
Pria itu menaruh Ghina dia atas closed “mau aku bantu bukain celananya?” tawar Edward sambil mengantungkan kantong infusan ke tiang yang tersedia di kamar mandi.
“Aku coba buka sendiri, Om?” jawab malu Ghina.
“Yakin bisa turunin celananya sendiri, kamu kan belum bisa membungkuk, honey.”
Benar juga yang di ucapkan Edward, untuk membungkuk saja agak nyeri punggungnya.
“Tapi Om matanya di tutup ya,” pinta Ghina, dari pada mengompol di celana.
“Ya aku tutup mata,” jawab Edward, sebelumnya memegang celana Ghina terlebih dahulu.
Ghina memerhatikan mata Edward yang sudah terpejamkan, tangan Edward mulai menurunkan celana piyama istrinya.
“Balik badan Om,” pinta Ghina.
Edward langsung balik badan sesuai permintaan Ghina, dan wanita itu segera menyelesaikan hasratnya yang ingin keluar. Wanita itu rasanya malu ketika buang hajat kecil di temenin sama orang lain, walau itu suaminya sendiri. Tapi apa daya sudah keadaan.
“Sudah belum honey?” tanya Edward, pengalaman pertama buat pria itu menemani orang lain ke dalam kamar mandi, tapi pria itu senang karena merasa dibutuhkan oleh istrinya sendiri.
“Sebentar Om , aku bilas dulu.”
Edward masih setia menunggu, “udah Om sekarang balik badan, tapi matanya di tutup ya,” pinta Ghina.
“Iya, honey.......,” Edward langsung menutup kedua matanya, dan membalikkan badannya. Tangan Ghina mulai menuntun tangan Edward ke celana piyamanya, agar memudahkan Edward untuk menaikkannya.
“Sudah selesai,” Edward membuka matanya.
“Sekarang waktunya babyku cuci muka dan sikat gigi,” pria itu mulai membasuh wajah Ghina, kemudian memberikan sikat gigi.
“Makasih Om,” rasanya pagi ini wanita itu dimanjakan oleh Edward.
“Honey, mau aku mandiin gak?”
“APA.........!” kedua netra Ghina membelalak. Pria itu mengedipkan kedua matanya.
“Gak usah macam-macam deh Om,” jawab ketus Ghina, wanita itu buru-buru menyikat giginya. Edward terkekeh kecil, kemudian ikutan menyikat giginya di samping Ghina.
Selesai urusan di kamar mandi, Ghina minta di papah saja oleh Edward ke ranjang, wanita itu tidak mau di gendong oleh Edward, padahal pria itu sudah siap siaga untuk mengendongnya kembali.
“You make me happy, honey,” ucap Edward, ketika memapah istrinya.
“Ah yang benar.....,?”
“Aku berasa mengurus istri, menjadi suami siaga buatmu, honey.”
“OOh dikiraiin, apaan.”
“Mau duduk di ranjang atau disofa?” tawar Edward.
“Duduk di sofa aja Om, tapi tolong kasih bantal di bagian punggung bawah,” pinta Ghina.
“Ok.......istriku,” dengan sigap Edward mengambil bantal untuk menganjal bagian punggung bawah.
Setelahnya Edward mengurus sarapan untuk istrinya dan dirinya.
__ADS_1
“Pagi Bu, Pak.....,” sapa dokter dan perawat yang baru saja masuk ke ruang rawat.
“Pagi juga Dokter,” jawab Ghina.
“Waktunya ganti perban yang di kepala dan terapi yang punggung ya Bu,” ujar Dokter.
“Silahkan Dokter,” jawab Edward memberi ruang untuk Dokter agar bisa memeriksa Ghina.
Dengan cekatan sang dokter memeriksa luka jahitan yang ada di kepala Ghina. Kemudian beralih ke punggung untuk melakukan terapi dengan alat pemanas, agar peredaran darah yang ada dipunggung berjalan lancar. Melihat punggung putih mulus Ghina, membuat Edward susah menelan salivanya. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana ingin rasanya pria itu mengecup seluruh punggung istrinya.
Sekitar dua puluh menit terapi sudah selesai. “Dokter, kira-kira kapan istri saya bisa pulang?” tanya Edward.
“Nanti sore akan saya cek kondisi istri bapak kembali, kalau sekiranya sudah agak membaik, bisa pulang. Tapi selama seminggu harus melakukan terapi dulu untuk cederanya, biar cepat sembuh.”
“Baik Dokter, semoga sore ini istri saya bisa di rawat di rumah saja.”
“Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Dokter dan perawat.
“Terima kasih, Dokter,” ucap Ghina.
🌹🌹
Siang Hari...
TOK.........TOK..........TOK
“Om kayaknya ada yang datang,” ucap Ghina, sambil menyentuh bahu Edward.
“Sebentar aku buka pintunya,” Edward membuka pintu kamar rawat.
Tatapan Edward terlihat tidak suka siapa yang mengetuk pintu. Rahang pria itu mulai mengeras kembali.
“Saya ingin menjenguk Ghina,” ujar pria itu yang masih berdiri di depan pintu.
Mendengar suara pria tersebut, Ghina sangat mengenalnya “Mas Rafael......”
Tanpa menunggu izin dari Edward, Rafael sedikit mendorong tubuh kekar Edward, yang masih menghalangi dirinya untuk masuk ke dalam.
“Ghina....,” sapa Rafael, di kedua tangan pria itu terlihat memegang buket mawar merah dan paper bag makanan.
Edward buru-buru menyusul ke dalam.
