
Brandon menelan salivanya kasar, lalu menatap Rafael sejenak, kemudian beringsut dari duduknya, melangkah menuju meja Ghina. Tatapan Rafael terlihat heran......
“Ghina........,” sapa Brandon.
Mendengar namanya di panggil, Ghina kembali mendongakkan wajahnya, dan sedikit mengingat-ingat wajah pria tampan yang memanggil namanya.
Pria ini bukannya yang pernah ketemu di butik Tante Feby.......datang sama Om Edward.
“Pak------,” Ghina masih berpikir keras, mengingat namanya.
“Saya......Brandon, kita pernah ketemu di butik Bu Feby, kamu pernah menjadi model produk perusahaan saya,” Brandon membantu mengingatkan gadis itu.
Rika hanya bisa bengong melihat pria tampan yang menghampiri meja mereka.
Sumpah demi apa, ini sudah kedua kalinya pria tampan menghampiri Ghina. Pake pelet apa nih temen gue........
“Nah......iya......maaf Pak Brandon, saya baru teringat,” jawab Ghina, dengan mengulum senyum tipis.
Enak aja si Rafael bilang Ghina calon bidadari surganya. Gue duluan yang pertama ketemu, calon gue yang menghilang ini......akhirnya ketemu di sini.
“Jangan panggil saya Pak, kesannya terlihat tua,” pinta Brandon.
“Lebih sopan panggil Pak, karena bapak memang lebih tua dari saya,” balas Ghina.
“Ya sudah kalau begitu, kamu di Yogya sedang liburankah?” selidik Brandon.
“Iya Pak Brandon, saya lagi liburan di sini, sekalian berkunjung ke rumah Rika,” jawab bohong Ghina, sambil menatap ke arah Rika.
“Kalau Pak Brandon sedang liburan juga?” tanya balik Ghina.
“Kebetulan sedang perjalanan bisnis,” jawab Brandon.
“Kira-kira boleh ikut bergabung dengan kalian berdua, tapi kalau gak boleh gak pa-pa kok,” pinta Brandon dengan sopan.
“Mmm.........,” gadis itu masih berpikir.
“Silahkah Pak Brandon,” sahut Rika tanpa menunggu persetujuan Ghina lagi. Dengan senang hati Brandon menggeser kursi kosong yang berada di samping Ghina, lalu mendaratkan bokongnya ke kursi tersebut.
Wajah Ghina sudah tersenyum kecut, melihat Rika. Sedangkan Rika hanya memelet lidahnya ke Ghina.
“Oh iya Pak Brandon, perkenalkan ini teman saya Rika,” ujar Ghina.
Brandon mengulurkan tangannya, dan disambut oleh Rika.
“Bagaimana kalau saya traktir sekalian makan malam di sini, mumpung kita bertemu di sini, hitung-hitung ucapan terima kasih dari saya, kamu bersedia menjadi model saya setahun yang lalu,” tawar Brandon.
__ADS_1
“Sebenarnya tidak perlu ditraktir, hal itu sudah berlalu Pak Brandon,” tolak halus Ghina.
“Kali ini tolong jangan menolaknya, Ghina,” ucap Brandon dengan mengular senyum hangatnya.
“Baiklah, kalau Pak Brandon memaksa,” terpaksa menerima tawaran Brandon.
Brandon lantas memanggil salah satu pelayan cafe, kemudian memesan beberapa makanan.
“Hmm......pindah duduk Bro?” tegur Rafael yang tak sabar menunggu temannya balik ke meja mereka. Nyatanya teman yang ditunggunya sedang duduk nyaman dengan calon bidadari surganya.
“EEEhhhhh sorry Bro......,” jawab Brandon sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Ghina, kenalkan ini teman saya.....Rafael,” ujar Brandon, memperkenalkan Rafael.
“Ya.......” jawab singkat Ghina, tanpa berjabat tangan, dan melirik sebentar kepada Rafael. Lagi pula tadi mereka sudah bertemu, dan sudah menolaknya.
“Boleh teman saya ikut bergabung, kasihan dia tidak ada temannya,” ucap melas Brandon.
“Oh silahkan Pak Brandon,” jawab Rika. Lagi dan lagi Rika mempersilahkan dua pria itu, bergabung dengan mereka berdua. Wajah Ghina mulai masam.
Rafael merasa senang, akhirnya bisa ikut bergabung di meja Ghina, dan duduk di samping Rika, yang berhadapan dengan Ghina. Rafael tersenyum hangat menatap wajah Ghina, sungguh puas menatapnya.
Oh Rika, loe memang benar benar keterlaluan kali ini
Ketika mereka menyantap makan malam bersama, sesekali Brandon dan Rafael mengajukan pertanyaan kepada gadis itu, dan di jawab ala kadarnya saja, tidak berlebihan, hanya sepantasnya saja. Lagi pula gadis itu baru mengenal mereka, aneh jika tiba-tiba sok akrab.
