Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Dapat kabar


__ADS_3

Pagi yang indah buat jiwa-jiwa yang sedang di mabuk asmara. Edward sangat bahagia ketika membuka matanya melihat ada istrinya. Wanita itu menyiapkan air hangat untuk pria itu mandi dan tidak lupa menyiapka baju kerjanya. Karena hari ini pasangan suami istri ini harus segera beraktivitas ke Hotel A, merampungkan pekerjaan sebelum benar-benar meninggalkan kota Yogyakarta.


“Hubby maaf ya, aku gak sempat masak buat sarapan, aku bangunnya kesiangan gara-gara hubby.”


“Gak pa-pa sayang  kalau tidak sempat, lagian Ria pasti sudah buatkan kita sarapan.” Wajah pria itu semakin cerah, setelah bertempur dengan istrinya semalam.


“Ayuk hubby ke bawah, kita sudah kesiangan,” ajak Ghina, sambil merapikan kemeja dan jas yang melekat di tubuh suaminya.


Edward  mengecup kening istrinya, kemudian menggenggam tangan Ghina, agar sama-sama melangkahkan kaki.


“Selamat pagi Tuan, Nyonya,” sapa Ferdi yang baru saja masuk kembali ke dalam rumah sambil membawa piring bekas makannya. Dan terlihat di balik punggung Ferdi ada Ria yang mengikuti Ferdi sama sama membawa piring bekas makannya.


“Wah Pak Ferdi sama Mbak Ria kompak nih, sama-sama bawa piring,” ujar Ghina sedikit menggoda Ria dan Ferdi.


“Habis sarapan bareng di halaman belakang, Nyonya,” jawab malu-malu Ria, segera mengemasi piring kotor miliknya dan milik Ferdi.


Sedangkan Edward melirik sekilas ke Ferdi, sambil menyeduh susu promil buat istrinya.


“Wah romantis juga sarapan pagi di halaman belakang, hubby kapan-kapan kita sarapan di halaman belakang ya kayak Pak Ferdi sama mbak Ria,” guyon Ghina, membuat Ria dan Ferdi salah tingkah.


“Sarapan di halaman depan juga oke, ketimbang di halaman belakang kok sayang,” sahut Edward, dengan mengular senyum tipisnya.


“Besok pagi ya hubby,” balas Ghina dengan senyuman melirik Ria, yang sedang terlihat sibuk menyiapkan sarapan buat Tuan dan Nyonya-nya, sedangkan Ferdi entah apa yang sedang di lakukan di balik pintu lemari pendingin, seperti mencari barang di dalamnya.


Sedangkan Edward dan Ghina sudah menahan geli lihat reaksi Ferdi dan Ria yang mulai salah tingkah.


“Sudah sayang jangan godaiin mereka berdua, sekarang sayang sarapan kemudian minum susunya dan minum vitaminnya,” pinta Edward dengan lembutnya.


“Makasih hubby,” balas Ghina, mereka  berdua menikmati sarapannya dengan sedikit menjaili Ferdi dan Ria yang keberadaannya tak jauh dari mereka.


Derrt........Derrt........Derrt


Handphone Edward yang berada di meja makan berdering.


Papa  calling

__ADS_1


“Assalamualaikum Pah,” sapa Edward, menghentikan makannya sesaat.


“Waalaikumsalam Edward, apakabarnya?” tanya Opa Thalib.


“Baik Pah kabarnya.”


“Nak sepertinya kalian berdua harus kembali ke Jakarta, hari ini juga,” pinta Opa Thalib.


“Kenapa hari ini juga Pah, bukankah kami sudah berjanji akan kembali ke Jakarta setelah kami berdua pulang dari honeymoon dari Bali,” jawab Edward.


“Mama kamu tiba-tiba sakit nak, mama minta kamu sama Ghina pulang ke Jakarta hari ini juga. Masalah honeymoon, bisa di tunda dulukan,” pinta Opa Thalib.


Edward sedikit melirik istrinya yang sedang menyantap sarapannya.


“Baik Papa, Edward sama Ghina akan segera ke Jakarta hari ini juga,” jawab Edward tanpa bertanya lagi Oma Ratna sakit apa dengan papanya.


“Kamu pulang pakai jet pribadi papa aja, biar cepat  dan tidak  menunggu lama kalau pakai penerbangan komersial,” pinta Opa Thalib.”


“Iya Pah.”


Edward mengakhiri panggilan telepon dari papanya.


