
Oma Ratna sudah menangis meraung raung dalam dekapan Opa Thalib. Kedua adik Edward, Derby dan Celia juga sudah datang ke rumah sakit bersama suaminya masing-masing, setelah mendapat kabar dari Ferdi tentang keadaan kakak mereka.
Sekarang suasana kamar rawat VIP begitu menyedihkan dan pilu, tidak ada yang tidak menangis.
“Papa....Mama,” sapa Derby, yang melihat kedua orang tuanya berpelukan sambil berurai air mata.
“Derby, kakakmu........hiks....hiks,” jawab Oma Ratna. Derby dan Celia langsung memeluk Oma Ratna. Berbagi kesedihan, mencoba saling menguatkan walau kenyataannya harapan tipis.
“Derby, gak sangka Kak Edward akan begini. Papa kenapa bisa?..hiks...hiks..” isak Derby.
“Ferdi yang lebih jelas tahu kejadiannya,” balas Opa Thalib.
Ferdi menceritakan kronologi kejadian kepada Derby dan Celia, yang kebetulan ada pihak polisi yang ingin mengetahui kondisi Edward sebagai korban, sekaligus interogasi Ferdi sebagai salah satu saksi. Hingga Derby dan Celia ikut menyimaknya.
“Sungguh keterlaluan Kiren, gak menyangka selama ini terlihat sosok wanita yang lemah lembut, ternyata hatinya busuk dan kejam,” ujar Celia.
“Pantas saja papa tidak menyetujui Kak Edward menikahi Kiren, ternyata tak lebih seperti wanita murahan hanya ingin harta kakak aja. Malang sekali nasib mu Kak,” Derby menghela napas panjang setelah mendengar semua cerita Ferdi beserta melihat bukti rekaman di handphone Ferdi.
🌹🌹
“Papa, Zakaria dan Sarah sudah di kasih tahu kabar Edward? Walau bagaimana pun Edward masih menantu mereka?” tanya Oma Ratna yang masih terisak-isak.
“Belum Papa kabari ke mereka, mah,” jawab Opa Thalib.
“Sebaiknya kabari mereka,” pinta Oma Ratna.
“Baiklah, Papa akan kabari sekarang.” Opa Thalib langsung merogoh ponselnya dan menghubungi Zakaria, papanya Ghina.
“Assalamualaikum Zaka,” sapa Opa Thalib ketika panggilan telepon sudah tersambung.
“Walaikumsalam Om Thalib,” jawab Papa Zakaria.
“Zaka, jika hari ini ada waktu kamu ajak Sarah ke rumah sakit A,” pinta Opa Thalib.
“Om Thalib sedang di rawatkah?” tanya Papa Zakaria.
“Bukan saya yang di rawat,” hening sejenak. “Edward kritis!!”
__ADS_1
Papa Zakaria tersentak kaget mendengarnya “s-saya sekarang ke sana Om.” Jawab papa Zakaria, tanpa melanjutkan pembicaraannya lagi.
Oma Ratna kembali menangis, meratapi nasib putranya Edward.
“Mama, sudah jangan menangis lagi. Ingat kesehatan mama sendiri, sekarang kita sebagai orang tua banyak berdoa saja. Papa juga sudah menghubungi dokter yang terbaik dari Australia, untuk membantu menangani Edward,” Opa Thalib mencoba menguatkan hati istrinya, walau tak bisa dipungkiri hatinya juga sedih.
Satu jam kemudian........
Di depan ruang ICU.
Papa Zakaria sudah memeluk Opa Thalib, begitu pun Mama Sarah memeluk Oma Ratna.
“Zaka, Sarah.....tolong maafkan anak saya Edward jika selama ini menyakitkan anak kamu Ghina,” ucap Opa Thalib.
“Kami sudah memaafkan Edward. Semoga Om Thalib dan Tante Ratna diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini,” jawab Papa Zakaria, lalu mengurai pelukan mereka.
Sekarang mereka berempat menatap Edward dari kaca yang berada di ruang ICU. Mama Sarah merangkul bahu Oma Ratna yang kembali terisak.
“Om, kenapa bisa kritis Edward?” tanya Papa Zakaria.
Kelanjutannya Ferdi yang menjelaskannya pas begitu tiba di depan ruang ICU, Papa Zakaria dan Mama Sarah hanya bisa mengelus dada ketika diceritakan kronologisnya.
“Zaka, Sarah......untuk masalah perceraian antara Edward dan Ghina terpaksa tidak dilanjutkan dulu. Kondisi Edward sedang kritis, antara hidup dan mati. Kami mau fokus untuk kesembuhan Edward, kalau Allah masih mengizinkan Edward sadar kembali,” ucap Opa Thalib sedikit lemas.
