
Satu tahun kemudian......
Yogyakarta
Setelah kepergian Edward ke Australia, sehari kemudian Ghina kembali ke Yogyakarta, melanjutkan perjalanan hidupnya.
Selama satu tahun pun Ghina tidak mendapatkan kabar tentang Edward masih koma kah? Atau sudah tiada, baik itu dari Opa Thalib atau dari kedua orang tuanya. Dan selama satu tahun pun Opa Thalib dan Oma Ratna tidak pernah menghubunginya, akan tetapi setiap bulan Ghina masih terima transferan sebesar lima puluh juta. Namun gadis itu tidak mau ambil pusing akan hal itu, jika harus memikirkannya.
Kegiatan Ghina sudah padat dengan jadwal perkuliahan, kerjaan orderan kuenya, lalu sanggar tari yang dia ikuti.
“Ghina, pesanan kuenya masih banyak nih?” tanya Rika, bestienya Ghina. Ternyata Rika diterima di kampus yang sama dengan Ghina melalui jalur ujian biasa, akan tetapi program studinya berbeda.
Awalnya Rika mau ngekost dekat kampusnya, tapi Ghina menawarkan untuk tinggal di rumahnya, apalagi masih ada kamar kosong. Dengan senang hati Tika menerima tawarannya Ghina, apalagi mama dan papanya Rika juga menyetujuinya, saat mengantar Rika ke Yogyakarta.
“Lumayan masih ada beberapa ini,” jawab Ghina, sambil menimbang bahan bahan kuenya sebelum di olah.
Sekarang Ria dan Rika turut membantu Ghina membuat cake, karena hampir setiap hari ada yang pesan cakenya. Dan gadis itu pun mengatur waktunya antara kuliah dan menjalankan usahanya.
“Ghin, kayaknya loe harus cari pegawai deh yang bisa bantuin loe. Kita berdua aja masih keteteran loh, atau di batasin aja terima pesanan cakenya,” ujar Rika.
“Gue juga lagi mikirin begitu Rik, gue pengen cari ibu-ibu di sekitar sini aja yang mau cari tambahan penghasilan. Tapi serius mau belajar bikin kue, atau memang sudah bisa bikin kue malah lebih bagus. Dan gue juga pengen cari tempat, buat buka toko kue....sekalian,” tutur Ghina.
“Wah otak bisnis loe emang lancar banget ya dari jaman sekolah. Kuylah gue dukung loe buat jalanin bisnis,” ujar Rika.
“Ya kalau punya impian, harus di coba, di jalani, di laksanakan.......bukan berdiam diri. Sama ajak cuma mimpi di siang bolong....,” jawab Ghina sambil mengulum senyum tipis.
“Keren memang Non Ghina, gimana gak banyak yang pesan kue, wong cake nya enak banget, rasanya kayak cake di toko kue Harvest,” sambung Ria yang lagi menyiapkan beberapa loyang cake.
Ria juga senang bisa kerja dengan nona mudanya, yang tidak pernah pelit dan baik hati, setiap membantu bikin pesanan kue, Ria pasti dapat upah, walau Ria sering menolaknya. Tapi tetap Ghina menghitung tenaga Ria, bisnis tetaplah bisnis yang harus di perhitungkan dengan jelas dan matang.
“Mbak Ria besok kalau lagi keluar belanja sayur, tolong tanyaiin ada ibu-ibu di sini mau kerja sampingan gak, kalau bisa sih yang terbiasa bikin kue,” pinta Ghina.
“Siap Non, besok mbak tanya- tanya sama ibu ibu di luar komplek, yang tinggal di gang sebelah....siapa tahu ada yang berminat,” jawab Ria.
“Thanks, mbak,” balas Ghina.
__ADS_1
Dalam kurun waktu satu tahun ini, gadis itu belajar menata hatinya, melupakan masa lalunya termasuk pria itu....ya siapa lagi kalau bukan Edward. Menyibukkan dirinya dengan kegiatan positifnya, mengapai impiannya.
Dan selama semester pertama dan kedua, gadis itu menjalankan perkuliahannya, sudah berapa banyak para seniornya mendekati dirinya, untuk di jadikan seorang kekasih. Namun sungguh di sayangkan semuanya gigit jari, karena sikap acuh dan cueknya Ghina, tidak pernah merespons mereka. Prinsip dirinya kuliah untuk belajar dan menimba ilmu, bukan mencari seorang kekasih.......