Ghina terlihat cemas melihat kedatangan Rafael, apalagi raut wajah Edward terlihat mulai emosi kembali.
“Masih berani kamu mencari istri saya!” Tegur sinis Edward.
“Ini buat kamu, aku bawa makanan kesukaan kamu, Ghina” Rafael meletakkan barang bawaan di meja depan sofa. Dan sepertinya Rafael menghiraukan teguran Edward.
“HEI......sepertinya kamu tidak mendengar ya!!!” Edward naik pitam sampai meraih kerah kemeja Rafael.
“Wow......slow Bro jadi orang jangan emosian dong!!” balas Rafael langsung menepis tangan Edward yang sudah menarik kerah kemejanya.
“Om Edward,.....Mas Rafael tolong jangan bertengkar lagi, ini rumah sakit!!” tegur Ghina.
Edward langsung melepaskan tangannya yang masih mencengkram kerah kemeja Edward.
__ADS_1
“Lagian mas Rafael ngapain kesini?” tanya Ghina, kecewa dengan pria yang sudah di anggapnya teman selama tiga tahun.
Dengan tatapan sinis ke Edward, pria itu mendaratkan bokongnya ke sofa.”Saya hanya ingin menjenguk, dan ingin tahu keadaanmu,” jawab santai Rafael.
“Cih.......alasan, bilang saja kamu ingin merebut istri saya!!” celetuk Edward kesal.
“Kalau iya memangnya kenapa!!” Biar saya sekalian jadi pebinor, merebut istri orang yang pernah di sia-siakan!!” tantang Rafael dengan sikap tenangnya.
BRAK!!
Tangan besar Edward menggebrak sekencang mungkin meja yang ada di hadapannya.
“Breng-sek kamu Rafael!!!” geram Edward sudah tersulut emosi dengan tantangan Rafael.
“OM.....,” Ghina langsung meraih tangan Edward, dan menggenggam tangan suaminya.
“Terima kasih Mas Rafael telah menjenguk saya, tapi sebaiknya Mas Rafael pergi dari sini, dan sepertinya kita tidak bisa berteman lagi mulai sekarang.” ucap Ghina, sekuat tenaga wanita itu mempererat genggamannya, agar Edward bisa meredam emosinya.
“Sepertinya kamu lupa Ghina, siapa pria di samping kamu!! Dulu saja kamu bisa di duakan, apalagi nanti.......kamu pasti akan di duakan kembali!!”
“Tutup mulut kamu Rafael!” Edward meradang.
“CK......kamu menyuruh saya tutup mulut. Bagaimana dengan kamu, yang tiba-tiba mengejar Ghina setelah kamu tahu keberadaannya, karena sudah bercerai dengan Kiren. Lucu kamu Edward, kamu jadikan Ghina hanya sebagai istri cadangan. Andaikan Kiren sosok wanita yang baik, apakah kamu akan mengejar Ghina. Pastinya tidakkan!!!.....malah kamu akan tetap menceraikan Ghina sebagai istri!!” ujar Rafael dengan tenangnya.
DEG
Ghina melepaskan genggaman tangannya. Seketika itu juga Edward menoleh dan melihat perubahan wajah Ghina.
“Ghina, saya bebagai temanmu, hanya memberitahukan agar lebih waspada kepada pria yang berstatus suamimu. Setelah dia mendapatkan apa yang diinginkan, pasti dia akan mencampakkanmu. Sudah ada contohnya, dia mencampakkan Kiren begitu saja, padahal saya tahu bagaimana dia sangat mencintai Kiren!!”
“BRENG-SEK KAMU RAFAEL!!”
BUG
Edward melayangkan kembali bogemannya ke wajah Rafael.
Rafael mengusap luka baru yang diberikan Edward disudut bibirnya, “Oh.......ternyata kamu takut ya jika perkataanku itu benar!!!”
“Ingat Ghina, aku akan menunggu status janda kamu!!” ujar Rafael tegas dengan tatapan membara ke Edward.
bersambung
Dear Kakak Reader yang cantik dan ganteng terima kasih atas dukungannya selama ini, dan setia mengikuti dari bab awal sampai bab ini. Tanpa dukungan Kakak Reader apalah arti novel ini.
Tapi pagi ini saya agak down, setelah baca ada yang memberi rate buruk, dan komentar yang kurang mengenakkan di rate tersebut. Dan terpaksa saya hapus. Sebenarnya saya menerima komentar apapun baik itu kesannya baik atau buruk, karena bisa buat semangat saya. Cerita ini mungkin tidak bisa memuaskan semua kakak readers, tapi paling tidak jika tidak suka, mohon tinggalkan saja, jangan di lanjut bacanya.
Dan satu lagi kemarin sempat baca karya baru di NT, yang ceritanya hampir mirip Edward dan Ghina, please buat yang bikin karya baru jangan plagiat dong. Menulis itu butuh energi, dapat uangnya juga hanya recehan. Tidak seperti author yang sudah femes. Sedih rasanya ketika ada yang plagiat, tambal sulam kisah Edward dan Ghina 😭😭. Buat yang ketemu, mohon info ke saya ya Kak karena bacanya hanya sekilas.
Ahhh maafkan saya yang tiba-tiba curhat ya Kakak Reader....
Next stay tune ya Kakak Readers nanti akan ada give away lagi. Dan jangan lupa mampir ya ke kisah Erick dan Alya di Pinjam Rahim Istri Ketiga.
Berkat Kakak Reader semua sudah hampir dua bulan Edward dan Ghina masuk rangking, semoga Kakak Readers sehat selalu.
Love you sekebon 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1