Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap

Penyesalan Suami : Istri Yang Tak Dianggap
Pembicaraan antara Ibu dan Anak


__ADS_3

Yogyakarta


Ghina, Rika dan Ria sedang berada di ruko yang Ghina sewa, memang betul dugaan Rika waktu itu, ketika ingin survei ruko......para pemilik ruko langsung terpesona melihat wajah Ghina serta suara lembut tapi terdengar tegas, hingga rela memberikan discount 50%. Hingga akhirnya Ghina bisa memilih tempat yang lumayan strategis, dan tidak jauh dari rumahnya. Jadi jika harus bolak-balik, tidak akan terlalu melelahkan. Cukup hanya dua puluh menit saja jarak tempuhnya dengan menggunakan kendaraan.


Gadis itu tersenyum puas melihat toko kuenya sudah di tata rapi setelah dibantu oleh beberapa tukang yang dia perkerjakan. Toko Kue dengan desain sederhana, sebagai awal gadis itu melebar bisnisnya.


Sekarang gadis itu berdiri di luar toko kuenya, menikmati pemandangan tokonya, yang beberapa hari lagi dia resmi buka...


Terima Kasih Ya Allah, Engkau mempermudah diriku untuk membangun impianku. Terima kasih Opa.....dengan uang pemberian Opa, aku bisa punya modal mewujudkan mimpiku.


Rika merangkul bahu Ghina, tersenyum hangat. Sama sama memandang toko kue, Rika ikut berbangga pada temannya..... masih muda tapi sudah bisa mewujudkan mimpinya.......walau kisah rumah tangganya gagal di usia muda.


“Terima kasih Rika, loe udah banyak membantu gue,” ujar Ghina.


“Sama sama, gue gak bantu banyak kok........hanya bantu bikin kue aja,” nyengir Rika.


“Bisa aja loe.......,” Ghina membalas dengan senyum manis.


“Udah jangan lama-lama tunjukkin senyum manis loe, nanti gue lama-lama bisa naksir ama loe, Ghin!” Seru Rika.


“Aissh........jangan bikin gue illfeel deh,” canda Ghina. Mereka berdua pun tertawa bersama.


 


🌹🌹


Australia


Jika dalam sebulan full Ghina sibuk dengan menyiapkan toko kuenya, beda cerita dengan kondisi Edward yang dalam sebulan penuh menjalankan terapi di rumah sakit, memulihkan kesehatannya.


Hari ini pria itu berdiri tegap di halaman belakang mansion milik Opa Thalib, menikmati sinar matahari pagi.


“Pagi, nak,” sapa Oma Ratna, sambil mendaratkan bokongnya di kursi yang ada di halaman belakang.


“Pagi mam,” balas Edward.


Salah satu pelayan mansion menghantarkan teh hangat beserta kue, untuk di nikmati oleh Tuan dan Nyonya-nya.

__ADS_1


“Bagaimana badanmu sudah enak untuk di gerakkan,” tanya Oma Ratna sambil menyesap teh hangatnya.


“Sudah lebih baik mah,” jawab Edward sambil mengikuti mamanya, duduk bersama dan menikmati teh hangat.


“Nak, mama bersyukur akhirnya kamu bisa melewati masa kritis kamu, dan kembali pulih kesehatannya,” ujar Oma Ratna.


“Iya mah, terima kasih selama Edward koma.......mama dan papa selalu ada di sisi Edward,”


“Hal itu sudah seharusnya nak, kami orang tuamu, tidak mungkin kami tidak mengurusmu. Itulah kasih sayang orang tua terhadap anaknya, tidak ada batasnya. Mama harap kamu juga seperti itu terhadap mama dan papa,” jawab Oma Ratna.


“Iya mam, Edward akan mengingat hal itu.”


“Nak, kamu harus ingat dengan kesembuhan ini tandanya Allah berbaik hati, memberikan kamu kesempatan untuk hidup di dunia ini, untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Kiren yang telah melukai kamu sudah mendapatkan hukumannya, dan kamu juga harus ingat.......semua perbuatan pasti ada balasannya. Seperti yang kamu alami dulu, tanpa kamu sadari, bisa jadi akibat kamu melukai punggung Ghina. Ingat gak tuh kejadiannya!”


DEG


Raut wajah Edward berubah seketika, mengingat luka punggung Ghina gara-gara perbuatannya.


“Edward sangat ingat mah,” rasa takut pria itu ketika Ghina tergeletak di lantai gudang, dengan darah di bagian punggungnya. Lalu rasa cemasnya saat gadis itu belum juga siuman........pria itu masih bisa merasakannya.