“Iya sayang, mama sakit......papa minta hari ini kita kembali ke Jakarta,” ujar Edward.


“Sayang, honeymoon kita ke Bali terpaksa di tunda dulu gak pa-pakan?” Edward takut Ghina kecewa karena pembatalan rencana honeymoon mereka.


“Lebih utama orang tua hubby, apalagi Oma lagi sakit, pasti butuh perhatian dari anak-anaknya. Sedangkan masalah honeymoon atau jalan-jalan itu bukan hal yang penting. Lagi pula hubby selalu di samping aku, itu sudah  seperti honeymoon kok.”


“Tapi sayang tidak kecewakan?”


“Tidak kecewa hubbyku....suamiku, kalau begitu aku kemasi baju dulu setelah makan,” jawab Ghina, kembali mengelus lengan kekar suaminya.


“Terima kasih atas pengertianmu sayang, dan tidak usah bawa banyak baju sayang, nanti di Jakarta, aku akan beli kan baju buat kamu. Bawa baju seadanya aja. Terus minta Ria turut berkemas juga, takutnya kita akan lama di Jakarta,” pinta Edward.


“Iya hubby, nanti aku kasih tahu ke mbak Ria. Sekarang hubby habiskan sarapannya, jangan sampai perut kosong, nanti malah jadi sakit,” pinta Ghina, melihat piring suaminya masih terisi.

__ADS_1


Edward kembali menyantap sarapannya, Ghina yang sudah menyelesaikan sarapannya, bangkit dari duduknya dan menghampiri Ria yang masih berada di dapur.


“Mbak Ria hari ini kita akan kembali ke Jakarta, mbak Ria ikut ke sana jadi berkemas ya. Terus isi kulkas di keluarkan saja, sayur daging, ayam, buah di kasih ke satpam aja. Takutnya kita akan lama di Jakarta, kalau ditinggalkan lama malah semua isi yang ada di kulkas busuk semua,” ujar Ghina.


“Baik Nyonya, nanti mbak keluarkan isi kulkasnya,” Ria bergegas ke lemari pendingin, yang isinya masih terlihat penuh karena habis belanja.


“Mbak Ria kalau tetangga sebelah rumah mau terima stock punya kita, kasih aja ya mbak,” ujar Ghina yang melihat stock di lemari pendingin masih banyak, gak mungkin di kasih ke satpam semuanya. Lebih baik di bagi ke tetangga.


“Sayang, susunya belum diminum loh,” panggil Edward dengan menunjukkan gelas yang berisi susu coklat buatan pria itu.


“E-eh iya hubby, sampai lupa,” Ghina kembali menghampiri suaminya, dan langsung menegak susu promilnya.


“Hubby berarti kita tidak jadi ke hotelkah?”


“Kita tunda dulu ke hotel, sayang, tapi kamu koordinasi by phone aja dengan calon pengganti kamu di hotel,” pinta Edward.


“Pasti aku akan menghubungi Ani untuk masalah keuangan hotel hubby.”


“Aku percaya sayang pasti bisa menghandle dari jarak jauh,” yakin Edward dengan kemampuan istrinya.


“Makasih hubby, tapi nanti sebelum ke bandara, kita mampir toko kue aku ya By. Mau titip toko dulu sama karyawanku di sana. Terus mau bawa cake buat keluarga kita di Jakarta,” pinta Ghina.


“Iya istriku, nanti kita mampir dulu ke toko kamu.”


“Hubby, aku ke atas dulu ya mau kemasi barang dulu,” pamit Ghina.


“Iya sayang, baju aku tidak usaha di kemasi ya sayang, buat di sini saja,” teriak Edward, melihat istrinya sudah naik tangga.


“Iya hubby.” Sahut Ghina, yang sudah berada di lantai atas.


“Ferdi....,” panggil Edward.


“Iya Tuan,” Ferdi yang sedang membantu Ria mengeluarkan isi lemari pendingin, langsung menghampiri tuannya.


“Kamu hubungi pihak maskapai untuk penerbangan kita ke Jakarta.” Perintah Edward.

__ADS_1


“Baik Tuan, segera dilaksanakan.” Dapat perintah dari tuannya, Ferdi segera menghubungi seseorang lewat handphonenya. Sedangkan Edward, koordinasi dengan direktur hotelnya melalui handphonenya. Walau bagaimanapun seorang presdir tetap mengontrol dan mengawasi bisnisnya agar tetap berjalan dengan baik.


bersambung


__ADS_2