“Pak Brandon, terima kasih atas traktirannya. Kami berdua pamit pulang dulu,” ucap Ghina, selesai makan gadis itu memutuskan untuk pamit, tidak mau berduduk lama demgan kedua pria tersebut.
“Biar saya antar kalian pulang ke rumah,” tawar Brandon.
“Tidak perlu Pak Brandon, teman saya bawa kendaraan,” tolak Ghina.
“Baiklah saya juga terima kasih banyak, di beri kesempatan untuk makan malam bareng kamu. Mungkin lain kali kita bertemu lagi di Jakarta, bagaimana cara saya bisa menghubungimu?” pancing Brandon agar dapat nomor ponsel Ghina.
“Pak Brandon, bisa menghubungi saya.......Om Rafael sudah tahu nomor ponsel saya,” langsung di jawab Rika. Wajah Ghina mulai terlihat bete dengan sikap Rika.
“Mmmm.......baik kalau begitu,” kecewa Brandon. Begitu juga Rafael, tetap tidak dapat nomor ponsel gadis yang mereka sukai.
“Saya harap bisa bertemu kamu lagi,” ucap Rafael, yang masih menjabat tangan Ghina.
Saya akan mengejarmu........batin Rafael
“Insha allah,” jawab Ghina datar, dan melepas jabat tangan Rafael.
Ghina dan Rika meninggalkan cafe dan meluncur pulang ke rumah.
__ADS_1
“Jadi Ghina itu foto model?” tanya Rafael.
“Ya....... Ghina fotomodel di Jakarta, tapi sayangnya dia tidak mau masuk ke agency. Dia pilih-pilih job, padahal secara talenta dia bisa jadi model yang terkenal,” jawab Brandon.
“Lebih baik Ghina tidak masuk agency, akan banyak pria yang mengejarnya nanti.”
“Termasuk kita berdua,” balas Brandon.
“Maksud loe?” tanya Rafael.
“Ghina, wanita yang selama ini gue cari, bolak balik ke butik hanya mencari informasinya. Gue jatuh cinta pada pandangan pertama, saat gue pertama kali bertemu,” jujur Brandon.
“Gue harap kita bersaing secara sehat, Bro!!” seru Rafael sambil menepuk bahu Brandon.
🌹🌹
“Aduh Rika.........loe bener-bener keterlaluan....pakai mengiyakan mereka berdua gabung dengan kita tadi, gue gak suka loe kayak begitu!” ucap kesal Ghina.
Ghina sudah berada di kamar, Rika ikutan nimbrung di kamar Ghina sebelum matanya mengantuk. Gadis itu buru-buru membersihkan badannya di kamar mandi dan mengganti pakaiannya dengan daster rumahan.
“Apa salahnya sih Ghin, kita berkenalan.....lagi pula loe kan sudah kenal sama Pak Brandon.”
“Yaa........kenal sebentar doang Rika, waktu di butik tante Feby. Hanya kenal, tidak ngobrol. Dan loe tahu gak Pak Brandon waktu itu datang bersama Om Edward, berarti mereka saling kenal.”
"Oooh....... jadi Pak Brandon kenal dengan Om Edward," ujar Rika kaget.
“Loe jadi cewek juga jangan lenje....genit-genit begitu. Kurangilah yang kayak begitu, gak enak gue ngelihatnya,” ketus Ghina.
“Ya udah jangan sewot lagi dong bestie....lagi pula juga udah terjadi. Sorry ya......,”
"Lain kali jangan begitu, gue gak suka!!!" tegur Ghina.
“Sorry ya kalau bikin tersinggung nih. Gue mau nanya, apa loe lagi menjaga marwah sebagai istri Om Edward, hingga tidak mau berdekatan dengan pria lain?”
DEG
Sebagai Istri Om Edward.
“Saya sudah berpisah dengan Om Edward selama setahun, tanpa diberikan nafkah lahir dan batin. Secara tidak langsung Om Edward sudah menjatuhkan talak satu walau tidak terucapkan langsung, biar lebih yakin.....nanti kita tanya ke Ustadz. Lagi pula sebelum ada kejadian menimpa Om Edward, proses perceraian sudah ada........tapi tertunda. Dan sekarang hanya fisik akte cerai saja yang belum saya terima,” ungkap Ghina.
**sedikit membahas tentang talak satu, pengalaman di keluarga saya sendiri, suami saudara pergi meninggalkan istrinya, dan tidak menafkahi secara lahir batin lebih dari tiga bulan....malah sampai lebih dari setahun, sudah jatuh talak satu dari suami walau tidak terucapkan(ini di perkuat oleh petugas KUA) tapi belum resmi cerai secara hukum karena belum diurus. Kemudian beberapa tahun mau rujuk, mereka akad nikah ulang (karena di sarankan oleh ustadz seperti itu).
Kalau beda pemahaman, mohon maaf ya....hanya sekedar share aja.....karena lihat langsung 🙏😊
__ADS_1