“Kami paham Om Thalib, sebaiknya ditunda dulu. Untuk masalah pengurusan perceraian tidak usah dipikirkan dulu. Biar Om dan Tante bisa fokus ke Edward,” jawab Papa Zakaria. Mama Sarah menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Rasanya tidak pantas ada keluarga yang sedang mendapatkan kemalangan, di tuntut mengurus hal yang lain. Sedangkan yang di hadapi sekarang tentang nyawa seseorang, itulah yang ada di benak Papa Zakaria sekarang.
Papa Zakaria kembali menoleh ke arah ruang ICU, sungguh miris melihat keadaan Edward, menantu yang pernah menyakiti putrinya, sekarang berbaring dalam keadaan tidak sadarkan diri.
“Zaka......,” panggil Opa Thalib.
“Bolehkah Ghina diberitahu kondisi Edward?” tanya Opa Thalib.
“Saya tidak tahu, sampai kapan kondisi Edward bisa bertahan. Jika di izinkan, saya akan menyuruh orang menjemput Ghina, untuk melihat suaminya untuk terakhir kalinya. Sebelum semuanya terlambat....,” ujar Opa Thalib, kepalanya sesaat menengadah ke atas, menahan air matanya keluar.
Papa Zakaria bergeming mendengar permintaan Opa Thalib.
__ADS_1
“Zaka, saya tidak meminta Ghina kembali rujuk dengan Edward. Saya hanya meminta Ghina menjenguknya saja, tidak lebih,” lanjut Opa Thalib berucap, meyakinkan Papa Zakaria.
“Saya setuju jika Ghina mau datang, tapi jika Ghina menolaknya......saya tidak bisa memaksanya. Om Thalib sudah tahu bukan keinginan Ghina,” balas Papa Zakaria.
“Kalau begitu kita coba hubungi Ghina sekarang,” ucap Opa Thalib.
Papa Zakaria mengeluar handphone, langsung menghubungi anaknya.
“Assalamualaikum Ghina,” tanpa menunggu lama panggilan telepon telah tersambung.
“Walaikumsalam Pah,” jawab Ghina.
“Ghina, papa mau kasih tahu ada hal yang mendesak di Jakarta. Sekiranya sore ini kamu bisa ke Jakarta tidak? nanti ada orang dari Opa Thalib yang akan menjemput kamu,” ujar Papa Zakaria.
“Ada apa ya Pah, kok mendesak sekali? Apa yang terjadi di rumah?” tanya Ghina.
“Papa tidak bisa menjelaskan nak lewat telepon, karena keadaan sedang genting. Papa hanya minta waktumu sehari atau dua hari di Jakarta, setelahnya kamu bisa balik ke Yogyakarta. Lagi pula perkuliahan kamu belum dimulaikan?”
“Belum mulai sih Pah, memangnya Papa gak bisa jelaskan lewat telepon aja, Ghina jadi penasaran nih. Atau mama lagi sakit Pah?” balik bertanya.
“Papa akan menjelaskannya setibanya kamu di Jakarta, papa akan menjemputmu di bandara. Sekarang bergegaslah berkemas, bawa baju seperlunya saja,” pinta Papa Zakaria.
Papa Zakaria memutuskan tidak menjelaskan maksud permintaannya, biarkan jadi tanda tanya anaknya sendiri, yang terkesan memaksa untuk datang ke Jakarta. Ketimbang memberi kabar yang kurang baik, akan menjadi pikiran buat gadis itu selama perjalanan..
“Ya Pah, Ghina siap-siap dulu,” terdengar nada malasnya, karena rasa penasarannya belum terjawabkan.
“Oke nak, nanti sekitar satu jam lagi ada karyawan Opa Thalib yang jemput di sana,” ucap Papa Zakaria, sesuai kode dari Opa Thalib yang sedang menghubungi karyawannya yang berada di Yogyakarta.
“Ya, Pah.” Ghina memutuskan panggilan telepon dari papanya.
“Ada apa ya di Jakarta, kok papa kasih tahunya mendadak begini ya, mudah-mudahan tidak terjadi hal yang buruk di Jakarta. Tapi jadi gak enak rasanya di dada,” gumam Ghina sembari mengambil beberapa baju di lemari untuk dibawanya.
Berulang kali gadis itu mengatur napasnya, agar detak jantungnya kembali normal. Agar tidak lagi berdebar-debar kencang.
Wahai hatiku tenanglah sedikit, semoga tidak ada hal yang buruk di Jakarta.
__ADS_1