Tiba-tiba pria itu tersenyum tipis, manakala teringat dirinya mencuri kesempatan untuk bisa memeluk dan mencium bibir gadis itu, akan tetapi wajah pria itu kembali masam, ketika rasa bencinya kembali datang.


Edward menolehkan wajahnya ke arah lain, saat Oma Ratna menatapnya.


“Sepertinya saat mama menyebutkan nama Ghina, wajahmu terlihat masam......apa kamu tidak menyukai Ghina,” selidik Oma Ratna.


Tidak ada jawaban yang terlontar dari mulut Edward.


“Baguslah kalau kamu tidak menyukai Ghina, tidak mencintai Ghina. Berarti keputusan untuk bercerai, memang sudah seharusnya terjadi,” sambung Oma Ratna.


Edward tampak terdiam.


“Andai kamu tahu dan melihat sendiri.....Ghina jatuh tak sadarkan diri saat menemuimu di ruang ICU!!!” ucap Oma Ratna.


Oma Ratna tidak sanggup menahan kebenaran yang ditutupi Opa Thalib, jika Ghina pernah datang menjenguk Edward.


DEG.....DEG.....DEG

__ADS_1


Edward langsung menolehkan kepalanya, menatap Oma Ratna “maksud mama........Ghina pingsan di ruang ICU, Ghina datang mah, temui Edward. Dan tahu Edward kritis!!” cecar Edward penasaran, yang selama ini berprasangka jika Ghina tidak pernah datang menengoknya.


“Oh......jadi kamu pengen tahu juga. Pikir mama kamu tidak pengen tahu. Lagi pula buat apa mama cerita. Hampir tiap hari mama dengar kamu teriak-teriak bilang benci dengan Ghina di dalam kamar......ck!” decak Oma Ratna.


Edward menundukkan kepalanya, ternyata teriakannya terdengar sampai ke telinga mamanya.


“Apa kamu marah, karena Ghina tidak mengurusmu nak selama kamu kritis? Apa kamu berharap Ghina akan mengurusmu...... seperti itu? Padahal sebelum kejadian kamu terluka, Ghina sudah mengajukan perceraiannya dan kalian juga sudah berpisah!"


Ya aku ingat surat pengadilan sudah di terima......


“Mama jadi pengen tertawa, dulu kamu kejar Ghina sampai ke rumah sakit......ingin menjemputnya kembali. Sekarang kamu membenci Ghina.


Memangnya Ghina salah apa sama kamu, seharusnya yang kamu benci itu Kiren yang telah berbuat jahat dengan kamu, bukan Ghina. Justru Ghinalah korban kekejaman kamu. Semoga saja Ghina sudah melupakan kamu selama satu tahun ini dan sudah menemukan calon suami yang baru.”


DEG.......DEG


Calon suami baru........


“Maksud mama apa? Edward sama Ghina belum resmi bercerai, saya belum pernah menalak Ghina,” jawab Edward agak panas mendengar kata calon suami baru.


“Edward secara agama, seorang istri yang tidak di beri nafkah lahir dan batin lebih dari tiga bulan berturut-turut.....apalagi ini sudah setahun, secara tidak langsung sudah jatuh talak satu. Dan istri jika tidak ridho, bisa gugat suaminya ke pengadilan.”


Edward menyugar rambutnya, dan sedikit menjambak rambut bagian belakangnya.


“HAH.............!” Edward menghirup oksigen dalam-dalam......lalu menghembuskannya.


Oma Ratna memperhatikan mimik wajah putranya.


“Perbaikilah pribadimu nak, tatalah hidupmu lebih baik, antara kamu dan Ghina sama-sama berhak bahagia dan menemukan pasangan yang tepat. Jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran. Mama hanya bisa berdoa, semoga kelak kamu menemukan cintamu yang sesungguhnya, pasangan hidup yang betul-betul kamu cintai.”


Kedua netra Edward mulai berkaca-kaca, rasa hatinya mulai tak menentu. Semua perkataan Oma Ratna benar-benar memojokkan dirinya, dan semuanya adalah benar. Begitu egois dirinya berharap lebih dengan Ghina, sedangkan dia telah menoreh luka terlebih dahulu.


Pria itu merasa bersalah telah membenci Ghina tanpa alasan yang tepat, justru Ghina-lah yang seharusnya membencinya dirinya.


Ya Allah.....masih bisakah kami di pertemukan kembali.


__ADS_1


 


__ADS_2