Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Beli Handphone


__ADS_3

Di kamar 3×4 m, Ghina beristirahat, walau kamar tersebut khusus pelayan mansion tapi cukup layak untuk di tempati. Luasnya hampir sama dengan kamar di rumahnya. Tempat tidur ukuran 120x100cm, satu lemari pakaian, nakas serta kamarnya ber-AC. Sedangkan kamar mandi di luar.  Ini sudah cukup nyaman untuk dia tempati, walau jauh dari kata mewah saat dia menepati kamar tamu di mansion Edward.


Ghina mulai membongkar barangnya yang tersimpan di koper rusaknya, di raihnya dompet miliknya.


Dia celigak celiguk mencari seseorang, di luar kamar yang di tempati.


“Mbak Ria......!” panggil Ghina, pas melihat Ria keluar dari kamarnya.


“Ada apa Non?”


“Mbak Ria, bisa minta tolong?”


“Tolong apa Non?”


“Saya mau keluar sebentar, mau beli handphone. Bisa bantu saya pergi sebentar!”


“Mbak lihat keadaannya dulu ya Non, kalau aman......saya kabarin secepatnya.”


“Oke mbak.” Ghina kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ria mempercepat langkah kakinya agar segera masuk ke dalam mansion, dan mencari keberadaan Tuan Besarnya.


“Pak Jaka, Tuan Besar di mana?” tanya Ria.


“Baru saja Tuan berangkat pergi keluar sama Pak Ferdi, ada apa memangnya Ria?” tanya Pak Jaka.


“Non Ghina mau pergi sebentar, mau beli handphone, makanya saya cek dulu, Tuan masih di mansion atau sudah pergi keluar.”


“Kalau begitu, biar saya antar Ghina cari handphone, kasihan baru keluar dari rumah sakit,” tawar Pak Jaka.


“Ide yang bagus, yo wis tak samperin Non Ghina.”


🌹🌹


“Non Ghina, Tuan Besar sudah pergi. Non bisa pergi sebentar, Pak Jaka yang antar ya Non.”


“Pak Jaka, benar mau antar saya, tidak merepotkan?”


“Tidak merepotkan Non, mending kita berangkat sekarang. Sebelum Tuan Besar kembali ke mansion.”


“OKE Pak Jaka lets go, antar Ghina ke mall CP ya, sekalian Ghina ada keperluan di sana.”


“Baik Non.”


Dengan motor milik Pak Jaka, di antarnya Ghina ke mall CP sesuai permintaan Ghina.


Sesampainya di Mall CP, Pak Jaka tidak menemani Ghina. Dia menunggu di coffe shop yang berada di mall CP. Pikir Pak Jaka, Ghina akan merasa tidak nyaman jika berjalan dengannya.


Ghina langsung menuju counter handphone yang berada di lantai dua, butuh waktu setengah jam Ghina memilih handphone yang akan di belinya, tidak perlu yang mahal yang penting sesuai budget dan fungsinya.

__ADS_1


Akhirnya dia menjatuhkan pilihannya disalah satu merk handphone sejuta umat dan beserta nomor barunya, dengan harga dua juta dibayar menggunakan kartu debitnya, tabungan hasil jerih payah jualan kue dan honor sebagai model.


“Semoga kamu awet ya...!” gumamnya sendiri dengan handphone barunya.


Selesai urusan beli handpone, dia lanjut ke butik Tante Feby untuk konfirmasi nomor ponsel barunya, jika sewaktu waktu Tante Feby membutuhkannya.


“Ya Allah Ghina, panjang umur kamu nak. Tante menghubungi kamu kenapa susah sekali, apa karena sudah menikah dengan CEO jadi sudah di hubungi,” sapa Tante Feby langsung memeluk Ghina yang baru saja masuk ke dalam butiknya.”


“Maaf Tante Feby, handphone Ghina sudah beberapa hari rusak, ini baru saja beli. Jadi sekalian mampir ke sini buat kasih kabar. Memangnya ada apa tante?"


“Hari ini ada pemotretan, tapi klien tante maunya kamu yang jadi modelnya. Tapi berhubung kamu susah dihubungi, jadi tante bingung. Dan pas klien tante masih ada berada di mall ini sedang meeting. Bagaimana kamu bisa pemotretan hari ini dan mau ambil job ini, mumpun ada di sini?”


Ghina terlihat berpikir, ini peluang buat dia mengumpulkan pundi pundi bekal dia nanti kuliah.


Rezeki di depan matanya jangan di tolak!


“Boleh deh Tante, tapi Ghina makan siang dulu ya. Belum sempat makan," nyengir sambil pegang perutnya


“Tenang di dalam sudah tersedia nasi kotak, ya sudah kamu makan dulu di dalam. Setelahnya siap-siap ya. Thanks ya Ghina, ini memang rezeki kamu, yang tidak bisa di pindah tangankan.”


“Oke Tante Feby.”


Untung Ghina mencatat nomor ponsel Pak Jaka, jadi dia segera memberi kabar kalau dia akan pulang sendiri.


✉ Pak Jaka


✉Ghina


Maaf ya Pak Jaka, kalau memang bapak mau menunggu saya. Jangan lupa makan siang ya Pak, jangan gara gara nunggu saya, Pak Jaka lupa makan.


