ruang dokter.
Dari kejauhan Opa Thalib melihat kedatangan Edward bersama asisten pribadi dan para ajudannya, senyum smirk terlihat di wajah Opa Thalib.
Para ajudan Opa Thalib juga bersiap-siap menerima kehadiran anak dari Tuan Besarnya.
Edward menghentikan langkahnya sekitar sepuluh meter, menahan dirinya untuk tidak terlalu mendekat ruangan yang sudah di jaga ketat oleh ajudan papanya.
“Stop, kita jangan mendekat dulu. Ghina masih di dalam ruangan,” interupsi Edward pada ketiga ajudannya.
__ADS_1
Opa Thalib dan Edward saling bersitatap dari kejauhan, bagaikan musuh bebuyutan.
Oma Ratna di susul Mama Sarah keluar dari ruang praktek, merasa heran kenapa semua orang berdiri di depan pintu ruang praktek dokter, termasuk Opa Thalib dan Papa Zakaria.
Papa Zakaria dan Mama Sarah wajahnya terlihat tidak suka dengan kehadiran Edward, rasanya mereka ingin membalas rasa sakit yang di dera anaknya Ghina kepada Edward.
Ghina terakhir baru keluar dari ruang praktek dokter kulit ikutan terheran. “Loh kok pada berdiri di depan pintu semua?” tanya Ghina heran.
Para ajudan Opa Thalib langsung bikin formasi untuk menjaga Ghina. Ghina yang merasa bingung, tiba tiba ikut menoleh ke sebelah kanan mengikuti semua orang.
Pandangan Edward langsung terkesima melihat Ghina, dengan penampilan berbeda.
GLEK
Edward menelan salivanya dengan kasar. Baru sehari gadis itu pergi dari mansionnya, sekarang dia semakin memesona, dan berdiri cantik tak jauh dari mata memandang.
“Om Edward,” ucap pelannya.
Tanpa sengaja Ghina menangkap sorot mata yang biasa dia sering lihat, mata elangnya yang begitu tajam.
Edward mulai melangkah di ikuti ajudannya, mendekati keberadaan Ghina.
Ghina masih berdiri tegak menatap Edward, sedangkan Opa Thalib dan Papa Zakaria sudah di garda depan untuk menghadang Edward.
“Papa, Bang Zaka....,” sapa Edward.
“Tidak usah memanggil saya papa lagi, kamu bukan anak saya lagi!’ sarkas Opa Thalib.
“Untuk apa kamu berada di sini?” tanya Opa Thalib.
“Papa tolong maafkan Edward, saya ingin membawa Ghina pulang Pah” mohon Edward.
“Semuanya sudah terlambat tidak ada gunanya, tidak ada ampun dan maaf untukmu. Dan Ghina tidak akan pernah kembali ke mansion nerakamu itu!” balas Opa Thalib.
“Edward mohon pah....... kembalikan istri Edward.”
.
.
next.......tak akan kembali
__ADS_1