
"Pak Jaka........non Ghina bagaimana?” Ria yang melihat kejadiannya, terlihat cemas.
“Non Ghina di kurung di gudang sama Tuan Besar.” Pak Jaka mengurut dadanya, baru kali ini melihat Tuan Besarnya murka dengan seorang wanita.
“Astaga....ya Allah.....gimana nih Pak Jaka.......kasihan non Ghina.”
“Apalagi saya, juga bingung mau menolong non Ghina. Ini juga Tuan Besar udah wanti wanti tidak boleh buka pintu gudang.”
“Ya Allah......kok jahat banget Tuan Besar.” wajah Ria terlihat sedih.
“Pasti ini berat buat non Ghina Pak, dia masih terlalu muda.....sudah dapat perlakuan kasar.....hiks...hiks.” Suara Ria mulai terdengar serak menahan rasa sedihnya. Dia masih ingat bagaimana Ghina kabur dari mansion untuk menjauh dari Tuannya, tapi takdir membawanya kembali ke mansion.
🌹🌹
“Ferdi di mana buku nikah saya dengan Ghina?” tanya Edward yang sekarang berada di ruang kerjanya.
“Sebentar Tuan, saya ambilkan dulu.” Ferdi segera ke lemari berkas yang berada di ruang kerja Edward, lalu mengambil 2 buku nikah milik Edward dan Ghina.
“Ini Tuan.....buku nikahnya,” diserahkannya kedua buku tersebut.
Diterimanya kedua buku tersebut, dan di simpannya dalam brankasnya.
“Tidak semudah itu kamu minta bercerai dari saya,” gumam Edward.
“Ada yang lain Tuan butuhkan,” tawar Ferdi.
“Sementara tidak ada, kamu bisa kembali bekerja."
“Baik Tuan, saya permisi,” pamit Ferdi.
“HAH......” Edward menghela napas panjang. DI tatapnya langit langit ruang kerjanya, memikirkan tindakan yang telah di lakukannya barusan terhadap Ghina.
Entah dorongan apa dia ingin menghukum Ghina, dan keinginan itu semakin menjadi jadi saat Ghina meminta bercerai.
__ADS_1
“Sayang.......ternyata kamu ada di sini,” sapa Kiren masuk ke ruang kerja tanpa mengetuk.
“Biasakan kamu mengetuk pintu saat masuk ruang kerja saya, walau kamu sudah berstatus istri saya,” tegur Edward.
“Maafkan aku sayang.....ya.” Kiren langsung duduk di atas paha Edward, ingin bermanja ria dengan suaminya.
“Honey, bangunlah ... saya sedang capek,” pinta Edward.
“Sayang ...aku kan ingin bermanja dengan suamiku.” Kiren mulai mengelus rahang Edward.
Edward menepis tangan Kiren “stop.....saya benar benar lelah, jangan sampai saya berbuat kasar denganmu.”
Dengan pasang wajah cemberut Kiren bangkit dari pangkuan Edward, lalu duduk di sofa.
“Sayang, kapan menceraikan Ghina, aku tidak mau ke dua orang tuaku tahu kalau di mansion ini ada istri Kak Edward selain diriku,” tegur Kiren.
“Kak Edward sudah berjanji setelah kita menikah, akan menceraikan Ghina secepatnya. Aku harap Kak Edward menepati janji itu ”
Edward kembali mengingat janjinya kepada Kiren, kedua tangan Edward terkepal kuat setelah mendengar kembali kata cerai dengan Ghina.
“Terima kasih sayang, oh iya tadi Ghina kenapa? Aku istrimu loh, harus tahu segalanya.”
“Kamu tidak perlu tahu urusan saya dengan Ghina, sebaiknya kamu temani ke dua orang tuamu. Tidak enak di tinggalkan begitu saja.”
“Sebenarnya aku masih ingin bersamamu sayang, aku masih kangen,” kata Kiren dengan suara manjanya.
“Keluarlah, saya butuh sendiri!” usirnya secara halus.
“Ya sudahlah kalau begitu,” Kiren terpaksa keluar dari ruang kerja Edward dengan wajah kesalnya.
Edward menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, mencerna kejadian hari ini.
🌹🌹
__ADS_1
Jam 7 malam......
Edward, Kiren beserta ke dua orang tuanya menyantap makan malam bersama di ruang makan, sambil berbincang santai.