✉ Pak Jaka


Iya Non.


Setelah selesai menyantap makan siang, Ghina langsung di makeup, dan menggunakan gaun berwarna hitam yang sudah di siapkan. Dengan hati hati karyawan butik memakaikan gaun  tersebut agar tidak terlalu mengesek perban yang berada di punggungnya.


Di lain tempat, restoran di Mall CP


“Pengantin baru mukanya kok masam, apakabarnya sudah jebol belum si Kiren?” tanya Brandon.


“Aah loe pengen tahu aja, ya udah jebollah," balas Edward.


Edward yang tiba-tiba pergi dari mansion, setelah di ingatkan Fredi ada janji temu dengan Brandon di mall CP.


“Gimana rasanya, masih virgin gak istri loe?” selidik Brandon dengan pertanyaan konyolnya seputar malam pertama.


“YA...... masih perawan dong, gue mana pernah menyentuh dia selama pacaran. Lagi pula gue merasa pas masuk buat jebolin terasa susah.”


“Ada bercak da-rah gak di seprai saat malam pertama? kalau ada berarti loe benar benar dapat yang virgin. Jaman sekarang ada beberapa cewek tuh pada pintar buat nipu cowok, udah gak perawan, tapi bilangnya masih perawan. Mereka melakukan operasi selaput dara, agar seperti virgin lagi.”

__ADS_1


"Ya semoga aja istri loe.....Kiren, bukan tipe cewek begitu ya. Secara Kiren kan wanita yang lemah lembut, apalagi cantik dan sexy."


DEG


“Gue gak perhatiin......” sesaat Edward menghentikan makan siangnya dan coba mengingat ingat kejadian waktu malam pertamanya dengan Kiren.


“Ah sudahlah.......loe gak usah pikirin lagi. Lagian loe sudah nikah dengan kekasih hati yang paling di cintai kan,” ejek Brandon.


“Mmmm........,” gumam Edward, melanjutkan makan siangnya.


“Edward, selagi kita ada di sini temenin gue ketemu sama model gue yuk. Kebetulan pihak butiknya bilang  model pilihan gue tiba-tiba  datang. Padahal susah di hubunginya beberapa hari ini, gue merasa beruntung sekali,” ujar Brandon rekan bisnis Edward, sekaligus teman baiknya yang hadir di acara pernikahan Edward dan Kiren.


"Dan model yang gue pilih ini, lebih cantik dari istri loe....Kiren. Jadi gue harap loe gak tergoda kalau ketemu," senyum sinis Brandon


“Oke gue temeni loe, sekalian pengen tahu model pilihan loe, secantik apa sih.” Edward dan Brandon menyelesaikan makan siangnya terlebih dahulu.


Edward mengikuti langkah Brandon menuju arah Butik yang dia kenal, tanpa curiga dia turut masuk ke dalam. Dan di sambut oleh sang pemilik butik.


“Silahkan masuk Pak Brandon, modelnya sudah mulai sesi pemotretan di studio,” ucap Tante Feby.


“Ini-----!”


“Ini teman saya Edward,” sela Brandon, memperkenalkannya, pikir dia......Edward baru pertama kali ke Butik tersebut.


Tante Feby terlihat kagok “selamat datang Pak Edward.” Pura-pura baru mengenal Edward.


Edward hanya membalas dengan senyum tipisnya.


Karyawan butik mengantar tamunya ke studio yang berada di dalam butik Tante Feby.


Gadis cantik terlihat anggun bergaya, mengikuti arahan sang fotografer, tanpa di sadari gadis itu mata Edward menatap tajam ke arah gadis tersebut.



Sungguh munafik jika Edward tidak terpesona dengan kecantikan Ghina, hanya di poles makeup di wajahnya yang sudah cantik natural, semakin bertambah aura yang terpancar dari wajah Ghina.


🌹🌹


Kakak Readers yang cantik dan ganteng, terima kasih sudah mengikuti cerita novel Istri Yang Tak Dianggap. Di sini saya mau menjawab beberapa komentar dari kakak reader nih.


R : Kok lama amat terbongkarnya, terus kapan Opa menjemput Ghina?


S: Masalah terbongkar ada tahapnya. Opa Thalib selain menunggu waktu yang di janjikan, Opa juga menunggu pemicu konflik yang membuat Opa datang di saat konflik itu muncul, hingga akhirnya Ghina akan di bawa pergi dari Om Edward.


R : Kok lama amat, kapan Ghina sama Edward pisah?


S: jika berpisah tapi tidak ada kenangan yang mengena di hati Edward, rasanya rugi sekali. Di satu sisi Ghina tersakiti. Tapi Edward belum merasakan sakit di hatinya. Jadi mohon bersabar dulu, biarkan mereka berdua membuat kenangan yang akan selalu di ingat khususnya Edward, walau kenangan itu pahit.


Di bab berikutnya, akan lebih menguras emosi jiwa dan raga. Jadi tetap sabar menunggu ya Kakak Readers. Tanpa Kakak Reader apalah arti diriku 😊

__ADS_1


__ADS_2