“Rika, nanti sore kalau gue udah rampung orderan, anterin gue keliling cari ruko dekat-dekat daerah sini saja.....mumpung kita lagi libur semesteran,” pinta Ghina.
“Asiaaappp bestie, saya siap mengantarmu walau sampai ke ujung dunia....” jawab Rika.
“IIIhhh........lebay banget,” Ghina tertawa kecil.
Mereka bertiga pun kembali sibuk dengan job masing-masing di dapur sesuai arahan Ghina. Secara tidak langsung Ghina berbagi ilmu kepada Ria dan Rika.
Kebahagiaan yang sederhana buat Ghina, menikmati kebersamaan dengan Ria dan Rika, walau ada rasa rindu dengan kedua orang tuanya yang jarang bertemu. Tapi semuanya harus di lalui.....
Lalu apakah ada rasa rindu kepada Edward??? Ghina hanya bisa menyelipkan doa dalam tiap sujudnya untuk pria itu, jika memang masih terbaring koma hanya minta disegerakan sembuh, jika memang sudah tidak ada di dunia ini hanya minta diberikan tempat yang terbaik di sisi Yang Maha Pencipta.
Hidup harus tetap berjalan..........semuanya akan berlalu.......
Ghina mengulum senyum tipis, merasakan hatinya sendiri.
🌹🌹
Sore hari......
Rika dengan mengemudikan motor maticnya dan membonceng Ghina, mereka berdua mulai berkeliling tidak jauh dari tempat tinggal Ghina, mencari ruko satu lantai yang disewakan.
Selama satu jam mereka berdua berhenti ke beberapa ruko yang kosong, dan mencatat nomor yang terpajang di tembok.
“Rika, kita mampir ke cafe dulu ya.......udah lama kita gak nongkrong,” ajak Ghina.
“Mmm.......boleh.....yuklah,” Rika langsung ngegas motor maticnya, meluncur ke cafe yang sedang booming di daerah Yogyakarta.
Sekitar dua puluh menit, motor Rika sudah terparkir di tempat parkir cafe.
Ghina langsung memilih tempat dekat jendela, biar bisa melihat ke arah luar.
__ADS_1
“Loe mau pesan apa?” tanya Rika yang sedang membaca menu.
“Gue mau minum macha latte sama crossaint isi sosis,” jawab Ghina, sambil memandang arah keluar.
“Yakin cuma pesan itu doang, biasanya suka banyak pesanannya,” ujar Rika, sambil melambaikan tangan untuk memanggil pelayan cafe.
“Itu aja dulu, nanti kalau gue masih lapar.......tinggal nambah lagi,” balas Ghina.
“Oke......deh.” Rika langsung menyebutkan pesanan mereka berdua saat pelayan menghampiri mereka berdua.
“Ghina.......,”
“Mmmm........,” gumam Ghina.
“Loe udah dapat kabar tentang suami loe....eh maaf maksudnya Om Edward?” tanya Rika.
“Mmm.......belum.....Rika please jangan ungkit atau sebut nama Om Edward lagi ya,” pinta Ghina.
“Ups sorry ya, gue hanya penasaran saja,” jawab Rika.
Rika sangat tahu bagaimana perjuangan bestienya memulihkan dirinya sendiri, sempat kondisi gadis itu drop selama satu minggu terlalu memikirkan kondisi Edward yang sudah tidak ada kabarnya. Dan untungnya kala itu Rika sudah berada di Yogyakarta, hingga bisa membantu Ria untuk mengurus Ghina.
Bangkit pelan-pelan, kembali memperjuangkan masa depannya. Dan kembali tersenyum menghadapi dunia.
Sambil menunggu pesanannya datang, Ghina mulai menghubungi beberapa nomor telepon yang tadi di catatnya, menanyakan berapa biaya sewa ruko tersebut.
“Ruko yang pertama sewa pertahunnya 20 juta, ruko yang ke dua 25 juta, ruko yang terakhir 20 juta,” gumam Ghina sambil membuat coretan di note miliknya.
“Lumayan mahal juga ya, padahal rukonya kecil ya,” ucap Rika.
.
.
bersambung
__ADS_1