“Nak Edward ... ayah mau menawarkan bagaimana kalau kamu investasi ke usaha ayah yang ada di Bandung, prospeknya lumayan bagus,” tawar Ayah Bowo sambil menyantap makanannya.
“Sebelum saya menginvestasikan, biasanya akan ada team saya yang akan melakukan riset terlebih dahulu. Jika menguntungkan saya akan menanamkan modal, tapi jika hasilnya tidak menguntungkan maka saya menolak tawaran bisnis tersebut.”
Sungguh teliti sekali menantuku, sepertinya agak sulit untuk di ajak kerja sama. Padahal sangat menguntungkan punya menantu kaya, bisa mendompleng bisnisku di Bandung agar berkembang besar.
“Ya nak Edward, paling tidak kamu beri perlakuan khusus untuk mertuamu sendiri tanpa melakukan hal-hal formal tersebut ketika berbisnis. Lagi pula kita sudah jadi keluarga, jadi wajarlah menantu membantu mengembangkan usaha ayah mertua,” jawab Ayah Bowo.
“Untuk masalah bisnis tidak ada kata keluarga atau saudara Yah, semuanya harus di perhitungkan. Dari pada rugi, lebih baik saya sumbangkan ke panti yatim piatu,” jawab telak Edward buat ayah mertuanya.
“Saya sebagai menantu ayah dan ibu, tiap bulan akan saya kirim dana 50 juta. Saya harap ayah dan ibu bisa menerimanya.”
“Loh kok sedikit amat nak Edward, kenapa kasihnya dikit sekali. Padahal usaha dan kekayaan kamu banyak loh,” celetuk Bu Sari tanpa sadar terkesan matre.
“Iya Sayang, kenapa buat ayah dan ibu sedikit sekali dana bulanannya, setahuku perusahaan kita.....omsetnya milyaran tiap bulannya. Paling tidak berikan tiap bulanannya 300 juta,” ujar memelasnya Kiren.
“Apakah kamu minta dinikahi, karena hartaku?” tanya Edward, seketika berhenti menyantap makan malamnya.
Edward sudah sering kali bertemu dengan wanita yang mendekatinya karena memiliki wajah yang rupawan dan harta yang berlimpah. Sedangkan awal hubungannya dengan Kiren, dia merasa menemukan wanita yang berbeda....tak sekali pun menuntut di belikan ini atau itu, masih sewajarnya, tidak matre dan benar benar tulus mencintainya dari hati.
Di benak Edward malam ini, hatinya jadi mengganjal ternyata wanita pilihannya yang menjadi istrinya hampir sama dengan wanita yang bisa mendekatinya. Sebenarnya Edward tipe pria yang sangat royal kepada keluarganya, tapi untuk pasangan, dia masih penuh perhitungan. Sepertinya hati dia belum benar benar yakin.
“Eeeh bu—bukan karena harta sayang, aku memang benar benar mencintaimu. Maafkan aku...,” Kiren agak ke gelagapan saat di tuding masalah harta.
“Berapapun yang sayang berikan untuk kedua orang tuaku, aku sudah bersyukur sekali. Walaupun itu bukan kewajiban Sayang memberikan nafkah buat ayah dan ibu, ini sebagai tanda bakti dari Sayang,” jawab manis Kiren untuk menutupi masalah uang yang di minta.
“Untukmu uang nafkah dari saya tiap bulan 150 juta, saya harap kamu bisa memanage uang tersebut untuk dirimu sendiri. Karena untuk urusan mansion dan semuanya, saya yang atur dan yang mengeluarkan dananya,” tegas Edward.
Kiren langsung terdiam, mendengar jatah bulanannya 150 juta, dan itu di utarakan di depan ayah ibunya. Sungguh malu dirinya sebagai istri CEO pemilik beberapa hotel dan perusahaan, uang belanjanya hanya 150 juta sebulan. Bagaimana dia mau beli barang-barang branded, dan ikutan grup sosialita kalangan atas. Bagaimana dia menghadapi teman teman kerjanya, yang sudah tahu dia di nikahkan oleh atasan mereka, tapi baju yang dikenakannya tidak bermerk terkenal.
__ADS_1
“Kenapa Honey, kamu tidak terima uang bulanan yang saya berikan, apa kurang cukup?” tanya Edward sambil menaikkan alisnya.
“Mmmm......kurang sayang,” jawab enteng Kiren.